Tampilkan postingan dengan label komunikasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komunikasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Juli 2010

Presentasi yang Efektif

0 komentar

Teknik Berkomunikasi dan Presentasi yang Efektif merupakan keterampilan dan kemampuan inter disipliner yang mutlak dikuasai baik oleh para pejabat dan staf di lembaga pemerintah maupun bagi para eksekutif di perusahaan dalam mewujudkan misi pelayanan sesuai visi dan misi lembaga / perusahaannya.

Ada beberapa macam tipe presentasi, antara lain adalah :

Informasi : menyampaikan suatu informasi baru kepada audience dengan harapan audience akan mengetahui dan memahami topik yang dipresentasikan, mis: workshop, seminar, kuliah, dsb.
Persuasi : bertujuan untuk mengubah perilaku atau kebiasaan dari audience, misalnya: kampanye, penyuluhan narkoba, dsb.
Entertaining : bertujuan untuk menghibur peserta, berusaha agar peserta tetap memperhatikan kita.

Aplikasi yang paling populer dipakai untuk melakukan presentasi adalah Microsoft Office Power Point. Berikut tips dan trick presentasi efektif dengan PowerPoint agar audiens tertarik menyimak hingga acara presentasi berakhir :

Baca selengkapnya...

Minggu, 16 Mei 2010

7 TEKNIK PROPAGANDA

0 komentar

1. Name Calling, teknik memberikan label buruk pada sesuatu gagasan/orang/lembaga supaya sasaran tidak menyukai atau menolaknya.

2. Glittering Generality, teknik menghubungkan sesuatu dengan ‘kata yang baik’ dipakai untuk membuat sasaran menerima dan menyetujui sesuatu tanpa memeriksa bukti-bukti.

3. Transfer, teknik membawa otoritas, dukungan, gengsi dari sesuatu yang dihargai dan disanjung kepada sesuatu yang lain agar sesuatu yang lain itu lebih dapat diterima.

4. Testimoni (kesaksian), teknik memberi kesempatan pada orang-orang yang mengagumi atau membenci untuk mengatakan bahwa sebuah gagasan atau program atau produk atau seseorang itu baik atau buruk.

5. Plain Folks, teknik propaganda yang dipakai pembicara propaganda dalam upaya meyakinkan sasaran bahwa dia dan gagasan-gagasannya adalah bagus karena mereka adalah bagian dari ‘rakyat’.

6. Card Staking, meliputi pemilihan dan pemanfaatan fakta atau kebohongan, ilustrasi atau penyimpangan, dan pernyataan-pernyataan logis atau tidak logis untuk memberikan kasus terbaik atau terburuk pada suatu gagasan, program, orang, atau produk. Teknik ini memilih argument atau bukti yang mendukung sebuah posisi dan mengabaikan hal-hal yang mendukung posisi itu. Argument-argumen yang dipilih bisa benar atau salah.

7. Bandwagon, teknik ini digunakan dalam rangka meyakinkan kepada sasaran bahwa semua anggota suatu kelompok (di mana sasaran menjadi anggotanya) menerima programnya, dan oleh karena itu sasaran harus mengikuti kelompok dan segera menggabungkan diri pada kelompok.

(disadur dari buku The Fine Art of Prapaganda, Alfred McClung Lee & Alizabeth Briant Lee, 1939)
Baca selengkapnya...

Teori-teori Komunikasi

0 komentar

1. Teori Model Lasswell

Salah satu teoritikus komunikasi massa yang pertama dan paling terkenal adalah Harold Lasswell, dalam artikel klasiknya tahun 1948 mengemukakan model komunikasi yang sederhana dan sering dikutif banyak orang yakni: Siapa (Who), berbicara apa (Says what), dalam saluran yang mana (in which channel), kepada siapa (to whom) dan pengaruh seperti apa (what that effect) (Littlejhon, 1996).

2. Teori Komunikasi dua tahap dan pengaruh antar pribadi

Teori ini berawal dari hasil penelitian Paul Lazarsfeld dkk mengenai efek media massa dalam kampanye pemilihan umum tahun 1940. Studi ini dilakukan dengan asumsi bahwa proses stimulus bekerja dalam menghasilkan efek media massa. Namun hasil penelitian menunjukan sebaliknya. Efek media massa ternyata rendah dan asumsi stimulus respon tidak cukup menggambarkan realitas audience media massa dalam penyebaran arus informasi dan menentukan pendapat umum.

3. Teori Informasi atau Matematis

Salah satu teori komunikasi klasik yang sangat mempengaruhi teori-teori komunikasi selanjutnya adalah teori informasi atau teori matematis. Teori ini merupakan bentuk penjabaran dari karya Claude Shannon dan Warren Weaver (1949, Weaver. 1949 b), Mathematical Theory of Communication.

Teori ini melihat komunikasi sebagai fenomena mekanistis, matematis, dan informatif: komunikasi sebagai transmisi pesan dan bagaimana transmitter menggunakan saluran dan media komunikasi. Ini merupakan salah satu contoh gamblang dari mazhab proses yang mana melihat kode sebagai sarana untuk mengonstruksi pesan dan menerjemahkannya (encoding dan decoding). Titik perhatiannya terletak pada akurasi dan efisiensi proses. Proses yang dimaksud adalah komunikasi seorang pribadi yang bagaimana ia mempengaruhi tingkah laku atau state of mind pribadi yang lain. Jika efek yang ditimbulkan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, maka mazhab ini cenderung berbicara tentang kegagalan komunikasi. Ia melihat ke tahap-tahap dalam komunikasi tersebut untuk mengetahui di mana letak kegagalannya. Selain itu, mazhab proses juga cenderung mempergunakan ilmu-ilmu sosial, terutama psikologi dan sosiologi, dan cenderung memusatkan dirinya pada tindakan komunikasi. Karya Shannon dan Weaver ini kemudian banyak berkembang setelah Perang Dunia II di Bell Telephone Laboratories di Amerika Serikat mengingat Shannon sendiri adalah insiyiur di sana yang berkepentingan atas penyampaian pesan yang cermat melalui telepon. Kemudian Weaver mengembangkan konsep Shannon ini untuk diterapkan pada semua bentuk komunikasi. Titik kajian utamanya adalah bagaimana menentukan cara di mana saluran (channel) komunikasi digunakan secara sangat efisien. Menurut mereka, saluran utama dalam komunikasi yang dimaksud adalah kabel telepon dan gelombang radio. Latar belakang keahlian teknik dan matematik Shannon dan Weaver ini tampak dalam penekanan mereka. Misalnya, dalam suatu sistem telepon, faktor yang terpenting dalam keberhasilan komunikasi adalah bukan pada pesan atau makna yang disampaikan-seperti pada mazhab semiotika, tetapi lebih pada berapa jumlah sinyal yang diterima dam proses transmisi.

Penjelasan Teori Informasi Secara Epistemologi, Ontologi, dan Aksiologi

Teori informasi ini menitikberatkan titik perhatiannya pada sejumlah sinyal yang lewat melalui saluran atau media dalam proses komunikasi. Ini sangat berguna pada pengaplikasian sistem elektrik dewasa ini yang mendesain transmitter, receiver, dan code untuk memudahkan efisiensi informasi.

4. Teori Pengharapan Nilai (The Expectacy-Value Theory)

Phillip Palmgreen berusaha mengatasi kurangnya unsur kelekatan yang ada di dalam teori uses and gratification dengan menciptakan suatu teori yang disebutnya sebagai expectance-value theory (teori pengharapan nilai).
Dalam kerangka pemikiran teori ini, kepuasan yang Anda cari dari media ditentukan oleh sikap Anda terhadap media --kepercayaan Anda tentang apa yang suatu medium dapat berikan kepada Anda dan evaluasi Anda tentang bahan tersebut. Sebagai contoh, jika Anda percaya bahwa situated comedy (sitcoms), seperti Bajaj Bajuri menyediakan hiburan dan Anda senang dihibur, Anda akan mencari kepuasan terhadap kebutuhan hiburan Anda dengan menyaksikan sitcoms. Jika, pada sisi lain, Anda percaya bahwa sitcoms menyediakan suatu pandangan hidup yang tak realistis dan Anda tidak menyukai hal seperti ini Anda akan menghindari untuk melihatnya.

5. Teori Ketergantungan (Dependency Theory)

Teori ketergantungan terhadap media mula-mula diutarakan oleh Sandra Ball-Rokeach dan Melvin Defleur. Seperti teori uses and gratifications, pendekatan ini juga menolak asumsi kausal dari awal hipotesis penguatan. Untuk mengatasi kelemahan ini, pengarang ini mengambil suatu pendekatan sistem yang lebih jauh. Di dalam model mereka mereka mengusulkan suatu relasi yang bersifat integral antara pendengar, media. dan sistem sosial yang lebih besar.
Sejalan dengan apa yang dikatakan oleh teori uses and gratifications, teori ini memprediksikan bahwa khalayak tergantung kepada informasi yang berasal dari media massa dalam rangka memenuhi kebutuhan khalayak bersangkutan serta mencapai tujuan tertentu dari proses konsumsi media massa. Namun perlu digarisbawahi bahwa khalayak tidak memiliki ketergantungan yang sama terhadap semua media.

Sumber ketergantungan yang kedua adalah kondisi sosial. Model ini menunjukkan sistem media dan institusi sosial itu saling berhubungan dengan khalayak dalam menciptakan kebutuhan dan minat. Pada gilirannya hal ini akan mempengaruhi khalayak untuk memilih berbagai media, sehingga bukan sumber media massa yang menciptakan ketergantungan, melainkan kondisi sosial.
Untuk mengukur efek yang ditimbulkan media massa terhadap khalayak, ada beberapa metode yang dapat digunakan, yaitu riset eksperimen, survey dan riset etnografi.

Riset Eksperimen

Riset eksperimen (experimental research) merupakan pengujian terhadap efek media dibawah kondisi yang dikontrol secara hati-hati. Walaupun penelitian yang menggunakan riset eksperimen tidak mewakili angka statistik secara keseluruhan, namun setidaknya hal ini bisa diantisipasi dengan membagi obyek penelitian ke dalam dua tipe yang berada dalam kondisi yang berbeda.
Riset eksperimen yang paling berpengaruh dilakukan oleh Albert Bandura dan rekan-rekannya di Stanford University pada tahun 1965. Mereka meneliti efek kekerasan yang ditimbulkan oleh tayangan sebuah film pendek terhadap anak-anak. Mereka membagi anak-anak tersebut ke dalam tiga kelompok dan menyediakan boneka Bobo Doll, sebuah boneka yang terbuat dari plastik, di setiap ruangan. Kelompok pertama melihat tayangan yang berisi adegan kekerasan berulang-ulang, kelompok kedua hanya melihat sebentar dan kelompok ketiga tidak melihat sama sekali.

Ternyata setelah menonton, kelompok pertama cenderung lebih agresif dengan melakukan tindakan vandalisme terhadap boneka Bobo Doll dibandingkan dengan kelompok kedua dan ketiga. Hal ini membuktikan bahwa media massa memiliki peran membentuk karakter khalayaknya. Kelemahan metode ini adalah berkaitan dengan generalisasi dari hasil penelitian, karena sampel yang diteliti sangat sedikit, sehingga sering muncul pertanyaan mengenai tingkat kemampuannya untuk diterapkan dalam kehidupan nyata (generalizability). Kelemahan ini kemudian sering diusahan untuk diminimalisir dengan pembuatan kondisi yang dibuat serupa mungkin dengan keadaan di dunia nyata atau yang biasa dikenal sebagai ecological validity Straubhaar dan Larose, 1997 :415).

Survey

Metode survey sangat populer dewasa ini, terutama kemanfaatannya untuk dimanfaatkan sebagai metode dasar dalam polling mengenai opini publik. Metode survey lebih memiliki kemampuan dalam generalisasi terhadap hasil riset daripada riset eksperimen karena sampelnya yang lebih representatif dari populasi yang lebih besar. Selain itu, survey dapat mengungkap lebih banyak faktor daripada manipulasi eksperimen, seperti larangan untuk menonton tayangan kekerasan seksual di televisi dan faktor agama. Hal ini akan diperjelas dengan contoh berikut.

Riset Ethnografi

Riset etnografi (ethnografic research) mencoba melihat efek media secara lebih alamiah dalam waktu dan tempat tertentu. Metode ini berasal dari antropologi yang melihat media massa dan khalayak secara menyeluruh (holistic), sehingga tentu saja relatif membutuhkan waktu yang lama dalam aplikasi penelitian.

6. Teori Agenda Setting

Agenda-setting diperkenalkan oleh McCombs dan DL Shaw (1972). Asumsi teori ini adalah bahwa jika media memberi tekanan pada suatu peristiwa, maka media itu akan mempengaruhi khalayak untuk menganggapnya penting. Jadi apa yang dianggap penting media, maka penting juga bagi masyarakat. Dalam hal ini media diasumsikan memiliki efek yang sangat kuat, terutama karena asumsi ini berkaitan dengan proses belajar bukan dengan perubahan sikap dan pendapat.

7. Teori Dependensi Efek Komunikasi Massa

Teori ini dikembangkan oleh Sandra Ball-Rokeachdan Melvin L. DeFluer (1976), yang memfokuskan pada kondisi struktural suatu masyarakat yang mengatur kecenderungan terjadinya suatu efek media massa. Teori ini berangkat dari sifat masyarakat modern, diamana media massa diangap sebagai sistem informasi yang memiliki peran penting dalam proses memelihara, perubahan, dan konflik pada tataran masyarakat,kelompok, dan individu dalam aktivitas sosial. Secara ringkas kajian terhadap efek tersebut dapat dirumuskan dapat dirumuskan sebagai berikut :

1.) Kognitif, menciptakan atau menghilangkan ambiguitas, pembentukan sikap, agenda-setting, perluasan sistem keyakinan masyarakat, penegasan/ penjelasan nilai-nilai.
2). Afektif, menciptakan ketakutan atau kecemasan, dan meningkatkan atau menurunkan dukungan moral.

3). Behavioral, mengaktifkan atau menggerakkan atau meredakan, pembentukan isu tertentu atau penyelesaiannya, menjangkau atau menyediakan strategi untuk suatu aktivitas serta menyebabkan perilaku dermawan.

8. Teori Uses and Gratifications (Kegunaan dan Kepuasan)

Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh Herbert Blumer dan Elihu Katz (1974). Teori ini mengatakan bahwa pengguna media memainkan peran aktif untuk memilih dan menggunakan media tersebut. Dengan kata lain, pengguna media adalah pihak yang aktif dalam proses komunikasi. Pengguna media berusaha mencari sumber media yang paling baik di dalam usaha memenhi kebutuhannya. Artinya pengguna media mempunyai pilihan alternatif untuk memuaskan kebutuhannya.

Elemen dasar yang mendasari pendekatan teori ini (Karl dalam Bungin, 2007): (1) Kebutuhan dasar tertentu, dalam interaksinya dengan (2) berbagai kombinasi antara intra dan ekstra individu, dan juga dengan (3) struktur masyarakat, termasuk struktur media, menghasilkan (4) berbagai percampuran personal individu, dan (5) persepsi mengenai solusi bagi persoalan tersebut, yang menghasilkan (6) berbagai motif untuk mencari pemenuhan atau penyelesaian persoalan, yang menghasikan (7) perbedaan pola konsumsi media dan ( perbedaan pola perilaku lainnya, yang menyebabkan (9) perbedaan pola konsumsi, yang dapat memengaruhi (10) kombinasi karakteristik intra dan ekstra individu, sekaligus akan memengaruhi pula (11) struktur media dan berbagai struktur politik, kultural, dan ekonomi dalam masyarakat.

9. Teori The Spiral of Silence

Teori the spiral of silence (spiral keheningan) dikemukakan oleh Elizabeth Noelle-Neuman (1976), berkaitan dengan pertanyaan bagaimana terbentuknya pendapat umum. Teori ini menjelaskan bahwa terbentuknya pendapat umum ditentukan oleh suatu proses saling mempengaruhi antara komunikasi massa, komunikasi antar pribadi, dan persepsi individu tentang pendapatnya dalam hubungannya dengan pendapat orang-orang lain dalam masyarakat.

10. Teori Konstruksi sosial media massa

Gagasan awal dari teori ini adalah untuk mengoreki teori konstruksi sosial atas realitas yang dibangun oleh Peter L Berrger dan Thomas Luckmann (1966, The social construction of reality. A Treatise in the sociology of knowledge. Tafsir sosial atas kenyataan: sebuah risalah tentang sosisologi pengetahuan). Mereka menulis tentang konstruksi sosial atas realitas sosial dibangun secara simultan melalui tiga proses, yaitu eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Proses simultan ini terjadi antara individu satu dengan lainnya di dalam masyrakat. Bangunan realitas yang tercipta karena proses sosial tersebut adalah objektif, subjektif, dan simbolis atau intersubjektif.

11. Teori Difusi Inovasi

Teori difusi yang paling terkemuka dikemukakan oleh Everett Rogers dan para koleganya. Rogers menyajikan deksripsi yang menarik mengenai mengenai penyebaran dengan proses perubahan sosial, di mana terdiri dari penemuan, difusi (atau komunikasi), dan konsekwensi-konsekwensi. Perubahan seperti di atas dapat terjadi secara internal dari dalam kelompok atau secara eksternal melalui kontak dengan agen-agen perubahan dari dunia luar. Kontak mungkin terjadi secara spontan atau dari ketidaksengajaan, atau hasil dari rencana bagian dari agen-agen luar dalam waktu yang bervariasi, bisa pendek, namun seringkali memakan waktu lama.
Dalam difusi inovasi ini, satu ide mungkin memerlukan waktu bertahun-tahun untuk dapat tersebar. Rogers menyatakan bahwa pada realisasinya, satu tujuan dari penelitian difusi adalah untuk menemukan sarana guna memperpendek keterlambatan ini. Setelah terselenggara, suatu inovasi akan mempunyai konsekuensi konsekuensi – mungkin mereka berfungsi atau tidak, langsung atau tidak langsung, nyata atau laten (Rogers dalam Littlejohn, 1996 : 336).

12. Teori Kultivasi

Program penelitian teoritis lain yang berhubungan dengan hasil sosiokultural komunikasi massa dilakukan George Garbner dan teman-temannya. Peneliti ini percaya bahwa karena televisi adalah pengalaman bersama dari semua orang, dan mempunyai pengaruh memberikan jalan bersama dalam memandang dunia. Televisi adalah bagian yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari kita. Dramanya, iklannya, beritanya, dan acara lain membawa dunia yang relatif koheren dari kesan umum dan mengirimkan pesan ke setiap rumah. Televisi mengolah dari awal kelahiran predisposisi yang sama dan pilihan yang biasa diperoleh dari sumber primer lainnya. Hambatan sejarah yang turun temurun yaitu melek huruf dan mobilitas teratasi dengan keberadaan televisi. Televisi telah menjadi sumber umum utama dari sosialisasi dan informasi sehari-hari (kebanyakan dalam bentuk hiburan) dari populasi heterogen yang lainnya. Pola berulang dari pesan-pesan dan kesan yang diproduksi massal dari televisi membentuk arus utama dari lingkungan simbolis umum.

Garbner menamakan proses ini sebagai cultivation (kultivasi), karena televisi dipercaya dapat berperan sebagai agen penghomogen dalam kebudayaan. Teori kultivasi sangat menonjol dalam kajian mengenai dampak media televisi terhadap khalayak. Bagi Gerbner, dibandingkan media massa yang lain, televisi telah mendapatkan tempat yang sedemikian signifikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga mendominasi “lingkungan simbolik” kita, dengan cara menggantikan pesannya tentang realitas bagi pengalaman pribadi dan sarana mengetahui dunia lainnya (McQuail, 1996 : 254)

Referensi :

Fisher, B. Aubrey, 1986, Teori-teori Komunikasi. Penyunting: Jalaluddin Rakhmat, Penerjemah: Soejono Trimo. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mulyana, Dedy, 2001, Metodologi Penelitian Kualitatif (Paradigma Baru Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya). Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sumber lain yang relevan.
Baca selengkapnya...

Senin, 01 Maret 2010

Practical Journalism Training

0 komentar

Magazine's SNEIKA School Junior High School 1 Kaliwungu Kendal, on Sunday on February 28, 2010 Practical Journalism Training held with the theme "Being a journalist is Easy! Want?.

The event which took place at the Multipurpose Building the school's attention was large enough, as evidenced by the large number of participants who followed these activities. Not only the participants who came from Teachers and Students Kaliwungu 1 Junior High School, also joined the participants some SMP / MTs in Kendal District.




According to information from the Chairman of the Committee Mr. Mokhamad Soleh, journalism training activity aims to:


1. Introduce to the students about the ins and outs of journalism.

2. Cultivate the intelligence and creativity of students through a journalistic tradition.

3. Improving Student skills and abilities in managing the print media.


Acting as an instructor in the training, the committee presents two journalist sources namely: Slamet Priyatin or more well known with the call that is Mas Priyo Cempaka tabloid journalists and media print El Shinta Jakarta, as well as Dennis Kang Alimin Seputar Indonesia Daily reporter (SINDO) Jakarta.

Present also in the opening of training opportunities, Kasi Dikpora SMP Kendal District, Mr. Agus Chrismoro, M. Pd S. Pd, a pleasure to give speeches and directives as well as officially opening training. In his speech, he advised, the knowledge gained in this activity can be utilized with the best that can eventually be applied in their respective schools. This activity is an activity for the first time a junior high school level journalism training in Kendal District. "For the first time, journalism training activities held at the junior level in the Kendal district," he said in his speech. It was during this new journalistic training activities conducted at the senior secondary level, for that which He conveyed his appreciation to the highest Kaliwungu 1 Junior High School, and hopes that there are similar events held at other schools.


The activity was berlagsung journalistic training in three sessions, respectively: the delivery of material by two speakers, followed by dialogue sessions with the theme "Being a journalist is Easy! Want?, And the last session is the practice of writing news. The material can be delivered by guest speaker You Download here!
Baca selengkapnya...

Selasa, 21 Juli 2009

KOMUNIKASI

0 komentar

PENDAHULUAN

Komunikasi adalah keterampilan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, dimana dapat kita lihat komunikasi dapat terjadi pada setiap gerak langkah manusia. Manusia adalah makhluk sosial yang tergantung satu sama lain dan mandiri serta saling terkait dengan orang lain dilingkungannya. Satu-satunya alat untuk dapat berhubungan dengan orang lain dilingkungannya adalah komunikasi baik secara verbal maupun non verbal ( bahasa tubuh dan isyarat yang banyak dimengerti oleh suku bangsa).

DEFINISI

Istilah komunikasi berasal dari kata Latin Communicare atau Communis yang berarti sama atau menjadikan milik bersama. Kalau kita berkomunikasi dengan orang lain, berarti kita berusaha agar apa yang disampaikan kepada orang lain tersebut menjadi miliknya.

Beberapa definisi komunikasi adalah:
1. Komunikasi adalah kegiatan pengoperan lambang yang mengandung arti/makna yang perlu dipahami bersama oleh pihak yang terlibat dalam kegiatan komunikasi (Astrid).
2. Komunikasi adalah kegiatan perilaku atau kegiatan penyampaian pesan atau informasi tentang pikiran atau perasaan (Roben.J.G).
3. Komunikasi adalah sebagai pemindahan informasi dan pengertian dari satu orang ke orang lain (Davis, 1981).
4. Komunikasi adalah berusaha untuk mengadakan persamaan dengan orang lain (Schram,W)
5. Komunikasi adalah penyampaian dan memahami pesan dari satu orang kepada orang lain, komunikasi merupakan proses sosial (Modul PRT, Lembaga Administrasi).

TUJUAN KOMUNIKASI

Hewitt (1981), menjabarkan tujuan penggunaan proses komunikasi secara spesifik sebagai berikut:
1. Mempelajari atau mengajarkan sesuatu
2. Mempengaruhi perilaku seseorang
3. Mengungkapkan perasaan
4. Menjelaskan perilaku sendiri atau perilaku orang lain
5. Berhubungan dengan orang lain
6. Menyelesaian sebuah masalah
7. Mencapai sebuah tujuan
8. Menurunkan ketegangan dan menyelesaian konflik
9. Menstimulasi minat pada diri sendiri atau orng lain

PROSES KOMUNIKASI

Komunikasi merupakan suatu proses yang mempunyai komponen dasar sebagai berikut :

Pengirim pesan , penerima pesan dan pesan

Semua fungsi manajer melibatkan proses komunikasi. Proses komunikasi dapat dilihat pada skema dibawah ini :


Diagram 1 : Proses Komunikasi

1. Pengirim pesan (sender) dan isi pesan/materi
Pengirim pesan adalah orang yang mempunyai ide untuk disampaikan kepada seseorang dengan harapan dapat dipahami oleh orang yang menerima pesan sesuai dengan yang dimaksudkannya. Pesan adalah informasi yang akan disampaikan atau diekspresikan oleh pengirim pesan. Pesan dapat verbal atau non verbal dan pesan akan efektif bila diorganisir secara baik dan jelas.

Materi pesan dapat berupa :
a. Informasi
b. Ajakan
c. Rencana kerja
d. Pertanyaan dan sebagainya


2. Simbol/ isyarat
Pada tahap ini pengirim pesan membuat kode atau simbol sehingga pesannya dapat dipahami oleh orang lain. Biasanya seorang manajer menyampaikan pesan dalam bentuk kata-kata, gerakan anggota badan, (tangan, kepala, mata dan bagian muka lainnya). Tujuan penyampaian pesan adalah untuk mengajak, membujuk, mengubah sikap, perilaku atau menunjukkan arah tertentu.

3. Media/penghubung
Adalah alat untuk penyampaian pesan seperti ; TV, radio surat kabar, papan pengumuman, telepon dan lainnya. Pemilihan media ini dapat dipengaruhi oleh isi pesan yang akan disampaikan, jumlah penerima pesan, situasi dsb.

4. Mengartikan kode/isyarat
Setelah pesan diterima melalui indera (telinga, mata dan seterusnya) maka si penerima pesan harus dapat mengartikan simbul/kode dari pesan tersebut, sehingga dapat dimengerti /dipahaminya.

5. Penerima pesan
Penerima pesan adalah orang yang dapat memahami pesan dari sipengirim meskipun dalam bentuk code/isyarat tanpa mengurangi arti pesan yang dimaksud oleh pengirim

6. Balikan (feedback)
Balikan adalah isyarat atau tanggapan yang berisi kesan dari penerima pesan dalam bentuk verbal maupun nonverbal. Tanpa balikan seorang pengirim pesan tidak akan tahu dampak pesannya terhadap sipenerima pesan Hal ini penting bagi manajer atau pengirim pesan untuk mengetahui apakah pesan sudah diterima dengan pemahaman yang benar dan tepat. Balikan dapat disampaikan oleh penerima pesan atau orang lain yang bukan penerima pesan. Balikan yang disampaikan oleh penerima pesan pada umumnya merupakan balikan langsung yang mengandung pemahaman atas pesan tersebut dan sekaligus merupakan apakah pesan itu akan dilaksanakan atau tidak
Balikan yang diberikan oleh orang lain didapat dari pengamatan pemberi balikan terhadap perilaku maupun ucapan penerima pesan. Pemberi balikan menggambarkan perilaku penerima pesan sebagai reaksi dari pesan yang diterimanya. Balikan bermanfaat untuk memberikan informasi, saran yang dapat menjadi bahan pertimbangan dan membantu untuk menumbuhkan kepercayaan serta keterbukaan diantara komunikan, juga balikan dapat memperjelas persepsi.

7. Gangguan
Gangguan bukan merupakan bagian dari proses komunikasi akan tetapi mempunyai pengaruh dalam proses komunikasi, karena pada setiap situasi hampir selalu ada hal yang mengganggu kita. Gangguan adalah hal yang merintangi atau menghambat komunikasi sehingga penerima salah menafsirkan pesan yang diterimanya.

DASAR KOMUNIKASI

Komunikasi mempunyai dasar sebagai berikut: Niat, Minat, Pandangan, Lekat, Libat.
Niat menyangkut :
 Apa yang akan disampaikan
 Siapa sasarannya
 Apa yang akan dicapai
 Kapan akan disampaikan

Minat, ada dua factor yang mempengaruhi yaitu:
• Faktor obyektif : merupakan rangsang yang kita terima
• Faktor subyektif : merupakan faktor yang menyangkut diri si penerima stimulus
Pandangan, merupakan makna dari informasi yang disampaikan pada sasaran, menafsirkan informasi yang diterima tergantung pada pendidikan, pekerjaan, pengalaman dan kerangka pikir seseorang.
Lekat, merupakan informasi yang disimpan oleh si penerima.
Libat, merupakan keterlibatan panca indera sebanyak-banyaknya.

JENIS KOMUNIKASI

Pada dasarnya komunikasi digunakan untuk menciptakan atau meningkatkan aktifitas hubungan antara manusia atau kelompok
Jenis komunikasi terdiri dari:
1. Komunikasi verbal dengan kata-kata
2. Komunikasi non verbal disebut dengan bahasa tubuh

1. Komunikasi Verbal mencakup aspek-aspek berupa ;
a. Vocabulary (perbendaharaan kata-kata). Komunikasi tidak akan efektif bila pesan disampaikan dengan kata-kata yang tidak dimengerti, karena itu olah kata menjadi penting dalam berkomunikasi.
b. Racing (kecepatan). Komunikasi akan lebih efektif dan sukses bila kecepatan bicara dapat diatur dengan baik, tidak terlalu cepat atau terlalu lambat.
c. Intonasi suara : akan mempengaruhi arti pesan secara dramatik sehingga pesan akan menjadi lain artinya bila diucapkan dengan intonasi suara yang berbeda. Intonasi suara yang tidak proposional merupakan hambatan dalam berkomunikasi.
d. Humor : dapat meningkatkan kehidupan yang bahagia. Dugan (1989), memberikan catatan bahwa dengan tertawa dapat membantu menghilangkan stress dan nyeri. Tertawa mempunyai hubungan fisik dan psikis dan harus diingat bahwa humor adalah merupakan satu-satunya selingan dalam berkomunikasi.
e. Singkat dan jelas. Komunikasi akan efektif bila disampaikan secara singkat dan jelas, langsung pada pokok permasalahannya sehingga lebih mudah dimengerti.
f. Timing (waktu yang tepat) adalah hal kritis yang perlu diperhatikan karena berkomunikasi akan berarti bila seseorang bersedia untuk berkomunikasi, artinya dapat menyediakan waktu untuk mendengar atau memperhatikan apa yang disampaikan.

2. Komunikasi Non Verbal
Komunikasi non verbal adalah penyampaian pesan tanpa kata-kata dan komunikasi non verbal memberikan arti pada komunikasi verbal.
Yang termasuk komunikasi non verbal :
a. Ekspresi wajah
Wajah merupakan sumber yang kaya dengan komunikasi, karena ekspresi wajah cerminan suasana emosi seseorang.
b. Kontak mata, merupakan sinyal alamiah untuk berkomunikasi. Dengan mengadakan kontak mata selama berinterakasi atau tanya jawab berarti orang tersebut terlibat dan menghargai lawan bicaranya dengan kemauan untuk memperhatikan bukan sekedar mendengarkan. Melalui kontak mata juga memberikan kesempatan pada orang lain untuk mengobservasi yang lainnya
c. Sentuhan adalah bentuk komunikasi personal mengingat sentuhan lebih bersifat spontan dari pada komunikasi verbal. Beberapa pesan seperti perhatian yang sungguh-sungguh, dukungan emosional, kasih sayang atau simpati dapat dilakukan melalui sentuhan.
d. Postur tubuh dan gaya berjalan. Cara seseorang berjalan, duduk, berdiri dan bergerak memperlihatkan ekspresi dirinya. Postur tubuh dan gaya berjalan merefleksikan emosi, konsep diri, dan tingkat kesehatannya.
e. Sound (Suara). Rintihan, menarik nafas panjang, tangisan juga salah satu ungkapan perasaan dan pikiran seseorang yang dapat dijadikan komunikasi. Bila dikombinasikan dengan semua bentuk komunikasi non verbal lainnya sampai desis atau suara dapat menjadi pesan yang sangat jelas.
f. Gerak isyarat, adalah yang dapat mempertegas pembicaraan . Menggunakan isyarat sebagai bagian total dari komunikasi seperti mengetuk-ngetukan kaki atau mengerakkan tangan selama berbicara menunjukkan seseorang dalam keadaan stress bingung atau sebagai upaya untuk menghilangkan stress.

BENTUK KOMUNIKASI

Komunikasi sebagai proses memiliki bentuk :

1. Bentuk Komunikasi berdasarkan
a. Komunikasi langsung
Komunikasi langsung tanpa mengguanakan alat.
Komunikasi berbentuk kata-kata, gerakan-gerakan yang berarti khusus dan penggunaan isyarat,misalnya kita berbicara langsung kepada seseorang dihadapan kita.

A-------------------B

b. Komunikasi tidak langsung
Biasanya menggunakan alat dan mekanisme untuk melipat gandakan jumlah penerima penerima pesan (sasaran) ataupun untuk menghadapi hambatan geografis, waktu misalnya menggunakan radio, buku, dll.
Contoh : “ Buanglah sampah pada tempatnya

2. Bentuk komunikasi berdasarkan besarnya sasaran :
a. Komunikasi massa, yaitu komunikasi dengan sasarannya kelompok orang dalam jumlah yang besar, umumnya tidak dikenal.
Komunikasi masa yang baik harus :
Pesan disusun dengan jelas, tidak rumit dan tidak bertele-tele
Bahasa yang mudah dimengerti/dipahami
Bentuk gambar yang baik
Membentuk kelompok khusus, misalnya kelompok pendengar (radio)

b. Komunikasi kelompok
Adalah komunikasi yang sasarannya sekelompok orang yang umumnya dapat dihitung dan dikenal dan merupakan komunikasi langsung dan timbal balik.

Perawat-----   ------Pengunjung puskesmas

c. Komunikasi perorangan.
Adalah komunikasi dengan tatap muka dapat juga melalui telepon.

Perawat-----   ------Pasien


3. Bentuk komunikasi berdasarkan arah pesan :

a. Komunikasi satu arah
Pesan disampaikan oleh sumber kepada sasaran dan sasaran tidak dapat atau tidak mempunyai kesempatan untuk memberikan umpan balik atau bertanya, misalnya radio.
A ------------------ B

b. Komunikasi timbal balik.
Pesan disampaikan kepada sasaran dan sasaran memberikan umpan balik. Biasanya komunikasi kelompok atau perorangan merupakan komunikasi timbal balik

HAMBATAN KOMUNIKASI

1. Hambatan dari Proses Komunikasi
• Hambatan dari pengirim pesan, misalnya pesan yang akan disampaikan belum jelas bagi dirinya atau pengirim pesan, hal ini dipengaruhi oleh perasaan atau situasi emosional.
• Hambatan dalam penyandian/simbol
Hal ini dapat terjadi karena bahasa yang dipergunakan tidak jelas sehingga mempunyai arti lebih dari satu, simbol yang dipergunakan antara si pengirim dan penerima tidak sama atau bahasa yang dipergunakan terlalu sulit.
• Hambatan media, adalah hambatan yang terjadi dalam penggunaan media komunikasi, misalnya gangguan suara radio dan aliran listrik sehingga tidak dapat mendengarkan pesan.
• Hambatan dalam bahasa sandi. Hambatan terjadi dalam menafsirkan sandi oleh si penerima
• Hambatan dari penerima pesan, misalnya kurangnya perhatian pada saat menerima /mendengarkan pesan, sikap prasangka tanggapan yang keliru dan tidak mencari informasi lebih lanjut.
• Hambatan dalam memberikan balikan. Balikan yang diberikan tidak menggambarkan apa adanya akan tetapi memberikan interpretatif, tidak tepat waktu atau tidak jelas dan sebagainya.

2. Hambatan Fisik
Hambatan fisik dapat mengganggu komunikasi yang efektif, cuaca gangguan alat komunikasi, dan lain lain, misalnya: gangguan kesehatan, gangguan alat komunikasi dan sebagainya.

3. Hambatan Semantik.

Kata-kata yang dipergunakan dalam komunikasi kadang-kadang mempunyai arti mendua yang berbeda, tidak jelas atau berbelit-belit antara pemberi pesan dan penerima

4. Hambatan Psikologis
Hambatan psikologis dan sosial kadang-kadang mengganggu komunikasi, misalnya; perbedaan nilai-nilai serta harapan yang berbeda antara pengirim dan penerima pesan.
Baca selengkapnya...

Sabtu, 23 Mei 2009

Pengantar Ilmu Komunikasi

0 komentar

Pada perang dunia ke II komunikasi belum dianggap sebagai sebuah ilmu dan hanya dianggap sebagai sebuah proses sosial. Dimasa ini baru di mulai penelitian penelitian mengenai komunikasi dan efek dari komunikasi tersebut.
Proses komunikasi adalah:
Komunikator -> Pesan (bisa berupa lisan maupun tulisan -> media -> komunikan-> efek -> perilaku
Hakekat Komunikasi
Memahami komunikasi berarti memahami apa yang terjadi selama komunikasi berlangsung, mengapa itu terjadi, manfaat apa yang dirasakan, akibat-akibat apa yang ditimbulkannya, apakah tujuan dari aktifitas berkomunikasi sesuai dengan apa yang diinginkan, memahami hal-hal yang dapat mempengaruhi dan memaksimalkan hasil-hasil dari kejadian tersebut.Menurut Anwar arifin (1988:17), komunikasi merupakan suatu konsep yang multi makna. Makna komunikasi dapat dibedakan berdasarkan:
Komunikasi sebagai proses sosial

Komunikasi pada makna ini ada dalam konteks ilmu sosial. Dimana para ahli ilmu sosial melakukan penelitian dengan menggunakan pendekatan komunikasi yang secara umum menfokuskan pada kegiatan manusia dan kaitan pesan dengan perilaku.
Harold D. Lasswell meneliti masalah identifikasi simbol dan image yang bertolak belakang dengan realitas/efek pada opini publik. Berkaitan dengan efek-efek teknik propaganda pada perang dunia 1 (1927). Beliau seorang ahli politik, meneliti dengan cara meyebarkan leaflet mengenai perang.
Kurt lewin meneliti fungsi-fungsi komunikasi pada kelompok sosial informal. Lewin meneliti tipe-tipe gatekeeper yang dilakukan oleh pemimpin-pemimpin autokratik, demokratik. Lewin juga meneliti individu-individu yang ada pada kelompok-kelompok penekan dan individu-individu yang berada pada kelompok (members group). Soearang ahli psikologi.
Carl Hovland meneliti kredibilitas sumber (komunikator) hubungannya dengan efek persuasi (perubahan sikap). Hovland adalah peneliti yang memperkenalkan penelitian-peneltian eksperimental dalam komunikasi massa. Seorang ahli sosiologi, meneliti melalu pemutaran film berbeda kepada 2 kelompok berbeda, dan melihat efek dari film tersebut terhadap individu. Kredibiltas terdiri dari 1. Expert (ahli dalam bidang tersebut) 2. Competency (memiliki kompetensi) 3. Skill (harus memiliki kemampuan dalam bidang nya) 4. Trust (harus bisa di percaya)
Paul F.Lazarsfeld mengungkapkan hubungan antara status sosial, ekonomi, mass media exposure dan pengaruh interpersonal atau efek pengetahuan, sikap dan perubahan perilaku. Beliau seorang ahli matematika Teknik-teknik analisis yang digunakan oleh para peneliti tersebut memberikan contoh bagaimana menjelaskan sistem komunikasi dalam konteks proses sosial.
Komunikasi sebagai Peristiwa
Dalam hal ini komunikasi mempunyai pengertian, bahwa komunikasi merupakan gejala yang dipahami dari sudut bagaimana bentuk dan sifat terjadinya. Peristiwa komunikasi dapat diklasifikasikan berdasarkan kriteria tertentu. Ada yang membedakan komunikasi
massa dengan komunikasi tatap muka, komunikasi verbal dan non verbal, komunikasi yang menggunakan media dan tanpa media.
Komunikasi sebagai Ilmu
Struktur ilmu pengetahuan meliputi aspek aksiologi, epistomologi dan ontologi. Aksiologi mempertanyakan dimensi utilitas (faedah, peranan dan kegunaan). Epistomologi menjelaskan norma-norma yang dipergunakan ilmu pengetahuan untuk membenarkan dirinya sendiri. Sedangkan ontologi mengenai struktur material dari ilmu pengetahuan.
Komunikasi sebagai kiat atau keterampilan
Komunikasi dipandang sebagai skill yang oleh individu dipergunakan untuk melakukan profesi komunikasi. Perkembangan dunia komunikasi di Indonesia pada masa yang akan datang menunjukkan prospek yang semakin cerah. Dengan demikian, masalah-masalah yang berhubungan dengan profesi komunikasi tetap menjadi agenda penting. Antara komunikasi dan bidang profesional terdapat kaitan yang signifikan. Dalam menunjang suatu profesi atau karir yang menuntut kemampuan pemahaman pada sifat dasar komunikasi, berkomunikasi secara kompeten dan efektif diperlukan dalam bidang kemampuan berkomunikasi (speech communication), komunikasi massa, komunikasi organisasi, komunikasi politik, public relations, periklanan, penyiaran (broadcasting) dan pemasaran.
Pengetahuan dan kemampuan komunikasi adalah dasar untuk kualitas kepemimpinan. Merupakan hal pokok untuk hubungan interpersonal, mempengaruhi dan perkembangan informasi dalam organisasi. Komunikasi juga memainkan peran penting dalam perencanaan, pengambilan keputusan, pemikiran strategis, memperoleh pengetahuan teknis dan menilai hasil.
Baca selengkapnya...

Rabu, 01 April 2009

Manipulasi Komunikasi

0 komentar

Oleh : Dra. Hj. Dewi Widowati, M.Si.
(Dosen Stikom WJB Serang)

Kita sering mendengar kata komunikasi, Bahkan, dalam kegiatan klta sehari-hari pun tidak luput dari komunikasi. Kata komunikasi sendiri tidak asing bagi kita. Tapi, apakah sebenarnya komunikasi itu?

Menurut Drs. MQ Palapah & Drs. Atang Syamsudin, komunikasi adalah ilmu tentang pernyataan manusia yang menggunakan lambang-lambangnya yang berarti.
Yang dimaksud lambang-lambang di sini adalah lambang-lambang verbal dan non verbal. Lambang verbal adalah pernyataan berupa lisan maupun tulisan. Sedangkan lambang non verbal adalah dengan isyarat yang mengandung makna tertentu seperti senyuman, lambaian tangan, kerlingan mata, dan kening yang berkerut. Semua itu ungkapan seseorang yang pada dasamya adalah komunikasi.

Kegiatan berkomunikasi, baik dilakukan dua orang yang biasa disebut komunikasi antarpersona maupun komunikasi massa, komunikasi dengan menggunakan media massa (TV, radio, surat kabar, film) bisa saja mendapat gangguan yang dalam istilah komumikasi model Shannon dan Weaver disebut noise, yakni setiap rangsangan tambahan dan tidak dikehendaki yang dapat mengganggu kecermatan pesan yang disampaikan. Ahli-ahli komunikasi kini memperluas konsep pada gangguan ini menjadi gangguan psikologis dan gangguan fisik.

Selain hambatan di atas, ada hambatan komunikasi lainnya yang terjadi karena beberapa faktor antara lain faktor kepentingan yang berbedaan antara orang yang berkomunikasi, faktor motivasl yang kurang kuat, faktor bahasa yang berbeda-beda arti/maknanya bahkan bertolak belakang. Hambatan selanjutnya adalah prasangka (prejudice).

Prasangka adalah salah satu hambatan yang berat terhadap suatu kegiatan komunikasi. Sebab orang yang mempunyai prasangka belum apa-apa sudah bersikap was-was, dan biasanya akan menentang pesan yang diterima. Dalam prasangka, emosi memaksa seseorang untuk menarik kesimpulan atas dasar syak wasangka tanpa menggunakan pikiran yang rasional.

llustrasi di atas adalah komunikasi yang tidak ber]alan sebagaimana diharapkan karena adanya ham¬batan atau gangguan. Tetapi, suatu kegiatan komunikasi juga dapat berjalan efektif seperti yang diharapkan bahkan dapat memberikan efek yang posftif.

Lalu bagaimanakah caranya agar komunikasi dapat berjalan efektif? Suatu komunikasidapat berjalan dengan apabila ada faktor-faktor yang dipenuhi dalam kegiatan komunikasi tersebut. Faktor-faktor tersebut adalah pertama, adanya keterbukaan (openness). Keterbukaan menunjukkan adanya sikap saling terbuka di antara pelaku komunikasi (komunikator dan komunikan) dalam melangsungkan kegiatan komunikasi. Kedua, empati (empathy), yaitu kemampuan seseorang untuk memproyeksikan dirinya dalam peran orang lain, sehingga komunikan dapat memahami apa yang sedang dialami oleh lawan bicaranya. Ketiga, kepositifan (positiveness), yaitu sikap yang positif terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain, baik dalam bersikap maupun cara berpikirnya. Keempat, dukungan (supportiveriess), yaitu sikap pelaku komunikasl yang mendukung terjadinya komunikasi tersebut. Kalau plhak yang diajak berkomunikasi tersebut sudah menolak sejak awal, maka komunikasi yang diharapkan tidak akan terjadi. Kelima, kesamaan (equality), yaitu adanya unsur kesamaan yang dimiliki oleh pihak yang berkomunikasi. Misalnya adanya kesamaan bahasa dan budaya akan memudahkan terjadinya komunikasi yang efektif. Tentunya, setiap orang selalu mengharapkan keberhasilan berkomunikasi dalam setiap kegiatannya, baik di rumah, di kantor ataupun di mana kita beraktivitas.

Manipulasi

Lalu, apa itu korupsi komunikasi dan manipulasi komunikasi? Apabila kita berkomunikasi atau menyampaikan informasi dari seseorang atau lembaga kepada pihak lain, tidak menutup kemungkinan pesan-pesan, komunikasi atau Informasi yang terkirim mengalami pengurangan atau penyimpangan, penambahan makna atau arti dari sebuah pesan yang sebenarnya. Dalam Ilmu komunikasi hat Inl sering disebut korupsi komunikasi dan manipulasi komunikasi.

Biasanya, Korupsi komunikasi maupun manipulasi komunikasi terjadi antara dua pihak yang mempunyai kepentingan tertentu dengan maksud menggagalkan atau menjatuhkan kepentingan pihak lainnya, layaknya propaganda perang yang berusaha menjatuhkan moral/mental musuh.

Kini, untuk mencapai komunikasi yang efektif, memang memerlukan adanya kekuatan. Untuk memiliki faktor-faktor tersebut dt atas dan mampu mengeliminir adanya korupsi komunikasi maupun manipulasi komunikasi yang terjadi di sekitar kegiatan kita.
Semua itu akan dapat terpecahkan bila kita memahami apa dan bagaimana ilmu komunikasi dipelajari dan diaplikasikan dalam berbagai bidang atau dimensi kehidupan sesuai tujuannya.

Baca selengkapnya...

Ilmu Komunikasi Politik

0 komentar

catatan : tulisan ini diambil dari link ini

Definisi Ilmu Komunikasi Politik
Komunikasi politik dapat didefinisikan dengan berbagai cara, dikaitkan dengan banyak hal, dan dilihat dari berbagai macam sudut pandang. Sebagaimana yang diungkapkan Mc Nair (2003) dalam bukunya Introduction to Political Communication, ia menulis bahwa:
Setiap buku tentang komunikasi politik harus dimulai dengan pernyataan bahwa istilah komunikasi politik sulit untuk didefinisikan secara tepat, kelihatannya sederhana karena dua kata dalam frase tersebut terbuka untuk didefinisikan bermacam-macam.
Dalam bukunya tersebut Mc Nair mengutip Denton and Woordward yang memberikan definisi komunikasi politik sebagai berikut:
Diskusi tentang alokasi public resources (revenue), official authority (mereka yang diberikan kekuasaan untuk membuat peraturan, keputusan legislative dan eksekutif), dan official sanction ( penghargaan atau hukuman oleh Negara).
Menurut Mc Nair definisi Denton and Woodward di atas termasuk didalamnya retorika politik verbal dan tulisan, namun tidak termasuk komunikasi simbolik. Sedangkan menurut catatan Mc Nair, Doris Graber berpandangan bahwa komunikasi politik termasuk didalamnya adalah paralinguistik seperti bahasa tubuh dan tindakan politik seperti boikot dan protes. Mc Nair sependapat dengan padangan Graber, bahkan pakaian apa yang digunakan, gaya rambut, tata rias, logo, dan semua elemen komunikasi yang ditujukan untuk membentuk image politik termasuk dalam komunikasi politik.
Dengan bersandar pada definisi dari Denton and Woordward, Mc Nair menekankan komunikasi politik pada adanya intensi/maksud. Kemudian Mc Nair lebih menyederhanakan bahwa komunikasi politik terdiri dari :


1. Semua bentuk komunikasi yang dilakukan oleh politikus dan actor politik yang lain untuk mencapai suatu tujuan yang spesifik
2. Komunikasi yang dialamatkan kepada para actor politik oleh non politikus seperti pemilih dan kolumnis
3. Komunikasi tentang para actor politik dan aktifitas mereka, sebagaimana yang dimuat berita, editorial, dan berbagai bentuk media dan diskusi politik.
Graber sendiri memberikan definisi komunikasi politik mencakup:
Konstruksi pengiriman, penerimaan, dan proses pesan yang memiliki potensi langsung atau tidak langsung dampak politik yang signifikaan
Graber melanjutkan bahwa pengirim dan penerima pesan bisa siapa saja baik dia politisi, jornalis, anggota kelompok kepentingan, pribadi yang tidak terorganisir, dan yang menjadi elemen kunci adalah pada pesan yang memiliki efek politik yang signifikan pada pemikiran,keyakinan, dan perilaku individu, kelompok, lembaga, dan masyarakat yang berada pada lingkungannya. Adanya dampak politik inilah yang mendapat penekanan Graber.

Sejarah Perkembangan Ilmu Komunikasi Politik
Komunikasi politik menjadi sebuah disiplin ilmu sejak dibentuknya divisi komunikasi politik oleh Iternational Communication Association (ICA) dan American Political Science Asssociation (APSA) di awal tahun 70an. Namun demikian karya tentang komunikasi politik itu sendiri sudah ada sejak zaman Aristoteles pada tahun 350 SM.
Studi komunikasi politik sendiri mulai marak sejak Perang Dunia I, Berikut ini perkembangan sejarah komunikasi politik yang diuraikan oleh Lynda Lee Kaid (2004):
· Walter Lippmann (1922) Public Opinion dan Harold Laswell (1927) Propaganda Analysis
Dua tokoh ini hidup pada masa PD I dimana pada masa itu propaganda. Istilah “komunikasi massa” yang secara umum kita kenal, pada massa itu belum dikenal, yang digunakan adalah istilah “public opinion and propaganda”. Lippmann juga menyatakan bahwa peran media massa dalam membentuk opini public. Yang menjadi konsen Lippman adalah kebutuhan akan kebebasan media massa yang secara normative dan public yang terinformasikan.
Sedangkan Laswell adalah spesialis dalam melakukan investigasi propaganda. Disertasinya sendiri tentang analsis isi pesan propaganda oleh Jerman VS Perancis, Inggris, dan USA pada PD I. Analisisnya menggunakan model lima pertanyaan yang sangat terkenal: Who say what to whom via which channels with what effect?
· Paul F. Lazarsfeld (1940) Communication Effect and the Erie County Study
Paul Lazarsfel dikenal dengan focus kajiannya pada efek media massa, dia juga dikenal sebagai ilmuan sosial yang menggunakan metodologi kuatitaif dalam melakukan studi tentang perilaku pemilih yang dikenal dengan Erie County Study dalam pemilihan presiden. Dalam penelitian itu dia melihat bagaimana efek media massa dalam mempengaruhi perilaku pemilih dalam pemilihan presiden, penelitiannya tersebut menemukan bahwa media massa tidak banyak berpengaruh terhadap perilaku pemilih waktu itu, kebanyakan pemilih sudah menentukan pilihan sebelum masa kampanye dimulai.
· (Pasca) Perang Dunai II dan Awal Studi Komunikasi
Wilbur Schram adalah tokoh penting dalam proses menjadikan ilmu komunikasi sebagai satu bidang ilmu dari ilmu sosial. Schram berkontribusi dalam menngembangkan studi komunikasi sehingga studi tentang komunikasi menyebar di berbagai universitas di Amerik, dan memunculkan tokoh-tokoh seperti Paul J. Deutschman, Wayne Danielson,dan Steven H. Chaffe. Pasca PD I ini studi tentang komunikasi tidak hanya meneliti tentang dampak langsung dari media, melainkan juga dampak yang tidak langsung.
Sedangkan menurut Ryfe (2001) teori komunikasi politik pada awalnya dibangun oleh tiga disiplin ilmu, yaitu psikologi sosial, komunikasi massa. Diantara ketiga disiplim ilmu tersebut psikologi yang paling berpengaruh. Penelitian-penelitian awal tentang komunikasi politik dipengaruhi oleh psikologi sosial, Lasswell (1927)dengan studi propaganda politik hingga Handley Cantril & Gordon Allport’s (1935) dengan studi persuasi, Walter Lippman (1922)tentang opini public.
Pada Abad 21 politik mulai dilihat sebagai persaingan untuk memperoleh sumber daya yang terbatas. Bentley (1908/1967) berpandangan bahawa esensi politik adalah tindakan kelompok. Bentley membedakan kelompok berdasarkan kepentingannya, dan melihat bagaimana interkasi antar kelompok-kelompok tersebut. Ini dikenal juga dengan model pluralis. Selain Bentley ada David Truman (1951/1962) dan Robert Dahl (1956). Hal ini terkait dengan studi tentang pemilu dan kampanye.
Setelah itu studi komunikasi politik juga berkembang menjadi kajian tentang efek dan dampak . Disini studi komunikasi politik berfokus pada kajian tentang peran media massa dalam politik seperti agenda setting dan framing.

Pendekatan Multidisplin dalam Komunikasi Politik
Komunikasi politik bukan merupakan bidang ilmu yang berdiri sendiri, Dan Nimmo (1981) menegaskan bahwa “political communication as a field of inquiry is cross disciplinary “. Dari asal katanya sendiri sudah jelas setidaknya komunikasi politik terdiri dari dua bidang ilmu, yaitu ilmu politik dan ilmu komunikasi. Secara lebih luas, komunikasi politik pada dasarnya dilingkupi oleh berbagi disiplin ilmu lain..Komunikasi politik sebagai ilmu tidak memiliki batasan yang kaku dan steril dari berbagai disiplin ilmu lainnya, bahkan dikatakan batasan yang dimilinya sebagai permeable boundaries. Berikut ini diuraikan disiplin ilmu berkontribusi terhadap komunikasi politik :
1. Psikologi sosial
Peran psikologi sosial dalam komunikasi politik misalnya sikap nasionalisme, atau kebanggaan diri terhadap bangsa dan negara dapat menimbulkan motivasi dan membangkitkan emosi ketika ada faktor luar yang dianggap merendahkan/melecehkan. Contohnya adalah kemarahan orang Indonesia kepada Malaysia karena lagu Rasa Sayange diambil untuk promosi wisata Malaysia.
2. Matematika/statistic
Pada pengukuran opini public, digunakan metode penelitian yang menggunakan perhitungan matematis, seperti penentuan jumlah sampel, tingkat kepercayaan, margin of error, dan juga pada penggunaan teori peluang dalam teknik pemilihan sampel jika samopel diambil secara acak/random.
3. Sejarah
Sejarah adalah rekaman/tulisan dari peristiwa yang terjadi di masa yang sudah berlalu, dimana rekaman/tulisan tersebut dibuat oleh orang-orang yang memiliki perspektif tertentu tentang peristiwa itu. Oleh sebab itu selalu kita lihat adanya beberapa versi sejarah tentang satu peristiwa yang sama.
4. Filsafat
Demokrasi, adalah filsafat tentang kedaulatan individu. Pandangan ini mengaggap bahwa inividu memiliki hak untuk bebas berpendapat dan bereskpresi, memiliki hak untuk menentukan kebijakan-kebijakan public dan pengisi jabatan-jabatan kekuasaan. Secara komunikasi politik hal ini sangat jauh berbeda dengan pandangan otoritarianisme dimana kedaulatan individu tidak diakui dan sistem komado yang memaksakan kepatuhan kepada pemegang kekuasaan. Komunikasi politik pada sistem demokrasi adalah komunikasi yang bottom-up, sedangkan otoritarianisme hanya mengenal model komunikasi top-down.
5. Budaya
Manusia memiliki budaya yang beragam, nilai, norma, yang dianut pun berbeda satu sama lain termasuk juga perbedaan makna dari bahasa dan simbol. Keragaman budaya ini seharusnya membuat terjadi proses dialog dari berbagai perspektif budaya yang berbeda, atau bisa dikatakan diskursus public.
6. Ekonomi
Perspektif ekonomi dalam komunikasi politik sangat penting untuk diperhitungkan dimana media massa adalah bisnis dengan modal yang sangat besar, memiliki jaringan bisnis yang luas yang tidak mudah dimasuki oleh pebisnis yang kekurangan modal. Televisi sebagai media yang paling efektif menjangkau masyarakat membutuhkan modal yang besar untuk membangun infrastruktur dan memproduksi/membeli isi acara televisi.
Bisnis media yang ditopang oleh advertising akan menjadi persoalan ketika hal ini tidak bisa berdamai dengan tanggung jawab media dalam menyediakan public spehere. Kepemilikan silang dapat membuat isi media cenderung seragam, karena grup media massa yang memiliki banyak media cukup menduplikasi produk mereka pada semua media yang dimilikinya. Bias rating juga membuat membuat media massa cenderung tidak memilih produk yang laku dijual pada advertising dan selera konsumen, sehingga meninggalkan aspek kualitas dan pendidikan.
7. Seni
Komunikasi politik dapat diproduksi dengan berbagai kemasan, termasuk dalam kemasan seni, apapun jenisnya. Wayang misalnya merupakan satu bentuk kesenian yang dapat menjadi media komunikasi politik, pesan tentang bagaimana terjadi intrik politik dalam cerita perang Barata Yudha misalnya adalah salah satu contoh bagaimana seni wayang juga memiliki konteks komunikasi politik.
8. Bahasa
Bahasa sangat berperan dalam komunikasi politik, dimana konstruksi realitas dibentuk oleh bahasa yang digunakan. Pilihan bahasa yang berbeda dapat menciptakan makna yang berbeda. Hamas di Palestina misalnya, dapat disebut secara netral sebagai “ partai yang memeritah”, sedangkan media Amerika dan Israel menyebutnya kelompok “teroris”, tetapi media pendukungnya menyebutnya “pejuang” atau “mujahidin”.
9. Teknologi
Perubahan teknologi juga turut merubah praktik komunikasi politik, teknologi yang membuat komunikasi politik berkembang dimulai dengan media cetak seperti surat kabar, majalah, dan buku. Kemudian berkembang media radio, televise, dan film, lalu dilanjutkan oleh internet dengan menggunakan computer. Bahakan perkembangan teknologi telepon seluler yang lengkap dengan feature radio, televisi, dan internet sekaligus, saat ini semakin mempermudah setiap orang mendapatkan informasi.

Benchmark Komunikasi Politik
Benchmark dari komunikasi politik adalah well informed citizen. Dalam konsep ini, warga negara sudah berada pada tingkat bahwa mereka memiliki informasi yang lengkap dari berbagai alternative pilihan, sehingga ketika menentukan alternative mana yang akan dipilihan mereka dapat memilih secara rasional. Inilah yang hendak dicapai, komunikasi politik dianggap berhasil jika kondisi ini sudah terwujud. Namun diperlukkan beberapa prakondisi menuju tercapainya well informed citizen ini antara lain adalah:
1. Adanya akomodasi terhadap opini dan public sphere yang cukup luas agar terjadi public discourse
2. Adanya pendidikan politik pada masyarakat dengan menampilkan fakta yang
3. Adanya publisitas tentang peristiwa yang terjadi disekitar masyarakat.
4. Adannya peran media sebagai “watchdog” terhadap kebijakan public, perilaku politisi, baik pemerintah dan politisi partai politik.
5. Adanya peran advokasi media terhadap kepentingan public.
Menjadi persoalan ketika wahana sebagaimana disebutkan di atas tidak tersedia dengan baik. Untuk mewujudkan well-informed citizen tidaklah mudah, ada berbagai tantangan yang dihadapi untuk membuatnya menjadi nyata:
1. Kegagalan pendidikan politik yang menghasilakan apastisme politik, sehingga orang menarik diri untuk terlibat dalam politik sebagaimana yang dikatakan oleh Bobio atau ‘silent passivity’ dalam terminology Jean Boudrillard.
2. Tidak adanya pilihan, persoalan ini muncul karena tidak ada pilihan alternative yang untuk dipilih selain pilihan yang sudah biasa ada.
3. Kapitalisme dan kekuasaan. Jika dibalik prosedur politik yang demokratis ternyata ada kepentingan bisnis maka sulit bagi warga negara untuk mempengaruhi kebijakan publik
4. Manipulasi opini dan menutup-nutupi informasi jika poltisi merasa tidak menguntungkan dan justru membahayakan kepentingan mereka. Misalnya jika aspirasi masyarakat ditutup-tutupi atau masyarakat tidak diberikan kesempatan untuk menyatakan pendapat secacara terbuka di ruang public.
5. Rendahnya objektifitas media dan media partisan yang menyebabkan terjadinya distorsi informasi.
Dalam konteks komunikasi politik di Indonesia, dalam kasus pemilu atau pilkada misalnya, menuju well informed citizen masih mengalami banyak tantangan. Dari satu aspek misalnya, soal ketidaktersediaannya alternative pilihan bagi masyarakat. Pilihan partai politik, presiden, kepala daerah di Indonesia, tidak menawarkan tawaran yang berbeda. Kampanye pada umumnya hanya mengungkapkan janji-janji yang normative, tidak spesifik pada isu dan program tertentu.
Menurut Efendi Gazali (Kompas Cyber Media), idealnya kampanye politik adalah “kampanye platform” sebagaimana diungkapkan Mendosa dan Jamieson (2001), yaitu kampanye yang isinya adalah prospective policy-choice. Prinsipnya adalah keyakinan, kampanye merupakan sebuah kesempatan bagi pemilih untuk mebandingkan dan mempertentangkan posisi-posisi kebijakan yang spesifik dan rinci dari para kandidat, lalu memilih yang terbaik diantara penyajian janji-janji itu.

Baca selengkapnya...

Selasa, 24 Maret 2009

Sejarah Perkembangan Ilmu Komunikasi

1 komentar

Ilmu komunikasi merupakan ilmu pengetahuan yang tergolong muda. Sekalipun pada sisi yang lain, sejarah perkembangan ilmu komunikasi sudah tua sejak masa Yunani dan baru dirumuskan dalam era modern sebagai ilmu baru sejak dekade PD II.
Dewasa ini penelitian-penelitian komunikasi terus menerus dilakukan. Sejumlah jurnal ilmiah dalam bidang komunikasi terbit. Sejumlah karya ilmiah telah menjadi karya klasik dalam ilmu komunikasi seperti The People Choice, The Passing of Traditional Society, Mass Media and National Development, Personal Influence, Understanding Media, The Process and Effect of Communication, Public Opinion, dan sebagainya.
Demikian pula sejumlah figurnya seperti Paul F. Lazarfeld, Wilbur Schramm, Harold Lasswell, Walter Lippmann, Bernard Berelson, Carl Hovland, Elihu Katz, Daniel Lerner, David K. Berlo, Shannon, McComb, George G. Gebner, dan sebagainya telah dikenal sebagai tokoh-tokoh dalam kajian ilmu komunikasi.
Sedangkan di Indonesia terdapat sejumlah figur penting dalam bidang Ilmu Komunikasi seperti M. Alwi Dahlan, Astrid Susanto Sunario, Andi Muis, Jalaludin Rahmat, Ashadi Siregar, Anwar Arifin, Hafid Changara, Dedy N. Hidayat, Marwah Daud Ibrahim, Onong Efendi Uchayana, dan sebagainya. Karya-karya mereka telah memberi warna bagi eksistensi kajian ilmu komunikasi di Indonesia.
Ilmu Komunikasi merupakan fenomena Amerika, bila kita lihat dari penggunaan sebutan Ilmu Komunikasi. Perhatikanlah, di Indonesia pada awalnya lebih dikenal pendidikan Publisistik. Istilah yang menandakan meneruskan tradisi Jerman. Namun sejak dekade 70-an mulai digunakan istilah Ilmu Komunikasi dimana pendidikan jurnalistik hanyalah salah satu bidang yang terutama masuk dalam kelompok komunikasi massa.
Jejak tradisi Amerika dalam kajian ilmu komunikasi di Indonesia dapat dilihat melalui figur M. Alwi Dahlan yang berkesempatan belajar langsung pada para perintis kajian Ilmu Komunikasi seperti Wilbur Schramm, Elihu Katz, Gregory Bateson, dan sebagainya. M. Alwi Dahlan, doktor komunikasi pertama Indonesia ini, pada tahun 60-an sudah lulus dan berkiprah di Indonesia. Upaya M. Alwi Dahlan mengenalkan Ilmu Komunikasi tampak baik melalui Fisip UI maupun lembaga seperti penerbitan atau riset serta kantor

pemerintahan. Tentu saja juga melalui organisasi seperti ISKI, Perhumas, dan terakhir menjadi Menpen.
Kenyataannya dalam pendidikan tinggi komunikasi di Indonesia, dominasi kiblat tradisi Amerika dari kalangan administratif riset menonjol. Studi Ronny Adhikarya telah menunjukkan hal ini. Kecenderungan ini rupanya tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga umumnya di Asia Tenggara, dan juga di benua lain.
Ilmu Komunikasi berawal dari dekade 40-an ketika Amerika menghadapi propaganda dalam rangka menghadapi peperangan. Beberapa prakondisi ketika itu adalah adanya ancaman Nazi dalam memperluas kekuasaannya, kebutuhan untuk mendapat dukungan rakyat dalam rangka menghadapi perang dunia kedua, dan kebutuhan mempelajari propaganda lawan seperti Jerman. Maka dalam konteks inilah kajian komunikasi dirintis. Kemudian setelah masa perang, tradisi ini kemudian dilanjutkan bagi kepentingan dunia komersial.
Sejumlah ilmuwan yang dikumpulkan pemerintah—dalam hal ini departemen pertahanan—berkumpul dalam rangka kepentingan menghadapi peperangan. Beberapa figur tersebut, yang kemudian dilembagakan Scramm menjadi ilmu komunikasi, seperti Paul F. Lasarfeld, Hovland, Lasswell, Berelson, Shannon, Scramm, dan sebagainya. Setelah PD II, kajian komunikasi yang muncul dalam konteks perhatian yang besar terhadap propaganda dilanjutkan bagi kepentingan dunia industri.
Generasi yang melahirkan Ilmu Komunikasi ini yang kelak dikenal sebagai kelompok administrative riset cenderung mengembangkan komunikasi sebagai fenomena transmisi, yakni pengiriman informasi. Tidak heran pula, kajian komunikasi dominan sebagai kajian komunikasi massa. Dalam konteks inilah kita mengenal sejumlah model komunikasi seperti Shannon, Lasswell, Scramm, SMCR dan sebagainya.
Demikian pula penelitian komunikasi identik dengan kajian tentang media. Seperti Content Analysis, Uses & Gratification, Agenda Setting, Cultivation Analysis, survey dampak media, dan sebagainya. Model penelitian ini sudah familiar dalam kajian komunikasi. Namun sekali lagi menunjukkan dominannya kajian komunikasi massa.
Dewasa ini kita memerlukan untuk memahami tentang pentingnya memperhatikan kajian komunikasi yang lebih komprehensif. Bahwa komunikasi massa hanyalah salah satu bidang kajian dalam Ilmu Komunikasi. Padahal disebutkan bahwa awal abad 20 kajian lebih banyak tentang fenomena retorika. Sementara tahun 70-an mulai muncul kajian tentang komunikasi antar personal. Bidang-bidang seperti ini kelihatan belum begitu berkembang di Indonesia.
Satu hal penting pula yang perlu dipaparkan bahwa terjadi pergeseran penting dalam pandangan mengenai komunikasi di Amerika. Yakni pada awalnya, pemahaman tentang komunikasi berangkat dari pandangan yang humanistik sebagaimana dikembangkan kelompok Chicago. Tapi dengan munculnya kelompok administrative riset di masa propaganda tahun 40-an, terjadi perubahan cara pandang terhadap makna komunikasi. Dalam konteks ini dapat dimengerti kemudian pandangan filosofis tentang komunikasi mengalami pergeseran. Walaupun kemudian, menurut Everret M. Rogers, dewasa ini model komunikasi sebagai pemaknaan (meaning) juga mulai mendapat tempat kembali. Pendekatan yang lebih interpretatif yang kembali merujuk pada Max Weber, dan semacamnya.
Untuk itu perlu pula untuk memperhatikan tentang pandangan dalam memahami makna komunikasi. James W. Carey menyebut komunikasi bisa dilihat dalam dua cara pandang. Pertama model transmisi dan kedua model meaning atau ritual. Model kedua belum banyak diungkap. Hal ini dapat dimengerti karena terjadi fenomena di mana sejak kehadiran model komunikasi model Shannon yang linier telah menjadi mainstream dalam memahami makna komunikasi. Padahal sebelumnya, akar kajian komunikasi di Amerika sangat humanistik atau dalam hal ini berada dalam model meaning. Hal inilah yang terjadi.
Satu hal yang menarik bahwa dua model komunikasi diatas tidak lepas dari perkembangan peradaban Barat. Misalkan model transmisi dapat ditarik pada perkembangan peradaban di Barat ketika muncul modernisasi. Ketika terjadi aufklarung, rasionalitas manusia berkembang. Dalam masa ini ditandai arti penting transportasi seperti penjelajahan samudera atau dalam konteks Amerika dibangunnya jalan raya atau rel kereta api yang mampu menghubungkan daerah-daerah baru. Maka dalam konteks ini terjadi pemindahan barang dan orang serta tentunya ide-ide. Sehingga pendatang, yang kemudian mendatangi daerah-daerah baru, kemudian terjadi eksplorasi dan seterusnya. Dalam konteks semacam ini model transmisi dalam komunikasi berkaitan dengan pemindahan informasi di mana kontrol komunikator menjadi penting. Dengan pandangan kritis, dapat kita katakan model transmisi telah ditandai dengan eksploitasi, penguasaan, dan semacamnya.
Berbeda dengan model meaning, yang mencoba untuk melihat komunikasi berkaitan dengan upaya untuk membangun komunitas (maintain community). Sebuah kolektifitas yang akur, hangat, dan semacamnya. Kehidupan kelompok yang hangat dan akrab. Model ini dikembangkan dalam generasi Chicago, sebuah masyarakat perkotaan yang di awal abad 20, di mana dalam keanekaragaman hendak mencoba untuk membangun dan memelihara komunitas. Maka komunikasi dikaitkan dengan upaya untuk memelihara nilai-nilai ini. Maka dalam cara pandang ini berkaitan dengan upaya untuk memelihara yang telah ada. Komunikasi berkaitan dengan upaya untuk membangun integrasi.
Menjadi penting untuk disadari bahwa dewasa ini kembali perhatian muncul terhadap pendekatan budaya (cultural studies) ini. Dengan demikian, fenomena cultural studies dalam kontek tradisi pragmatis Amerika dapat dipahami dalam konteks ini. Seorang tokohnya, James W. Carey, dalam tulisan-tulisannya mencoba membahas cultural studies dalam kaitannya dengan tradisi pragmatis dari Chicago ini.
Upaya untuk menoleh kembali pada cara pandang mengenai komunikasi sebagai fenomena pemaknaan (meaning) tampaknya ketika terjadi kejenuhan terhadap dominasi dari tradisi kajian komunikasi dari generasi administratif riset yang telah mendominasi selama beberapa dekade.

Perkembangan Kajian Komunikasi
Julia Wood mengamati perkembangan kajian komunikasi dalam perkembangan trend berikut ini. Bahwa terdapat relasi antara perkembangan dalam kehidupan sosial dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Pada dekade 40-an, perhatian ilmuwan banyak mengenai upaya memahami obedience, conformity, dan prejudice. Tema-tema ini yang berkembang setelah PD II. Pada masa itu belum ada masalah seperti HIV sebagaimana sekarang. Demikian pula, pada decade 90-an terdapat perhatian terhadap soal komunikasi berkaitan dengan soal seksualitas (Bowen & Michal Johnson, 1995, 1996).
Dulu perhatian juga lebih banyak mengenai hubungan antar pribadi seputar hubungan romantis dikalangan remaja sekolah, kalangan menengah Eropa Amerika, able bodied heterosexuals bagi yang tinggal berdekatan. Belakangan ini berkembang kesadaran mengenai pluralisme budaya yang memotivasi ilmuwan meneliti dan mengembangkan teori mengenai kalangan gay dan lesbian ((Huston &Schwartz, 1996), relasi antar individu dikalangan orang dewasa (Dickson, 1995), relasi dikalangan anggota budaya minoritas(Gaines, 1995), pernikahan permanen diantara individu dewasa, relasionsip dilakukan melewati sistim komunikasi elektronik (Lea & Spears, 1995), dan relasionsip jarak jauh (Rohlfing, 1995)
Contoh lain mengenai pengaruh budaya pada pengembangan ilmu pengetahuan adalah penekanan pada individu pada sebagian besar teori komunikasi Barat (Western). Pada masyarakat lain seperti Asia, nilai-nilai kolektif atau komunal lebih dihargai. Jadi teori-teori dari Timur (Oriental) melihat bagian terkecil pada kolektifitas. Dan tidak pada individu. (Wenzhong & Grove, 1991). Perhatian mengenai hubungan yang saling bergantung (interdependent) lebih penting daripada independent (Chang & Holt, 1991). Selanjutnya, ideologi dominan dalam budaya kolektif menekankan harmoni, konformity pada kelompok, kerendahhatian (humility), dan perbedaan yang kontras pada budaya individualis yang menekankan pada pernyataan (assertion), kepercayaan diri, otonomi, dan konflik (Berg&Jaya, 1993; Klopf, 1991).
Bertentangan dengan teori-teori komunikasi Barat yang menekankan pada perhatian utama pada pemunculan diri (self disclosure), ahli teori Timur telah menunjukkan sedikit minat pada penunjukkan (revelations) pribadi dan menunjukkan emosi, yang menunjukkan kemarahan (frowned upon) pada banyak masyarakat Timur (Ishii&Bruneau, 1991; Johnson & Nakanishi, 1993; Ting—Toomey, 1991). Hal ini menunjukkan dimana perhatian dan ideologi budaya membentuk sifat teori pada momen yang telah ada dalam kehidupan suatu masyarakat. (Wood, 359-360).
Bagaimana dengan perkembangan kajian komunikasi di Indonesia ? Mengamati beberapa penelitian penting : Rusdi Muhtar tentang dampak menonton televisi di Sulawesi Selatan, Wilbur Schramm, Gon Cu, Alfian tentang dampak satelit palapa di Indonesia, Marwah Daud Ibrahim tentang satelit palapa, Harsono Suwardi tentang peran suratkabar dalam komunikasi politik, Ibnu Hamad tentang wacana politik, Ishadi tentang televisi, Prof achmad tentang pers Indonesia, Bahtiar Aly tentang pers Indonesia, M. Alwi Dahlan tentang komunikasi politik, Efendi Ghazali meneliti tentang komunikasi politik di Indonesia periode pasca orde baru dan sebagainya. Disini juga menjadi penting untuk diperhatikan, bagaimana akar tradisi Eropa sudah lama di Indonesia dalam kaitannya dengan kajian komunikasi.
Selain itu terdapat pula sejumlah kajian yang tidak dihasilkan ahli komunikasi, tapi sangat penting bagi kajian komunikasi. Smith tentang sejarah pembreidelan pers di Indonesia, Ahmad Adam dari Malaysia tentang pers pergerakan di Indonesia, Tickell tentang pers di Indonesia, David T. Hill tentang Mohtar Lubis dan Pers Indonesia. Philip Kitley tentang fenomena dunia televisi swasta yang muncul di Indonesia diakhir 1990-an. Krisna Sen tentang film Indonesia.
Bila diawal, kajian komunikasi di Indonesia ditandai tentang kajian jurnalistik. Kini dalam perkembangan, bidang komunikasi meluas. Jurnalistik hanyalah salah satu bidang kajian. Terdapat bidang humas, periklanan, kajian tentang televisi, radio, kehadiran media-media baru seperti internet, dan sebagainya. Pada sisi lain tampak misalkan belum ada penelitian humas yang sampai menjadi pembicaraan di Indonesia. Juga kita kekurangn ahli kajian periklanan, radio, dan sebagainya. Inilah lahan yang perlu untuk dipertimbangkan para sarjana komunikasi.
Mengamati kecenderungan, kajian lulusan komunikasi umumnya dominant dalam bidang komunikasi massa. Demikian pula pakar komunikasi dapat dilihat umumnya sebagai pakar komunikasi massa. Masih sedikit yang muncul atau mendalami bidang lain seperti komunikasi organisasi, kajian public relations, komunikasi antar budaya, dan sebagainya. Maka hal inilah yang penting menjadi agenda pengelola pendidikan tinggi komunikasi agar juga mengembangkan aspek kajian diluar komunikasi massa (media studies). Sedikit pakar seperti Dedy Mulyana yang mendalami kajian komunikasi antar budaya tersebut atau Budyatna yang mendalami komunikasi antar pribadi.

Kajian Komunikasi di Indonesia
Kajian komunikasi sebagai sebuah kajian teoritis terus menerus dikembangkan. Para ahli terus menerus melakukan penelitian menguji teori hasil penelitian dalam bentuk-bentuk seminar-seminar. Di negara-negara maju tampak melalui sejumlah forum dan jurnal-jurnal yang diterbitkan. (lihat little john pada bab penutup).
Fenomena kajian komunikasi di Indonesia menunjukkan beberapa fenomena berikut.
Di Indonesia, aktivitas ilmiah dalam kajian komunikasi dapat dilihat melalui kegiatan yang diadakan oleh kampus dan ISKI atau Perhumas. Bahkan tampak pula kemunculan lembaga baru humas yaitu Public Relation Society of Indonesia yang diketuai August Parengkuan dan sekjennya adalah Magdalena Wenas, seorang praktisi PR senior Indonesia. Tampaknya institusi semacam ini yang terlihat melakukan. Demikian pula tampak melalui lembaga LSM seperti Media Watch seperti ISAI, LSPP, LKM, dan sebagainya.
Disatu sisi terdapat booming peminat kajian komunikasi berkat perkembangn media industri. Terlebih dengan hadirnya televise swasta. Namun disisi lain, kajian komunikasi belum begitu menunjukkan kecepatan yang memadai. Yang cukup menggembirakan adalah munculnya literatur komunikasi yang ditulis oleh tokoh-tokoh muda seperti Deddy Mulyana, Eriyanto, Nurudin, Wirjanto, Alex Sobur, dan sebagainya. Dulu, untuk beberapa lama, yang tampil adalah tokoh sepeti Onong U. Effendi, Jalaludin Rahmat. Figur lain yang tampil aktif dalam menulis adalah Ashadi Siregar, Novel Ali, A Muis, Ana Nadya Abrar, Sinansari Ecip, Ade Armando, Effendi Ghazali, dan sebagainya. Mereka tampil dalam tulisan artikel di media massa.
ISKI telah menerbitkan jurnal ISKI. Dibanding pada edisi awal kondisi belakangan semakin baik, yang diterbitkan oleh Rosda Karya. Namun belakangan frekuensi terbitnya semakin tidak teratur. Sebelumnya telah pula ada Jurnal Audientia yang diterbitkan di Bandung oleh figure seperti Dedy Djamaludin Malik. Namun dewasa ini tidak lagi terbit.
Sementara aktivitas besar dalam kegiatan ilmiah belum kelihatan. Dulu, Wilbur Schramm pernah melakukan penelitian di Indonesia tentang Palapa. Selebihnya, kajian yang serius barangkali tampak melalui hasil disertasi seperti yang sudah diterbitkan adalah Harsono Suwardi tentang komunikasi politik. Penelitian lain yang sering dirujuk adalah karya Rusdi Muhtar tentang pengaruh televisi dikalangan masyarakat di Sulawesi Selatan. Yang agak baru adalah penelitian Efendi Gazali tentang komunikasi politik di Indonesia. Betapa miskinnya keberadaan bacaan komunikasi di Indonesia.
Terakhir yang tampak : tentang pers Indonesia masa kolonial oleh sejarawan Malaysia Ahmad Adam, karya Philip Kitley tentang televisi di Indonesia, Paul Tickell tentang pers Indonesia, . Dulu pernah ada penelitian tentang pembreidelan pers di Indonesia oleh Smith. Sementara Daniel Dhakidae dengan pendekatan ekonomi politik meneliti pers industri masa orde baru. Demikian pula David T. Hill tentang Mochtar Lubis dan pers orde baru. Demikian pula terdapat Ronny Adhikarya yang meneliti tentang pendidikan komunikasi di Asia, salah satunya di Indonesia. Juga Akhmad Adam tentang pers masa colonial.
Beberapa disertasi seperti Marwah Daud Ibrahim tentang satelit palapa, Bahktiar Aly tentang pers Indonesia, dan sebagainya. Ibnu Hammad tentang analisis wacana pers Indonesia. Ishadi SK tentang fenomena televise di Indonesia. M. Alwi Dahlan menulis disertasi tentang komunikasi politik.
Sejumlah PT tampak menonjol seperti Departemen Komunikasi UI, Unpad, UGM, Unhas. Sedangkan beberapa yang lain seperti Undip, Unair, UNS. Sedangkan swasta tampak seperti IISIP, dan sebagainya. Tentu saja fenomena lain seperti sejumlah PTN dan PTS yang membuka jurusan Ilmu Komunikasi.
Maka bagaimana prospek dan arah kajian komunikasi di Indonesia kedepan ? Rasa-rasanya wacana kajian komunikasi di Indonesia belum begitu hangat memperbincangkan hal ini. Tampaknya dibutuhkan peran aktiv lembaga kajian komunikasi. Dalam hal ini terutama kalangan kampus melalui pusat studi komunikasi. Diskusi-diskusi tentang buku-buku penting dalam bidang komunikasi, hasil-hasil penelitian komunikasi di Indonesia, sosialisasi hasil-hasil pemikiran, dan sebagainya.
Merindukan kajian komunikasi yang dinamis tampaknya masih jauh. Padahal persoalan ditengah-tengah masyarakat kita tidak sedikit. Peran ilmu komunikasi tentunya sangat diharapkan. Seperti kecemasan terhadap dampak televise, vcd, dan sebagainya. Masih jelas dalam ingatan, ketika temu mahasiswa komunikasi se Indonesia di Undip Semarang (1994) muncul wacana tentang sebaiknya ISKI dibubarkan karena tidak memiliki kontribusi bagi persoalan komunikasi di Indonesia. Terlebih ketika itu, sedang terjadi Pers Breidel terhadap Tempo Editor Detik dimana suara ISKI tidak terdengar.
Namun demikian hingga dewasa ini, ISKI masih satu-satunya yang dapat rutin melakukan kegiatan. Seperti tampak melalui simposium kurikulum yang reguler diadakan. Tentu saja wacana yang berkembang disini menjadi penting untuk diperhatikan dan menjadi rujukan bagi berbagai kalangan. Terutama lembaga pendidikan tinggi komunikasi yang semakin banyak jumlahnya.
Tampaknya agenda ke depan perlu untuk semakin menjadikan ilmu komunikasi dapat berfungsi dalam kehidupan bermasyarakat. Melalu penerbitan jurnal, diskusi, buku, penelitian, dan sebagainya. Partisipasi dari berbagai kalangan sangat diperlukan.
Ada hal yang menarik dari figure pakar komunikasi M. Alwi Dahlan. Yakni ketika beliau dalam perjalanan karir panjangnya sebagai pakar komunikasi dimana upaya untuk menunjukkan kontribusi keberadaan ilmu komunikasi di Indonesia ketika beliau diangkat menjadi menteri penerangan RI terakhir masa Soeharto. Setelah sebelumnya lama menjadi staf ahli di kementerian lingkungan hidup. Melalui jabatan sebagai menteri sebagai keberhasilan dalam mengenalkan kajian komunikasi di Indonesia.
Maka kini dengan tingginya minat masyarakat memasuki bidang ilmu komunikasi menjadi penting untuk dijelaskan. Kalangan yang bergerak dalam penyelenggaraan bidang pendidikan komunikasi perlu untuk mengangkat wacana tentang hal ini. Semakin sering memperbincangkan sehingga didapat pemikiran yang semakin matang. Yang pada akhirnya dapat memperkuat keberadaan ilmu komunikasi di Indonesia.
Rasanya menjadi sesuatu yang janggal ketika masyarakat semakin berminat memasuki bidang ilmu komunikasi, namun perbincangan dikalangan komunitas pengkaji ilmu komunikasi tidak intens. Rasa-rasanya terdapat persoalan besar dan mendasar dalam hal ini. Betapa lemahnya tradisi keilmuan kita. Dan rasa-rasanya ini tidak pernah tuntas dan habis-habisnya.

Mengajar Ilmu Komunikasi dan Cultural Studies
Belajar Ilmu Komunikasi dewasa ini kita berada dalam suatu pola baru. Artinya, ternyata tidak hanya belajar apa yang disebut sebagai ilmu komunikasi tapi sekaligus juga cultural studies. Dasarnya adalah apa yang berkembang dewasa ini dalam pendidikan tinggi komunikasi yang mulai mengangkat tema-tema kajian yang popular dari tradisi cultural studies.
Untuk menjelaskan mengenai keterkaitan antara Ilmu Komunikasi dengan Cultural Studies ini mengacu pada perdebatan yang pernah terjadi pada decade 60-an dengan tokoh utamanya Raymond William. Tokoh dari Inggeris ini memandang bahwa kajian ilmu komunikasi versi Amerika yang pada awalnya khusus mengkaji komunikasi massa atau media studies. Tentunya yang dimaksud berada dalam konteks kemunculan kajian ilmu komunikasi produk generasi 40-an yang terlibat dengan proyek Amerika untuk menghadapi PD II. Model kajian komunikasi dari generasi ini merupakan kajian komunikasi model transmisi ketika model Shannon Weaver telah menggeser kecenderungan kajian komunikasi menjadi semacam ini dan seketika model kajian komunikasi ala Chicago semakin memudar. Sebagaimana kita ketahui, model Chicago menarik dimana kajian komunikasi lebih humanistik. Kajian komunikasi dilakukan dalam rangka untuk membangun komunitas.
Menurut William, media massa hanyalah salah satu komponen dari kebudayaan (cultural studies). Maka mestinya kajian komunikasi itu lebih tepat sebagai Cultural Studies. William dalam konteks Eropa, Kelompok yang muncul sejak dekade 60-an ini, mencoba melihat komunikasi sebagai bagaian dari kajian budaya. Terutama lagi perhatian terhadap kesenjangan, konflik, kelompok minoritas, dan semacamnya. Cultural studies memberi perhatian terhadap kelompok minoritas dan memandang realitas terdiri atas banyak konflik yang masing-masing mewakili identitasnya. Dan konflik yang dimaksud adalah konflik ideologi. Tokoh terakhir terpenting dari aliran ini adalah Stuart Hall.
Sesungguhnya, tradisi Chicago—yang merupakan salah satu tradisi kajian awal komunikasi di Amerika–dikenal memiliki kedekatan dengan tradisi ilmu sosial Eropa yang berada dalam paradigma interpretatif. Sekalipun kemudian agaknya dapat disebutkan pula, kajian budaya tradisi Chicago di Amerika dapat disebutkan bahwa mereka tidak berkecenderungan pada Marxisme sebagaimana kecenderungan cultural studies di Eropa, terutama dari Birmingham sejak dekade 60-an berangkat dari neo Marxisme.
Sementara kita ketahui bahwa tradisi Amerika yang muncul dari generasi tahun 40-an telah menjadi mainstream termasuk di Indonesia. Maka dalam pendidikan tinggi komunikasi literatur pun merujuk pada tradisi ini, sebagaimana dapat dilihat populernya figur-figur seperti Scramm, Hovland, Lazarfeld, Berlo, Shannon Weaver, Berelson, Merton, dan sebagainya. Jadi faktor ini pula dapat dimengerti ketika terjadi perubahan nama dari Jurusan Publisistik yang menunjukkan pengaruh tradisi Jerman menjadi Jurusan Ilmu Komunikasi. Indonesia yang sedang membangun dengan proyek modernisasi di bawah Orde Baru banyak berkiblat ke Amerika. Dalam konteks ini pula kelahiran Ilmu Komunikasi Amerika sejalan dengan proyek modernisasi Amerika setelah keluar sebagai pemenang dalam PD II.
Tidak bias dipungkiri bahwa model transmisi telah berjaya pada masa Orde Baru. Masa pembangunan dan industri berkembang. Sementara kajian cultural studies terdengar dari sudut kepentingan yang lebih reformis untuk mengadakan pembaharuan dan kritik terhadap mainstream. Dalam konteks Indonesia, pendekatan semacam ini telah menjadi pilihan kalangan intelektual kritis dan penggiat masyarakat. Maka sejak dekade awal 90-an perhatian terhadap cultural studies mulai terdengar, termasuk dalam konteks kajian komunikasi.
Tidak dapat dipungkiri bahwa dominannya tradisi Amerika dalam pengajaran komunikasi kita. Idealnya memang keseluruhan perspektif dikenalkan sehingga kemudian mahasiswa sendiri yang menentukan pilihan. Beberapa teman mengalami hal semacam ini. Ada keterlambatan menyadari adanya perspektif lain dalam kajian ilmu komunikasi.
Bila Ilmu Komunikasi (Massa) banyak memberi perhatian kepada kajian media (media studies), maka cultural studies memperhatikan banyak hal. Cultural studies mencoba menjelaskan tentang fenomena masyarakat kontemporer, dalam pengertian masyarakat informasi atau masyarakat kapitalisme lanjut. Misalkan beberapa tema yang dikaji adalah tentang lifestyle, fashion, sub culture, atau kelompok-kelompok minoritas. Asumsi yang digunakan dalam hal ini adalah adanya konflik ideologi atau identitas di masyarakat.
Maka kini ketika mengajarkan Pengantar Ilmu Komunikasi atau Teori Komunikasi—bahkan Filsafat dan Etika Komunikasi, kedua-keduanya harus diajarkan. Apa yang ditampilkan LittleJohn dalam bukunya menunjukkan kecenderungan semacam ini pula. Artinya, keseluruhan paradigma telah diakomodir. Tidak lagi dalam konteks kajian komunikasi massa terutama generasi Lazarfeld, Schramm, Lasswell, dan semacamnya. Demikian pula buku Rogers, A History of Communication Study ; A Biographycal Approach menunjukkan adanya fenomena cultural studies yang perlu pula ditelaah kalangan pengkaji ilmu komunikasi. Demikian pula John Fiske juga menunjukkan keberadaan dua paradigma besar yakni Empirisme School dan non empiris (semiotic, postrukturalist, etc).
Hal lain yang perlu juga untuk dikemukakan adalah pendekatan berdasarkan nilai-nilai ‘Timur”. Dalam konteks ini pandangan dari Timur seperti Asia atau Middle East yang berangkat dari Tradisi Agama Islam atau kepercayaan seperti Hindu, Budha, Tao, dan sebagainya. Sehingga kita bias lebih utuh untuk melihat kajian ilmu komunikasi. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa kajian komunikasi (Ilmu Sosial pada umumnya, pen) dalam tradisi Barat (Amerika dan Eropa) tidak dapat dilepaskan dari pandangan Judeo Cristian yang berakar dari tradisi Yunani dan Romawi.
Salah satu hal penting dari tradisi Timur adalah cara berfikir yang holistik, tidak menekankan pada individu tapi kolektivitas, serta pentingnya emosi dan spiritualisme. Tentu saja kecenderungan semacam ini akan mempengaruhi proses keilmuan. Sementara Barat sangat rasional empiris, individu sebagai pusat, pentingnya kompetisi, dan sebagainya. Dari sini kita dapat melihat bagaimana keterkaitan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat tersebut.
Hal ini dapat dirujuk pada buku seperti The Asian Perspective of Communication Theories. Misalkan beberapa pemikiran dari tradisi Islam dapat dilihat dalam tulisan-tulisan Hamid Mowlana, Mohammad Ayis.
Umumnya yang dikembangkan selama ini, kajian ilmu komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi massa dalam konteks Amerika. Maka figur yang dikenal adalah Lasswell, Schramm, Lazarfeld, Berelson, Shannon, Katz, dan sebagainya. Ketika hal ini ditanyakan kepada Prof M. Alwi Dahlan, menurutnya hal ini berkaitan dengan orientasi pendidikan untuk memenuhi kebutuhan dunia kerja. Tampaknya hal ini dapat dimengerti, karena model transmisi yang sering disebut sebagai kajian administratif memang diperlukan bagi dunia industri atau Negara dalam hal ini tentang komunikasi pembangunan dalam konteks modernisasi. Mungkin ini yang disebut sebagai rasionalitas instrumental.
Belum terdengar figur dari Eropa misalkan seperti Raymond William, Stuart Hall, Boudrilard, dan sebagainya. Atau kalaupun dari Amerika belum terdengar figur Douglas Kellner, James W. Carey, dan sebagainya.
Namun pada dekade 90-an muncul wacana postmodernisme yang diantaranya telah mengenalkan kajian tentang wacana, semiotik, hermeneutik, dan sebagainya. Sebuah kajian yang berjalan beriringan dengan gerakan prodemokrasi di Indonesia. Suasana ketika kritik terhadap proyek modernisme telah berlangsung. Sementara kajian cultural studies yang berwatak reformis mendapat tempat karena memperhatikan kalangan yang tertindas, lemah, dan semacamnya.
Maka kini dalam era transisi menuju demokrasi dan reformasi, keberadaan kajian ini masih berlangsung. Dapat dijumpai dalam kajian tentang multikulturalisme. Termasuk juga alat analisis untuk melihat sejumlah gejala kontemporer seperti gaya hidup, budaya kapitalisme lanjut, kelompok-kelompok komunitas (subculture) dan sebagainya.
Dalam konteks semacam ini kajian komunikasi dewasa ini diajarkan. Walaupun di sisi lain juga terdapat kondisi. Agar terdapat keutuhan dalam memahami pengertian komunikasi.
Maka dapat dilihat betapa dalam tradisi keilmuan kita jumpai perdebatan paradigmatik. Senantiasa terjadi dialog antar paradigma. Hal ini tentu saja berkaitan dengan keberadaan ilmu tersebut yang berkaitan dengan kondisi masyarakat ketika itu. Misalnya, Chicago School berkaitan dengan kondisi masyarakat urban yang heterogen dimana ada kebutuhan untuk membangun kebersamaan. Maka kajian ilmu sosial lebih humanistik. Sementara model transmisi yang muncul dalam konteks ketika ada kepentingan untuk mengembangkan propaganda baik dalam konteks politik maupun industri. Maka kajian ilmu sosial pun dalam kepentingan melakukan propaganda. Demikian pula model cultural studies di Eropa yang disuarakan oleh mereka yang peduli terhadap kalangan minoritas seperti perhatian Raymond William terhadap kalangan pekerja di Inggris yang diteruskan pula oleh Stuart Hall. Atau dalam konteks Amerika, kajian cultural studies berkaitan dengan kritik terhadap industri atau modernisasi.
Demikian pula seperti Komunikasi Antar Budaya yang dikembangkan Amerika ketika memiliki kebutuhan untuk memahami bangsa lain. Amerika setelah PD II keluar sebagai pemenang dan memimpin proyek modernisasi. Disatu sisi terdapat iklim dimana para politisi mereka kurang memahami bangsa lain yang sering menjadi kesulitan dalam melakukan hubungan. Maka dengan melibatkan para ahli antropologi seperti Edward Hall, maka peletakan dasar kajian Komunikasi Antar Budaya dilakukan.
Demikian pula untuk Komunikasi Internasional yang juga tidak terlepas dari kebutuhan Amerika dalam menghadapi interaksi yang semakin intens dengan bangsa lain. Maka kajian tentang Komunikasi Internasional menjadi sesuatu yang penting dilakukan. Salah satu yang mempelopori adalah Wilbur Schramm, yang pernah meneliti ketika Perang Korea. Kaitannya dengan komunisme.Tokoh lain dalam komunikasi internasional adalah Hamid Mowlana, Majid Tehranian, dan sebagainya.
Bahwa tema lain yang penting pula adalah dari pada ilmuwan yang memperhatikan kepentingan negara-negara dunia ketiga. Bahwa tema-tema yang berbeda dengan kecenderungan yang dikembangkan dalam pemikiran Barat. Misalkan dapat disimak dari tulisan Majid Tehranian tentang komunitarian, yang memberi arti penting pemimpin komunitas. Demikian pula isu Tata Informasi Dunia Baru. Juga soal komunikasi pembangunan untuk kepentingan proyek modernisasi. Tentu saja dalam konteks komunikasi ini juga dipakai.Kritik terhadap teori modernisasi juga muncul dengan hadirnya teori dependesia.
Maka menarik untuk mencermati bahwa kondisi yang dihadapi masyarakat Indonesia dewasa ini menjadi penting untuk dipertimbangkan untuk konteks kajian ilmu komunikasi. Sejumlah persoalan misalkan transisi menuju demokrasi, konflik politik, pemikiran keagamaan, dan sebagainya. Demikian pula konsumerisme.
Misalkan menjadi penting untuk mengembangkan kajian komunikasi antar personal, terutama untuk kepentingan masalah komunikasi keluarga, resolusi konflik, komunikasi organisasi, dan sebagainya. Demikian juga komunikasi dalam dunia pendidikan, yang sangat kental dengan pendekatan komunikasi antar personal.
Untuk mendekatkan kajian komunikasi untuk kasus-kasus Indonesia menjadi penting untuk memberi apresiasi terhadap karya-karya ilmu sosial yang sudah ada seperti Sartono Kartodirjo, Kuntowijoyo, Kuncaraningrat, dan sebagainya. Upaya untuk mencari landasan untuk konsep komunikasi Indonesia. Juga tradisi kajian tentang Indonesia yang dikerjakan dalam tradisi kolonial baik oleh pejabat kolonial maupun orientalis. Hal ini sebagai pertimbangan mengenai tradisi kajian komunikasi khas Indonesia.
Sebuah contoh fenomena komunikasi di Indonesia adalah soal logika terbalik. Cukup familiar di kalangan pers Indonesia—terutama pada masa orba—bila ada sebuah berita yang isinya bantahan itu faktanya sebaliknya. Ini menarik untuk mengungkapkan tentang budaya komunikasi Indonesia.
Artikel ini bersumber dari link ini
Baca selengkapnya...

Pemasaran dan Komunikasi Politik

0 komentar

KOMUNIKASI Politik (political communication) adalah komunikasi yang melibatkan pesan-pesan politik dan aktor-aktor politik, atau berkaitan dengan kekuasaan, pemerintahan, dan kebijakan pemerintah. Dengan pengertian ini, sebagai sebuah ilmu terapan, komunikasi politik bukanlah hal yang baru. Komunikasi politik juga bisa dipahami sebagai komunikasi antara “yang memerintah” dan “yang diperintah”. Mengkomunikasikan politik tanpa aksi politik yang kongkret sebenarnya telah dilakukan oleh siapa saja: mahasiswa, dosen, tukang ojek, penjaga warung, dan seterusnya. Tak heran jika ada yang menjuluki Komunikasi Politik sebagai neologisme, yakni ilmu yang sebenarnya tak lebih dari istilah belaka. Dalam praktiknya, komuniaksi politik sangat kental dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, dalam aktivitas sehari-hari, tidak satu pun manusia tidak berkomunikasi, dan kadang-kadang sudah terjebak dalam analisis dan kajian komunikasi politik. Berbagai penilaian dan analisis orang awam berkomentar sosal kenaikan BBM, ini merupakan contoh kekentalan komunikasi politik. Sebab, sikap pemerintah untuk menaikkan BBM sudah melalui proses komunikasi politik dengan mendapat persetujuan DPR Konsep, strategi, dan teknik kampanye, propaganda, dan opini publik termasuk dalam kajian bidang ilmu komunikasi politik. Aktor: Komunikator Politik Komunikator Politik pada dasarnya adalah semua orang yang berkomunikasi tentang politik, mulai dari obrolan warung kopi hingga sidang parlemen untuk membahas konstitusi negara. Namun, yang menjadi komunikator utama adalah para pemimpin politik atau pejabat pemerintah karena merekalah yang aktif menciptakan pesan politik untuk kepentingan politis mereka. Mereka adalah pols, yakni politisi yang hidupnya dari manipulasi komunikasi, dan vols, yakni warganegara yang aktif dalam politik secara part timer ataupun sukarela. Komunikator politik utama memainkan peran sosial yang utama, teristimewa dalam proses opini publik. Karl Popper mengemukakan “teori pelopor mengenai opini publik”, yakni opini publik seluruhnya dibangun di sekitar komunikator politik. Komunikator Politik terdiri dari tiga kategori :

Politisi, Profesional, dan Aktivis. Politisi adalah orang yang bercita-cita untuk dan atau memegang jabatan pemerintah, seperti aktivis parpol, anggota parlemen, menteri, dsb.; Profesional adalah orang yang menjadikan komunikasi sebagai nafkah pencahariannya, baik di dalam maupun di luar politik, yang uncul akibat revolusi komunikasi: munculnya media massa lintas batas dan perkembangan sporadis media khusus (majalah internal, radio siaran, dsb.) yang menciptakan publik baru untuk menjadi konsumen informasi dan hiburan. Terdiri dari jurnalis (wartawan, penulis) dan promotor (humas, jurubicara, jurukampanye, dsb.). Aktivis – (a) Jurubicara (spokesman) bagi kepentingan terorganisasi, tidak memegang atau mencita-citakan jabatan pemerintahan, juga bukan profesional dalam komunikasi. Perannya mirip jurnalis. (b) Pemuka pendapat (opinion leader) –orang yang sering dimintai petunjuk dan informasi oleh masyarakat; meneruskan informasi politik dari media massa kepada masyarakat. Misalnya tokoh informal masyarakat kharismatis, atau siapa pun yang dipercaya publik. Proses Komunikasi Politik Proses komunikasi politik sama dengan proses komunikasi pada umumnya (komunikasi tatap muka dan komunikasi bermedia) dengan alur dan komponen :
1. Komunikator/Sender – Pengirim pesan
2. Encoding - Proses penyusunan ide menjadi simbol/pesan
3. Message - Pesan
4. Media – Saluran
5. Decoding - Proses pemecahan/ penerjemahan simbol-simbol
6. Komunikan/Receiver – Penerima pesan
7. Feed Back - Umpan balik, respon.

Saluran Komunikasi Politik :
1. Komunikasi Massa – komunikasi ‘satu-kepada-banyak’, komunikasi melalui media massa.
2. Komunikasi Tatap Muka –dalam rapat umum, konferensi pers, etc.— dan Komunikasi Berperantara –ada perantara antara komunikator dan khalayak seperti TV.
3. Komunikasi Interpersonal – komunikasi ‘satu-kepada-satu’ –e.g. door to door visit, temui publik, etc. atau Komunikasi Berperantara –e.g. pasang sambungan langsung ’hotline’ buat publik.
4. Komunikasi Organisasi – gabungan komunikasi ‘satu-kepada-satu’ dan ‘satu-kepada-banyak’: Komunikasi Tatap Muka e.g. diskusi tatap muka dengan bawahan/staf, etc. dan Komunikasi Berperantara e.g. pengedaran memorandum, sidang, konvensi, buletin, newsletter, lokakarya, etc.

catatan : artikel ini dikutip dari situs ini
Baca selengkapnya...

Jalinan Teman

Powered By Blogger

Social Bookmarking Submission

DOMAIN GRATIS

 

paksoleh punya blog. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme Modified by Paksoleh | Distributed by Deluxe Templates