Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 November 2010

Tips Menyusun Skripsi Informatika

0 komentar

Tips ini saya dapat dari berbagai referens, yach itung-itung buat motivasi  saya sendiri dan temen-temen mahasiswa Universitas Semarang jurusan TI angkatan 2007 kelas Weekend yang lagi sibuk mikirin skripsi. Ini ada beberapa tips untuk bisa cepet mengerjakan skripsi buat mahasiswa teknik informatika khususnya dan semua mahasiswa umumnya :

1. Pilih topik anda lebih awal. Bila anda mengambil program sarjana 4 tahun maka idealnya ketika memasuki semester ke-7, anda sudah harus memulai memilah-milah topik skripsi apa yang akan anda kerjakan. Anda akan membutuhkan sekitar 4-6 bulan untuk membaca, me-research dan menulis skripsi anda.

2. Pilih topik yang tepat untuk anda. Ini berarti pilihlah topik yang menarik minat anda atau topik yang anda kuasai. Hal ini akan menjadi motivasi tersendiri dalam proses penyelesaian skripsi anda. Topik skripsi bisa anda dapatkan di internet.

3. Buatlah gambaran awal (outline) mengenai perangkat lunak yang akan anda buat. Spesifikasi program, kerumitan, fasilitas, manfaat dan tujuan dari perangkat lunak harus diperjelas. Gambaran awal dapat juga dilakukan dengan melakukan research (penelitian) terhadap topik anda. Hal ini perlu dilakukan supaya anda memiliki gambaran terhadap apa yang akan anda kerjakan. Research dapat dilakukan dengan mencari bahan-bahan di internet atau dengan membaca teori dan konsep dari buku2.

4. Konsultasikan dan ajukan proporsal skripsi anda kepada dosen / ketua jurusan. Buat proporsal skripsi anda dan konsultasikan ke dosen anda. Di sini, anda perlu menjelaskan apa yang akan anda buat di dalam skripsi anda. Bila proporsal anda diterima, maka ini merupakan langkah awal dalam mengerjakan skripsi anda. YES …

5. Carilah dosen pembimbing atau teman-teman yang dapat membantu anda. Cari dosen pembimbing yang menguasai topik anda, dapat memberikan saran, membantu dan membimbing anda (Tapi saya akui realitanya sulit sekali karena rata-rata semua dosen hanya bisa mengkritik dan bukannya membimbing secara penuh). Alternatif lain adalah cari teman yang dapat membantu anda. Semakin cepat anda menemukannya akan semakin baik.

6. Kumpulkan semua referensi yang berhubungan dengan skripsi anda. Apakah itu teori ataupun program jadi yang akan membantu pengerjaan skripsi anda? Ini akan memudahkan anda dalam mengerjakan skripsi. Untuk ini, anda bisa cari di internet. Mana tau ada program jadi yang sudah pernah dibuat orang lain dan ditawarkan di internet? h3x Great … great … Referensi bisa juga berupa skripsi-skripsi senior anda yang membahas topik yang satu jalur dengan topik anda.

7. Mulailah mengerjakan bab1 dan bab2 dari skripsi anda. Biasanya di jurusan teknik informatika, bab1 dan bab2 adalah pendahuluan dan teori. Dari referensi yang telah terkumpul pada poin-6, anda setidaknya bisa terbantu dengan mengambil format skripsi atau teori-teori yang sudah ada. Copy & Paste arr …. h3x Bila anda punya referensi yang tepat, poin ini tidak akan memakan waktu yang lama. Paling lama 1minggu.

8. Kerjakan program / perangkat lunak. Ini adalah bagian yang paling sulit dan membutuhkan waktu yang paling lama, karena kenyataannya tidak semua mahasiswa teknik informatika menguasai programming secara utuh. Umumnya, mahasiswa hanya menguasai dasar-dasar programming (yang diberikan institusi pendidikan) dan tidak dikembangkan, sehingga programming skill mahasiswa dirasakan kurang untuk mengerjakan program skripsi. Untuk poin ini, jangan kuatir. Anda masih bisa mencari teman-teman / senior-senior anda untuk dimintai bantuannya. Bagi yang mempunyai skill programming yang cukup, buatlah prototype program dalam 1-2 hari dan coding atau kerjakan program anda dalam waktu maksimal 1 bulan. Setelah program selesai, ini artinya anda sudah 80% selesai … Take a break, refreshing & relax for a moment

9. Mulai menyusun bab3, bab4 dan bab5. Setelah program selesai, poin ini akan relatif mudah, karena inti dari ketiga bab ini adalah apa yang ada di dalam program anda. Bab3 adalah prototype / rancangan (ambil form2 dari program). Bab4 adalah algoritma yang diambil dari program. Copy & paste source code dan diganti jadi bahasa indonesia. Misalnya IF diganti jadi JIKA, THEN diganti jadi KEMUDIAN and so on … Bab5? Gampang, simpulkan apa yang anda buat dan tulis kelemahan atau saran perbaikan program yang tidak dapat anda kerjakan.

10. Konsultasikan bab per bab dengan dosen pembimbing. Ini adalah POIN YANG PENTING. Beberapa institusi tidak terlalu mempersulit pengerjaan skripsi, paling2x diganti dan dikasih saran perbaikan yang sesuai dan relatif tidak menyulitka. Tetapi ada beberapa institusi yang mempunyai dosen killer yang akan sangat mempersulit pengerjaan skripsi anda. Tidak peduli bagaimana bagusnya skripsi anda, tetap harus ada perbaikan / coret2an yang dibuatnya di paper anda. Oh god … But it’s alright, i have some great tips here. Untuk menghadapi dosen killer seperti ini, yang harus anda lakukan adalah JANGAN PERNAH MENENTANGNYA. Pelajari dengan baik skripsi anda, konsultasikan dengan penuh percaya diri dan jangan pernah terlihat anda lebih tahu dari dosen anda. Beberapa dosen killer tidak akan dengan segan-segan ‘membunuh’ mahasiswa yang tidak menguasai skripsinya (mungkin karena mereka ingin mencari perhatian). Beberapa di antaranya mempersulit mahasiswa yang bergaya sok tahu. So, saran saya: KUASAI SKRIPSI ANDA & KONSULTASIKAN SECARA DUA ARAH. Note: bila anda diminta untuk membuat sesuatu yang di luar kemampuan anda. Anda bisa mencoba membalikkan permintaan tersebut dengan menyerahkannya kembali ke dosen tersebut. Caranya: minta dengan baik2 & hormat supaya dosen tersebut membimbing anda dengan penuh untuk menyanggupi permintaan tersebut, karena request tersebut benar2 di luar kemampuan anda. Percayalah, bahwa tips ini akan membuat dosen anda sedikit berpikir ketika dia meminta anda untuk menambahkan sesuatu yang rumit. But hopefully, your tutor is kind …

11. Seminar Hasil & Meja Hijau. Saran saya sangat singkat, KUASAI SKRIPSI ANDA bila anda tidak ingin menjadi ’sasaran tembak’ dalam event tersebut. Pelajari minimal dalam 1 minggu dari teori sampai source code program. Bila saatnya tiba, anda harus tampil percaya diri sehingga dosen anda akan mendapatkan image bahwa anda memang bukan mahasiswa sembarangan Bila anda menguasai poin ini dengan baik, tidak mustahil anda akan mendapat nilai ‘A’ untuk skripsi anda. Congratulations, you’ve just got your title.

Baca selengkapnya...

Selasa, 09 November 2010

Mutasi, Kepala Sekolah Wajib Ikuti Seleksi Ketat

0 komentar

Kepala daerah, baik bupati maupun wali kota kini tidak lagi punya kewenangan penuh untuk memutasi kepala sekolah.

Hal itu terjadi setelah diterbitkannya Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) No 28 Tahun 2010 tentang Penugasan Guru Menjadi Kepala Sekolah.

Menurut Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Nasional (Sekjen Kemendiknas) Prof Dr Ir Dodi Nandika, dalam sistem penyelenggaraan pendidikan nasional, meskipun sudah otonomi daerah, pendidikan dasar menengah secara teknis fungsional masih merupakan tanggung jawab menteri pendidikan nasional (Mendiknas). Dengan demikian, saat ini peraturannya ditata ulang. ”Dengan adanya Permendiknas, kewenangan kepala daerah secara resmi diambil alih pemerintah pusat. Yaitu Mendiknas, dalam hal memutasi kepala sekolah mulai jenjang TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK. Tidak terkecuali rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI),” ungkapnya, di sela-sela kegiatan pemberian bantuan sepeda di Universitas Negeri Semarang (Unnes), Sabtu (6/11).

Desentralisasi Salah satu alasan pemindahan kewenangan itu adalah menyiapkan pemimpin tertinggi lembaga dengan baik, yang sangat mengerti budaya sekolah dan berlatar belakang pendidikan. Dia menuturkan, jika sebelumnya mutasi kepala sekolah bisa dengan mudah dilakukan kepala daerah, kini calon kepala sekolah wajib mengikuti berbagai seleksi ketat.
"Pemerintah daerah tidak bisa lagi semena-mena mengganti kepala sekolah," ujarnya.

Permendiknas yang ditetapkan pada 27 Oktober 2010 ini, sengaja dikeluarkan untuk melindungi kepala sekolah dari politik pemerintah yang sering merugikan mereka. "Bukannya kami tidak menghormati kepala daerah, melainkan kami sering mendengar banyak laporan tentang kepala sekolah yang dipindah begitu saja tanpa ada alasan atau menjadi korban politik pemerintah,” jelasnya.

Desentralisasi pemutasian kepala sekolah sering disalahartikan beberapa pihak.

Jadi, Kemendiknas mengesahkan aturan khusus untuk dapat memindah dan memberhentikan kepala sekolah dengan menerbitkan Permendiknas No 28 tahun 2010.

Sumber : Suara Merdeka
Baca selengkapnya...

Sabtu, 31 Juli 2010

Presentasi yang Efektif

0 komentar

Teknik Berkomunikasi dan Presentasi yang Efektif merupakan keterampilan dan kemampuan inter disipliner yang mutlak dikuasai baik oleh para pejabat dan staf di lembaga pemerintah maupun bagi para eksekutif di perusahaan dalam mewujudkan misi pelayanan sesuai visi dan misi lembaga / perusahaannya.

Ada beberapa macam tipe presentasi, antara lain adalah :

Informasi : menyampaikan suatu informasi baru kepada audience dengan harapan audience akan mengetahui dan memahami topik yang dipresentasikan, mis: workshop, seminar, kuliah, dsb.
Persuasi : bertujuan untuk mengubah perilaku atau kebiasaan dari audience, misalnya: kampanye, penyuluhan narkoba, dsb.
Entertaining : bertujuan untuk menghibur peserta, berusaha agar peserta tetap memperhatikan kita.

Aplikasi yang paling populer dipakai untuk melakukan presentasi adalah Microsoft Office Power Point. Berikut tips dan trick presentasi efektif dengan PowerPoint agar audiens tertarik menyimak hingga acara presentasi berakhir :

Baca selengkapnya...

Jumat, 21 Mei 2010

Model Pembelajaran Sekolah Standar Nasional

2 komentar

Mutu kegiatan belajar-mengajar akan mempengaruhi tingkat keberhasilan pelaksanaan SKM/SSN. Oleh karena itu, kegiatan belajar-mengajar bagi peserta didik yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa perlu dirancang dan diatur sedemikian rupa sehingga dapat dicapai hasil percepatan belajar secara optimal, dan sebaliknya. Seperti dikemukakan Caroll dan Bloom (1974 dalam Munandar, 2001) bahwa banyak peserta didik yang memiliki bakat, minat, kemampuan dan kecerdasan luar biasa, bahkan sebaliknya maka dalam mengelola kegiatan belajar-mengajar dapat diterapkan pelayanan individual dan pelayanan kelompok.

Baca selengkapnya...

Minggu, 16 Mei 2010

Teori-teori Komunikasi

0 komentar

1. Teori Model Lasswell

Salah satu teoritikus komunikasi massa yang pertama dan paling terkenal adalah Harold Lasswell, dalam artikel klasiknya tahun 1948 mengemukakan model komunikasi yang sederhana dan sering dikutif banyak orang yakni: Siapa (Who), berbicara apa (Says what), dalam saluran yang mana (in which channel), kepada siapa (to whom) dan pengaruh seperti apa (what that effect) (Littlejhon, 1996).

2. Teori Komunikasi dua tahap dan pengaruh antar pribadi

Teori ini berawal dari hasil penelitian Paul Lazarsfeld dkk mengenai efek media massa dalam kampanye pemilihan umum tahun 1940. Studi ini dilakukan dengan asumsi bahwa proses stimulus bekerja dalam menghasilkan efek media massa. Namun hasil penelitian menunjukan sebaliknya. Efek media massa ternyata rendah dan asumsi stimulus respon tidak cukup menggambarkan realitas audience media massa dalam penyebaran arus informasi dan menentukan pendapat umum.

3. Teori Informasi atau Matematis

Salah satu teori komunikasi klasik yang sangat mempengaruhi teori-teori komunikasi selanjutnya adalah teori informasi atau teori matematis. Teori ini merupakan bentuk penjabaran dari karya Claude Shannon dan Warren Weaver (1949, Weaver. 1949 b), Mathematical Theory of Communication.

Teori ini melihat komunikasi sebagai fenomena mekanistis, matematis, dan informatif: komunikasi sebagai transmisi pesan dan bagaimana transmitter menggunakan saluran dan media komunikasi. Ini merupakan salah satu contoh gamblang dari mazhab proses yang mana melihat kode sebagai sarana untuk mengonstruksi pesan dan menerjemahkannya (encoding dan decoding). Titik perhatiannya terletak pada akurasi dan efisiensi proses. Proses yang dimaksud adalah komunikasi seorang pribadi yang bagaimana ia mempengaruhi tingkah laku atau state of mind pribadi yang lain. Jika efek yang ditimbulkan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, maka mazhab ini cenderung berbicara tentang kegagalan komunikasi. Ia melihat ke tahap-tahap dalam komunikasi tersebut untuk mengetahui di mana letak kegagalannya. Selain itu, mazhab proses juga cenderung mempergunakan ilmu-ilmu sosial, terutama psikologi dan sosiologi, dan cenderung memusatkan dirinya pada tindakan komunikasi. Karya Shannon dan Weaver ini kemudian banyak berkembang setelah Perang Dunia II di Bell Telephone Laboratories di Amerika Serikat mengingat Shannon sendiri adalah insiyiur di sana yang berkepentingan atas penyampaian pesan yang cermat melalui telepon. Kemudian Weaver mengembangkan konsep Shannon ini untuk diterapkan pada semua bentuk komunikasi. Titik kajian utamanya adalah bagaimana menentukan cara di mana saluran (channel) komunikasi digunakan secara sangat efisien. Menurut mereka, saluran utama dalam komunikasi yang dimaksud adalah kabel telepon dan gelombang radio. Latar belakang keahlian teknik dan matematik Shannon dan Weaver ini tampak dalam penekanan mereka. Misalnya, dalam suatu sistem telepon, faktor yang terpenting dalam keberhasilan komunikasi adalah bukan pada pesan atau makna yang disampaikan-seperti pada mazhab semiotika, tetapi lebih pada berapa jumlah sinyal yang diterima dam proses transmisi.

Penjelasan Teori Informasi Secara Epistemologi, Ontologi, dan Aksiologi

Teori informasi ini menitikberatkan titik perhatiannya pada sejumlah sinyal yang lewat melalui saluran atau media dalam proses komunikasi. Ini sangat berguna pada pengaplikasian sistem elektrik dewasa ini yang mendesain transmitter, receiver, dan code untuk memudahkan efisiensi informasi.

4. Teori Pengharapan Nilai (The Expectacy-Value Theory)

Phillip Palmgreen berusaha mengatasi kurangnya unsur kelekatan yang ada di dalam teori uses and gratification dengan menciptakan suatu teori yang disebutnya sebagai expectance-value theory (teori pengharapan nilai).
Dalam kerangka pemikiran teori ini, kepuasan yang Anda cari dari media ditentukan oleh sikap Anda terhadap media --kepercayaan Anda tentang apa yang suatu medium dapat berikan kepada Anda dan evaluasi Anda tentang bahan tersebut. Sebagai contoh, jika Anda percaya bahwa situated comedy (sitcoms), seperti Bajaj Bajuri menyediakan hiburan dan Anda senang dihibur, Anda akan mencari kepuasan terhadap kebutuhan hiburan Anda dengan menyaksikan sitcoms. Jika, pada sisi lain, Anda percaya bahwa sitcoms menyediakan suatu pandangan hidup yang tak realistis dan Anda tidak menyukai hal seperti ini Anda akan menghindari untuk melihatnya.

5. Teori Ketergantungan (Dependency Theory)

Teori ketergantungan terhadap media mula-mula diutarakan oleh Sandra Ball-Rokeach dan Melvin Defleur. Seperti teori uses and gratifications, pendekatan ini juga menolak asumsi kausal dari awal hipotesis penguatan. Untuk mengatasi kelemahan ini, pengarang ini mengambil suatu pendekatan sistem yang lebih jauh. Di dalam model mereka mereka mengusulkan suatu relasi yang bersifat integral antara pendengar, media. dan sistem sosial yang lebih besar.
Sejalan dengan apa yang dikatakan oleh teori uses and gratifications, teori ini memprediksikan bahwa khalayak tergantung kepada informasi yang berasal dari media massa dalam rangka memenuhi kebutuhan khalayak bersangkutan serta mencapai tujuan tertentu dari proses konsumsi media massa. Namun perlu digarisbawahi bahwa khalayak tidak memiliki ketergantungan yang sama terhadap semua media.

Sumber ketergantungan yang kedua adalah kondisi sosial. Model ini menunjukkan sistem media dan institusi sosial itu saling berhubungan dengan khalayak dalam menciptakan kebutuhan dan minat. Pada gilirannya hal ini akan mempengaruhi khalayak untuk memilih berbagai media, sehingga bukan sumber media massa yang menciptakan ketergantungan, melainkan kondisi sosial.
Untuk mengukur efek yang ditimbulkan media massa terhadap khalayak, ada beberapa metode yang dapat digunakan, yaitu riset eksperimen, survey dan riset etnografi.

Riset Eksperimen

Riset eksperimen (experimental research) merupakan pengujian terhadap efek media dibawah kondisi yang dikontrol secara hati-hati. Walaupun penelitian yang menggunakan riset eksperimen tidak mewakili angka statistik secara keseluruhan, namun setidaknya hal ini bisa diantisipasi dengan membagi obyek penelitian ke dalam dua tipe yang berada dalam kondisi yang berbeda.
Riset eksperimen yang paling berpengaruh dilakukan oleh Albert Bandura dan rekan-rekannya di Stanford University pada tahun 1965. Mereka meneliti efek kekerasan yang ditimbulkan oleh tayangan sebuah film pendek terhadap anak-anak. Mereka membagi anak-anak tersebut ke dalam tiga kelompok dan menyediakan boneka Bobo Doll, sebuah boneka yang terbuat dari plastik, di setiap ruangan. Kelompok pertama melihat tayangan yang berisi adegan kekerasan berulang-ulang, kelompok kedua hanya melihat sebentar dan kelompok ketiga tidak melihat sama sekali.

Ternyata setelah menonton, kelompok pertama cenderung lebih agresif dengan melakukan tindakan vandalisme terhadap boneka Bobo Doll dibandingkan dengan kelompok kedua dan ketiga. Hal ini membuktikan bahwa media massa memiliki peran membentuk karakter khalayaknya. Kelemahan metode ini adalah berkaitan dengan generalisasi dari hasil penelitian, karena sampel yang diteliti sangat sedikit, sehingga sering muncul pertanyaan mengenai tingkat kemampuannya untuk diterapkan dalam kehidupan nyata (generalizability). Kelemahan ini kemudian sering diusahan untuk diminimalisir dengan pembuatan kondisi yang dibuat serupa mungkin dengan keadaan di dunia nyata atau yang biasa dikenal sebagai ecological validity Straubhaar dan Larose, 1997 :415).

Survey

Metode survey sangat populer dewasa ini, terutama kemanfaatannya untuk dimanfaatkan sebagai metode dasar dalam polling mengenai opini publik. Metode survey lebih memiliki kemampuan dalam generalisasi terhadap hasil riset daripada riset eksperimen karena sampelnya yang lebih representatif dari populasi yang lebih besar. Selain itu, survey dapat mengungkap lebih banyak faktor daripada manipulasi eksperimen, seperti larangan untuk menonton tayangan kekerasan seksual di televisi dan faktor agama. Hal ini akan diperjelas dengan contoh berikut.

Riset Ethnografi

Riset etnografi (ethnografic research) mencoba melihat efek media secara lebih alamiah dalam waktu dan tempat tertentu. Metode ini berasal dari antropologi yang melihat media massa dan khalayak secara menyeluruh (holistic), sehingga tentu saja relatif membutuhkan waktu yang lama dalam aplikasi penelitian.

6. Teori Agenda Setting

Agenda-setting diperkenalkan oleh McCombs dan DL Shaw (1972). Asumsi teori ini adalah bahwa jika media memberi tekanan pada suatu peristiwa, maka media itu akan mempengaruhi khalayak untuk menganggapnya penting. Jadi apa yang dianggap penting media, maka penting juga bagi masyarakat. Dalam hal ini media diasumsikan memiliki efek yang sangat kuat, terutama karena asumsi ini berkaitan dengan proses belajar bukan dengan perubahan sikap dan pendapat.

7. Teori Dependensi Efek Komunikasi Massa

Teori ini dikembangkan oleh Sandra Ball-Rokeachdan Melvin L. DeFluer (1976), yang memfokuskan pada kondisi struktural suatu masyarakat yang mengatur kecenderungan terjadinya suatu efek media massa. Teori ini berangkat dari sifat masyarakat modern, diamana media massa diangap sebagai sistem informasi yang memiliki peran penting dalam proses memelihara, perubahan, dan konflik pada tataran masyarakat,kelompok, dan individu dalam aktivitas sosial. Secara ringkas kajian terhadap efek tersebut dapat dirumuskan dapat dirumuskan sebagai berikut :

1.) Kognitif, menciptakan atau menghilangkan ambiguitas, pembentukan sikap, agenda-setting, perluasan sistem keyakinan masyarakat, penegasan/ penjelasan nilai-nilai.
2). Afektif, menciptakan ketakutan atau kecemasan, dan meningkatkan atau menurunkan dukungan moral.

3). Behavioral, mengaktifkan atau menggerakkan atau meredakan, pembentukan isu tertentu atau penyelesaiannya, menjangkau atau menyediakan strategi untuk suatu aktivitas serta menyebabkan perilaku dermawan.

8. Teori Uses and Gratifications (Kegunaan dan Kepuasan)

Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh Herbert Blumer dan Elihu Katz (1974). Teori ini mengatakan bahwa pengguna media memainkan peran aktif untuk memilih dan menggunakan media tersebut. Dengan kata lain, pengguna media adalah pihak yang aktif dalam proses komunikasi. Pengguna media berusaha mencari sumber media yang paling baik di dalam usaha memenhi kebutuhannya. Artinya pengguna media mempunyai pilihan alternatif untuk memuaskan kebutuhannya.

Elemen dasar yang mendasari pendekatan teori ini (Karl dalam Bungin, 2007): (1) Kebutuhan dasar tertentu, dalam interaksinya dengan (2) berbagai kombinasi antara intra dan ekstra individu, dan juga dengan (3) struktur masyarakat, termasuk struktur media, menghasilkan (4) berbagai percampuran personal individu, dan (5) persepsi mengenai solusi bagi persoalan tersebut, yang menghasilkan (6) berbagai motif untuk mencari pemenuhan atau penyelesaian persoalan, yang menghasikan (7) perbedaan pola konsumsi media dan ( perbedaan pola perilaku lainnya, yang menyebabkan (9) perbedaan pola konsumsi, yang dapat memengaruhi (10) kombinasi karakteristik intra dan ekstra individu, sekaligus akan memengaruhi pula (11) struktur media dan berbagai struktur politik, kultural, dan ekonomi dalam masyarakat.

9. Teori The Spiral of Silence

Teori the spiral of silence (spiral keheningan) dikemukakan oleh Elizabeth Noelle-Neuman (1976), berkaitan dengan pertanyaan bagaimana terbentuknya pendapat umum. Teori ini menjelaskan bahwa terbentuknya pendapat umum ditentukan oleh suatu proses saling mempengaruhi antara komunikasi massa, komunikasi antar pribadi, dan persepsi individu tentang pendapatnya dalam hubungannya dengan pendapat orang-orang lain dalam masyarakat.

10. Teori Konstruksi sosial media massa

Gagasan awal dari teori ini adalah untuk mengoreki teori konstruksi sosial atas realitas yang dibangun oleh Peter L Berrger dan Thomas Luckmann (1966, The social construction of reality. A Treatise in the sociology of knowledge. Tafsir sosial atas kenyataan: sebuah risalah tentang sosisologi pengetahuan). Mereka menulis tentang konstruksi sosial atas realitas sosial dibangun secara simultan melalui tiga proses, yaitu eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Proses simultan ini terjadi antara individu satu dengan lainnya di dalam masyrakat. Bangunan realitas yang tercipta karena proses sosial tersebut adalah objektif, subjektif, dan simbolis atau intersubjektif.

11. Teori Difusi Inovasi

Teori difusi yang paling terkemuka dikemukakan oleh Everett Rogers dan para koleganya. Rogers menyajikan deksripsi yang menarik mengenai mengenai penyebaran dengan proses perubahan sosial, di mana terdiri dari penemuan, difusi (atau komunikasi), dan konsekwensi-konsekwensi. Perubahan seperti di atas dapat terjadi secara internal dari dalam kelompok atau secara eksternal melalui kontak dengan agen-agen perubahan dari dunia luar. Kontak mungkin terjadi secara spontan atau dari ketidaksengajaan, atau hasil dari rencana bagian dari agen-agen luar dalam waktu yang bervariasi, bisa pendek, namun seringkali memakan waktu lama.
Dalam difusi inovasi ini, satu ide mungkin memerlukan waktu bertahun-tahun untuk dapat tersebar. Rogers menyatakan bahwa pada realisasinya, satu tujuan dari penelitian difusi adalah untuk menemukan sarana guna memperpendek keterlambatan ini. Setelah terselenggara, suatu inovasi akan mempunyai konsekuensi konsekuensi – mungkin mereka berfungsi atau tidak, langsung atau tidak langsung, nyata atau laten (Rogers dalam Littlejohn, 1996 : 336).

12. Teori Kultivasi

Program penelitian teoritis lain yang berhubungan dengan hasil sosiokultural komunikasi massa dilakukan George Garbner dan teman-temannya. Peneliti ini percaya bahwa karena televisi adalah pengalaman bersama dari semua orang, dan mempunyai pengaruh memberikan jalan bersama dalam memandang dunia. Televisi adalah bagian yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari kita. Dramanya, iklannya, beritanya, dan acara lain membawa dunia yang relatif koheren dari kesan umum dan mengirimkan pesan ke setiap rumah. Televisi mengolah dari awal kelahiran predisposisi yang sama dan pilihan yang biasa diperoleh dari sumber primer lainnya. Hambatan sejarah yang turun temurun yaitu melek huruf dan mobilitas teratasi dengan keberadaan televisi. Televisi telah menjadi sumber umum utama dari sosialisasi dan informasi sehari-hari (kebanyakan dalam bentuk hiburan) dari populasi heterogen yang lainnya. Pola berulang dari pesan-pesan dan kesan yang diproduksi massal dari televisi membentuk arus utama dari lingkungan simbolis umum.

Garbner menamakan proses ini sebagai cultivation (kultivasi), karena televisi dipercaya dapat berperan sebagai agen penghomogen dalam kebudayaan. Teori kultivasi sangat menonjol dalam kajian mengenai dampak media televisi terhadap khalayak. Bagi Gerbner, dibandingkan media massa yang lain, televisi telah mendapatkan tempat yang sedemikian signifikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga mendominasi “lingkungan simbolik” kita, dengan cara menggantikan pesannya tentang realitas bagi pengalaman pribadi dan sarana mengetahui dunia lainnya (McQuail, 1996 : 254)

Referensi :

Fisher, B. Aubrey, 1986, Teori-teori Komunikasi. Penyunting: Jalaluddin Rakhmat, Penerjemah: Soejono Trimo. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mulyana, Dedy, 2001, Metodologi Penelitian Kualitatif (Paradigma Baru Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya). Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sumber lain yang relevan.
Baca selengkapnya...

Rabu, 05 Mei 2010

Cara Sembunyikan Status Online di Facebook Chat

0 komentar


 Jika kita terhubung dengan begitu banyak teman di facebook, saya yakin ada beberapa teman yang mungkin sebenarnya kita tidak kenal atau bahkan kita tidak pernah chatting dengan mereka. Oleh karena itu kadang perlu menyembunyikan status online kita di Facebook chat untuk beberapa kontak yang kita pilih.

Facebook memiliki list teman yang terintegrasi dengan facebook chat dan kita bisa memilih pada anggota list mana saja yang bisa mengetahui status online kita. Sehingga, kita bisa tetap nampak hanya untuk teman terdekat kita di facebook. Berikut trick facebook sederhana untuk menyembunyikan status online kita:

1. Matikan Facebook Chat

Klik icon chat di pojok kanan bawah di halaman facebook dan pilih "Go offline".

 2. Pilih Kontak

Pada Jendela facebook chat terdapat slider sehingga kita dapat dengan mudah mengalihkan status online untuk daftar teman yang kita pilih.



 Mudah bukan? Memang mudah selama kita terpikir untuk mengutak atik segala macam fasilitas yang ada di facebook. Selamat mencoba.
Baca selengkapnya...

Jumat, 16 April 2010

10 Dampak Negatif Facebook Bagi Pelajar dan Remaja

0 komentar

Dampak negatif facebook semakin hari semakin terasa, meski pun para facebookers banyak yang tidak menyadari akan pengaruh negatif facebook ini. Mungkin karena sudah kecanduan dengan yang namanya facebook. Tapi justru inilah yang berbahaya, yang tidak disadari.

Bagi para remaja dan pelajar serta anak anak, sebaiknya tahu apa saja dampak negatif dari facebook ini. Karena menurut hasil penelitian, pengguna facebook di dominasi oleh para remaja usia 14-24 tahun sebanyak 61,1%.

Nah, 10 dampak negatif itu adalah :

1. Membuat seseorang menjadi autis
"Autis" adalah istilah untuk orang orang yang terlalu asyik dengan dunianya sendiri (dunia yang diciptakannya) sehingga tidak peduli dengan orang lain dan lingkungan di sekitarnya. Seseorang yang telah kecanduan facebook sering mengalami hal ini. Tidak peduli dengan lingkungan sekitar, dunianya berubah menjadi dunia facebook.

2. Kurangnya sosialisasi dengan lingkungan
Ini dampak dari terlalu sering dan terlalu lama bermain facebook. Ini cukup mengkhawatirkan bagi perkembangan kehidupan sosial si anak. Mereka yang seharusnya belajar sosialisai dengan lingkungan justru lebih banyak menghabiskan waktu lebih banyak di dunia maya bersama teman teman facebooknya yang rata rata membahas sesuatu yang nggak penting. Akibatnya kemampuan verbal si anak menurun. Tentu yang dimaksud autis di sini bukan dalam arti yang sebenarnya.

3. Menghamburkan uang
Akses internet untuk membuka facebook jelas berpengaruh terhadap kondisi keuangan (terlebih kalau akses dari warnet). Dan biaya internet di yang cenderung masih mahal bila dibanding negara negara lain (mereka sudah banyak yg garatis). Ini sudah bisa dikategorikan sebagai pemborosan, karena tidak produktif. Lain soal jika mereka menggunakannya untuk kepentingan bisnis.

4. Mengganggu kesehatan
Terlalu banyak nongkrong di depan monitor tanpa melakukan kegiatan apa pun, tidak pernah olah raga sangat beresiko bagi kesehatan. Penyakit akan mudah datang. Telat makan dan tidur tidak teratur. Obesitas (kegemukan), penyakit lambung (pencernaan), dan penyakit mata adalah gangguan kesehatan yang paling mungkin terjadi.

5. Berkurangnya waktu belajar
Ini sudah jelas, terlalu lama bermain facebook akan mengurangi jatah waktu belajar si anak sebagai pelajar. Bahkan ada beberapa yang masih asyik bermain facebook saat di sekolah. Ayo ngaku..! "sorry yaw, aQ off dulu, Coz, ada guru nieh..!" Pernah menemukan yang seperti itu..?

6. Kurangnya perhatian untuk keluarga
Keluarga di rumah adalah nomor satu. Slogan tersebut tidak lagi berlaku bagi para facebookers. Buat mereka temen temen di facebook adalah nomor satu. Tidak jarang perhatian mereka terhadap keluarga menjadi berkurang.

7. Tersebarnya data pribadi
Beberapa facebookers memberikan data data mengenai dirinya dengan sangat detail. Biasanya ini untuk orang yang baru kenal internet hanya sebatas facebook saja. Mereka tidak tahu resikonya menyebarkan data pribadi di internet. Ingat data data di internet mudah sekali bocor, apalagi facebook yang gampang sekali di hack!

8. Mudah menemukan sesuatu berbau pornografi dan sex
Mudah sekali bagi para facebookers menemukan sesuatu yang berbau porno dan esex esex. Karena kedua hal itu yang paling banyak dicari di internet dan juga paling mudah ditemukan. nah, inilah fakta tidak dewasanya pengguna intenet. Hanya mengguankan internet untuk mencari konten "berlendir". Di facebook akan sangat mudah menemukan grup sex, grup tante kesepian, grup cewek bispak dsb.

9. Rawan terjadinya perselisihan
Tidak adanya kontrol dari pengelola facebook terhadap para anggotnay dan ketidak dewasaan pengguna facebook itu sendiri membuat pergesekan antar facebookers sering sekali terjadi.Contoh paling fenomenal adalah kasusnya "Evan Brimob" beberapa waktu lalu. Kalao kamu nggak tahu Evan Brimob, beeuuh, ketinggalan berita nih..! Evan Brimob adalah seorang anggota kepolisian yang baru kenal facebook. Silakan dicari aja di google mengenai Evan Brimob dengan statementnya yang kontroversi: "Polisi nggak butuh masyarakat".

10. Awas penipuan..!
Seperti media media lainnya, facebook juga rawan terhadap penipuan. Apalagi bagi anak anak yang kurang mengerti tentang seluk beluk dunia internet. Bagi si penipu sendiri, kondisi dunia maya yang serba anonim jelas sangat menguntungkan.

Setelah tahu dampak negatif facebook, nggak salah dong, untuk lebih berhati hati dan mengguankannya secara wajar..!
Baca selengkapnya...

Kamis, 01 April 2010

Ide Presentasi dengan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi)

1 komentar

Perkembangan TIK ( Teknologi Informasi dan Komunikasi ) saat ini di bidang pendidikan telah meningkatkan munculnya ide-ide presentasi bagi guru. Dalam proses pembelajaran di kelas, setiap guru perlu untuk dapat mengungkapkan ide-idenya tentang materi pembelajaran di depan murid-murid mereka. Prestasi dan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran tergantung pada guru dengan presentasi ide-ide inovatif. Mereka para guru tersebut harus memiliki ide-ide presentasi yang baik untuk menciptakan lingkungan belajar yang efisien. Mereka harus menggunakan berbagai fasilitas TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) sebagai media bantu pembelajaran Interaktif seperti Whiteboard Interaktif, Proyektor, Visualisers, Digital Signage, Sistem Tanggap dll.

Untuk mengimplementasikan ide-ide presentasi mereka, salah satu yang paling penting dari ide-ide presentasi guru tersebut adalah menciptakan sumber daya pembelajaran multimedia interaktif. Isi dari materi pembelajaran multimedia interaktif tersebut harus diusahakan tidak mengandung informasi yang imaterial dan tidak jelas. Sumber daya multimedia adalah jantung dari proses pembelajaran dalam bentuk audio visual interaktif. Seorang guru yang menyampaikan materi pembelajaran dengan baik melalui sumber daya multimedia tersebut dapat menarik minat belajar siswa di kelas. Dari berbagai penelitian tentang pengaruh penggunaan sumber daya multimedia, menunjukkan bahwa Siswa belajar dan menyimpan informasi lebih banyak melalui visual dibandingkan dengan mendengar kata-kata yang diucapkan.

Berbagai peralatan yang mendukung ide-ide presentasi multimedia saat ini telah tersedia. Whiteboard Interaktif digunakan sebagai pengganti papan tulis tradisional di dalam kelas. Alat-alat presentasi lain yang dapat dimanfaatkan seperti anotasi, lampu sorot, wrapscreen, catatan dll Visualisers merupakan salah satu alat presentasi sangat ampuh digunakan dalam pelajaran-pelajaran yang dapat menampilkan teks, 2D atau objek 3D dalam tampilan rinci ke seluruh kelas. Ini akan meningkatkan proses pembelajaran dan membuat presentasi yang efektif bagi siswa serta dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik. Layar proyektor multimedia, power point file, animasi, video dan konten lainnya dari komputer akan sangat membantu siswa dalam menerima materi pembelajaran lewat teks dan gambar yang lebih besar pada papan tulis Interaktif. Sebuah presentasi yang baik dapat meningkatkan semangat untuk membaca dan meningkatkan retensi. Oleh karena itu seorang Guru dituntut untuk menguasai berbagai peralatan ICT guna meningkatkan ide-ide presentasi mereka.
Baca selengkapnya...

Senin, 01 Maret 2010

Practical Journalism Training

0 komentar

Magazine's SNEIKA School Junior High School 1 Kaliwungu Kendal, on Sunday on February 28, 2010 Practical Journalism Training held with the theme "Being a journalist is Easy! Want?.

The event which took place at the Multipurpose Building the school's attention was large enough, as evidenced by the large number of participants who followed these activities. Not only the participants who came from Teachers and Students Kaliwungu 1 Junior High School, also joined the participants some SMP / MTs in Kendal District.




According to information from the Chairman of the Committee Mr. Mokhamad Soleh, journalism training activity aims to:


1. Introduce to the students about the ins and outs of journalism.

2. Cultivate the intelligence and creativity of students through a journalistic tradition.

3. Improving Student skills and abilities in managing the print media.


Acting as an instructor in the training, the committee presents two journalist sources namely: Slamet Priyatin or more well known with the call that is Mas Priyo Cempaka tabloid journalists and media print El Shinta Jakarta, as well as Dennis Kang Alimin Seputar Indonesia Daily reporter (SINDO) Jakarta.

Present also in the opening of training opportunities, Kasi Dikpora SMP Kendal District, Mr. Agus Chrismoro, M. Pd S. Pd, a pleasure to give speeches and directives as well as officially opening training. In his speech, he advised, the knowledge gained in this activity can be utilized with the best that can eventually be applied in their respective schools. This activity is an activity for the first time a junior high school level journalism training in Kendal District. "For the first time, journalism training activities held at the junior level in the Kendal district," he said in his speech. It was during this new journalistic training activities conducted at the senior secondary level, for that which He conveyed his appreciation to the highest Kaliwungu 1 Junior High School, and hopes that there are similar events held at other schools.


The activity was berlagsung journalistic training in three sessions, respectively: the delivery of material by two speakers, followed by dialogue sessions with the theme "Being a journalist is Easy! Want?, And the last session is the practice of writing news. The material can be delivered by guest speaker You Download here!
Baca selengkapnya...

Jumat, 12 Februari 2010

Bedah SKL UN 2010

0 komentar

Ujian Nasional 2010 sudah semakin dekat waktunya, walaupun masih ada yang mempersoalkan dasar hukumnya. Seluruh komponen pendidikan mulai dari Departemen Pendidikan selaku lembaga yang menentukan diselenggarakannya Ujian Nasional, Dinas Provinsi, Kabupaten, Tingkat Satuan Pendidikan baik tingkat SLTP maupun SLTA, para Peserta Didik dan para Orang Tua, mulai sibuk dan mencurahkan perhatiannya untuk menghadapi Ujian Nasional tersebut, baik untuk tingkat SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB, dan SMA/MA/SMK/SMALB.

Terutama bagi para Peserta Didik dan dan para Orang Tua, masih banyak yang merasa cemas setiap kali menghadapi Ujian Nasional. Ini wajar mengingat Hasil Ujian Nasional akan sangat menentukan bagi kelanjutan sekolah putra-putrinya. Berbagai upaya dilakukan para Orang Tua guna memacu kesiapan putra-putrinya. Dari pihak sekolah selaku penyelenggara juga tidak kalah sibuknya, mulai dari persiapan secara administratif, sampai mempersiapkan siswa-siswinya agar pada saatnya nanti bisa mendapatkan hasil yang sesuai yang diharapkan. Juga tidak sedikit yang melakukan upaya secara spiritual guna membangkitkan motivasi siswa.

Semua pihak berharap agar Ujian Nasional 2010 kali ini berlangsung dengan lancar dan pada akhirnya bisa mendapatkan hasil yang memuaskan, walaupun masih sulit untuk mendapatkan hasil kelulusan 100 %. Juga kita semua berharap agar kecurangan-kecurangan yang terjadi setiap kali Ujian diselenggarakan dapat diminimalkan.

Untuk membantu para Siswa dalam persiapannya, barangkali Bedah SKL Ujian Nasional 2010 ini bisa bermanfaat. Silakan Download.

Baca selengkapnya...

Jumat, 05 Februari 2010

Jadwal Ujian Nasional 2010

0 komentar

Jadwal Ujian Nasional dan POS Pelaksanaan UN Tahun Pelajaran 2009/2010 :
Berdasarkan surat Menteri Pendidikan Nasional Nomor: 178/MPN/HK/2009 tanggal 03 Desember 2009 perihal: Ujian Nasional (UN) Tahun Pelajaran 2009/2010, maka dengan ini diberitahukan bahwa Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) akan menyelenggarakan UN pada tahun 2010 dengan jadwal sebagai berikut:

Jadwal Ujian Nasional SMA/MA, SMALB, dan SMK Tahun Pelajaran 2009/2010

* UN Utama (22 - 26 Maret 2010)
* UN Susulan (29 Maret - 5 April 2010)
* UN Ulangan (10 - 14 Mei 2010)

Jadwal Ujian Nasional SMP/MTs dan SMPLB Tahun Pelajaran 2009/2010

* UN Utama (29 Maret - 1 April 2010)
* UN Susulan (5 - 8 April 2010)
* UN Ulangan (17 - 20 Mei 2010)


Jadwal UASBN Tahun Pelajaran 2009/2010 SD/MI dan SDLB

* UN Utama (4 - 6 Mei 2010)
* UN Susulan (10 - 12 Mei 2010

Mata pelajaran yang diujikan sama seperti tahun lalu kecuali program keagamaan untuk MA. Kriteria kelulusan sama seperti tahun lalu. Peserta didik mengikuti UN di sekolah penyelenggara masing – masing dengan sistem pengawasan acak dan ada ujian ulangan.

Untuk kisi - kisi Ujian Nasional dapat dilihat dalam:
Peraturan Mendiknas Nomor 74 Tahun 2009
Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah/Sekolah Dasar Luar Biasa (SD/MI/SDLB) Tahun Pelajaran 2009/2010

Peraturan Mendiknas Nomor 75 Tahun 2009
Ujian Nasional Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB), Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA), Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Tahun Pelajaran 2009/2010

Peraturan Mendiknas Nomor 84 Tahun 2009
Perubahan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 75 Tahun 2009 Tentang Ujian Nasional Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB), Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA), Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Tahun Pelajaran 2009/2010

Prosedur Operasi Standar (POS) Pelaksanaan UN Tahun 2009 dapat dilihat di sini :
POS UASBN SD/MI/SDLB Tahun Pelajaran 2009/2010
POS UN SMA/MA Tahun Pelajaran 2009/2010
POS UN SMP, MTs, SMPLB, SMALB, DAN SMK Tahun Pelajaran 2009/2010

Sumber : Jardiknas
Baca selengkapnya...

Senin, 03 Agustus 2009

Sekolah Gratis Sedang Kritis

0 komentar

DI layar televisi kita, hampir tiap hari disuguhkan iklan sekolah gratis. "Walaupun bapaknya sopir angkot anaknya bisa jadi pilot ... meskipun bapaknya tukang loper koran, anaknya bisa jadi wartawan! Asalkan ada kemauan." Itulah iklan sekolah gratis 9 tahun yang membuat masyarakat, terutama kalangan kelas ekonomi menengah ke bawah merasa gembira.

Tapi kegembiraan itu tak bertahan lama. Sekolah gratis yang banyak diiklankan di televisi itu tak berimplikasi secara signifikan terhadap beban biaya yang harus di tanggung orang tua siswa ketika musim ajaran baru.

Banyak pungutan, mulai dari Pendaftaran Siswa Baru, uang seragam, buku pelajaran yang membuat orang tua siswa kewalahan. Istilah sekolah gratis ternyata tidak semuanya total, tapi hanya SPP dan kebutuhan selebihnya orang tua siswa yang menaggung.

Sekolah gratis hanya pelipur lara saja terhadap rakyat miskin di tengah-tengah merebaknya anak kaum miskin yang terlantarkan. Menjelang tahun ajaran baru, orang tua siswa yang miskin dihadapkan pada realitas yang sebenarnya.

Banyak orang tua siswa yang bontang-banting mencari pinjaman uang untuk bisa menyekolahkan anaknya. Kantor pegadaian pun mengakui kalau menjelang tahun ajaran baru orang tua siswa banyak yang berdatangan untuk menggadaikan barang-barang berharganya.

Wajib belajar 9 tahun mulai dulu seringkali diidentikkan dengan sekolah gratis secara total oleh pemerintah. Padahal sejak awal (1994/1995 ) program ini digulirkan, ketika Wardiman Djojonegoro menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bagi Darmaningtyas (2004), kebijakan yang sangat politis dan jauh dari apa yang diidealkan dalam konteks realitasnya. Pemerintah secara formal-prosedural pada saat itu menggulirkan program ini tapi tidak ada petunjuk teknis secara riil penerapan di masyarakat.

Tak Ada Peraturan

Tidak adanya peraturan khusus dari program wajib belajar ini berimplikasi pada praktik-praktik penyimpangan di lapangan. Sekolah banyak melakukan pungutan-pungutan meski sudah ada program wajib belajar.

Ada sebagian sekolah yang takut sehingga mereka memaksa diam diri menunggu turunnya kebijakan lebih lanjut. Ini akan berimbas pada tersendatnya program pembelajaran. Pemerintah pun yang ditunggu-tunggu pada saat itu terkatung-katung dan seakan puas dengan kebijakannya.

Hingga kini ternyata penyakit klasik itu masih juga belum terobati. Di lapangan pendidikan gratis tidak ada. Pungutan sana-sini masih menjadi tradisi. Pemerintah tidak belajar pada kegagalan masa lalu untuk menggulirkan suatu kebijakan yang lebih menyentuh langsung terhadap pemberdayaan pendidikan kaum miskin.

Kebijakan formal-prosedural dari pemerintah pusat yang kemudian disebarluaskan dengan iklan-iklan di media elektronik tanpa peraturan tegas dilapangan seakan dianggap cukup untuk membuat pencitraan.

Menarik pungutan dari orang tua siswa bagi banyak sekolah diannggap lazim. Banyak lembaga yang mengeluh kalau dana BOS yang dicairkan pemerintah pusat tidak cukup untuk menggratiskan pendidikan secara total.

Dengannya, PSB, buku pelajaran, dan seragam sekolah menjadi lahan alternatif bagi sekolah untuk menambali anggaran-anggaran yang lain ketika tahun baru datang. Pemerintah pusat seakan tak mau tau tentang apa yang terjadi di lapangan. Ironinya banyak dari pungutan itu yang memakan jutaan rupiah. Pendidikan gratis pun seakan hanya ada di iklan saja.

Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan bahwa setiap warga negara berusia 7-15 tahun wajib mengikuti pendidikan dasar, yang dikenal dengan Program Wajib Belajar.

Lebih lanjut dalam Pasal 31 ayat (4) disebutkan bahwa negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen (20%) dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.

Dari beberapa Undang-Undang yang mendasari program Wajib Belajar, pendidian dasar 9 tahun sejatinya digratiskan. Pendidikan gratis yang menjadi amanat bangsa kita jangan sampai dijadikan alat kepentingan politis untuk pencitraan kekuasaan an sich, tapi bagaimana pendidikan gratis itu diupayakan oleh pemerintah pusat seraya berkordinasi dengan pemerintah daerah dan sekolah secara lebih realitis di lapangan.

Tidak Lepas Tangan

Kalau pemerintah pusat sudah menggulirkan kebijakan pendidikan gratis dengan anggaran-anggaran yang telah dipatok sesuai dengan kondisi sosiologis tiap daerah, maka pemerintah daerah harusnya tidak lepas tangan untuk mengkoordinasiklan pendidikan gratis ini terhadap lembaga-lembaga sekolah.

Kalau anggaran dari pusat yang selama ini banyak dialami sekolah kurang, pihak pemerintah daerah sejatinya lebih kreatif untuk menyiasati hal ini agar sekolah tidak membebankan pada orangtua.

Jambarana salah satu dari sembilan Kabupaten termiskin di Provinsi Bali. Kondisi pendidikan Jembrana (1999-2000) sangat mengenaskan. Separuh dari anak yang lulus SD tidak bisa melanjutkan pendidikan karena alasan ekonomi, lebih separuh bangunan SD dalam kondisi rusak, dan dari 200 SD yang ada, rata-rata siswa perkelas hanya 21 orang.

Tapi berbeda halnya dengan kondisi Jembrana (2000-2006) yang sudah layak dijadikan Kabupaten percontohan. Kabupaten Jembrana menggulirkan kebijakan pembebasan iuran wajib belajar pada sekolah negeri yang diatur oleh keputusan Bupati Nomor 24 tahun 2003 tentang pembebasan iuran wajib.

Pemerintah daerah, sebagaimana layaknya yang terjadi di Jambarana, bisa meram-pingkan birokrasi yang kurang dianggap penting untuk dialokasikan pada program pendidikan gratis. Hal ini membutuh pemimpin yang berani, visioner, dan mempunyia kepedulian yang lebih terhadap dunia pendidikan.
Sumber : SUARA MERDEKA
Baca selengkapnya...

Jumat, 24 Juli 2009

Lagi-lagi Kasus Perjokian

0 komentar

Memalukan !! Itulah kata yang tepat untuk melukiskan praktik perjokian. Ironisnya, praktik ini dilakukan oleh mahasiswa. Sebanyak 14 mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) ditengarai terlibat praktik perjokian ini di Universitas Hasanuddin Makassar. Sebelas orang terancam drop out (DO), tiga lainnya diskors 1-2 semester.

LEBIH ironis lagi, mereka termasuk mahasiswa berprestasi. Berdasarkan data Kantor Wakil Rektor Bidang Akademik ITB, sebagian besar dari 14 pelaku perjokian itu memiliki indeks prestasi kumulatif (IPK) sangat baik, yaitu 3,11-3,83 (nilai maksimum 4,0).

Bahkan salah seorang pelaku berinisial IS tercatat pernah berprestasi di Olimpiade Kimia ketika masih duduk di bangku SMA (Kompas, 10 Juli 2009). Mereka terpaksa melakukan praktik perjokian karena tak punya uang untuk membayar uang semesteran agar dapat melanjutkan studinya. Dengan menjadi joki, mereka mendapat bayaran Rp 30 juta!

Kemiskinan dijadikan alasan kaum intelektual untuk menggadaikan idealismenya. Mestinya kemiskinan menjadi senjata ampuh untuk bangkit melawan keterpurukan dan ketidakberdayaan. Namun mereka terjebak dalam "kubangan kemewahan".

Mereka berfikir pendek dalam menyelesaikan persoalan hidup yang memang makin menyesakkan ini. Budaya atau iklim intelektual yang selama ini dibangun dan dibina tidak pernah menjadi spirit atau ruh dalam kehidupan sehari-hari.
Maka, benarlah apa yang telah dinyatakan Mochtar Lubis 32 tahun lalu dalam Manusia Indonesia. Salah satu ciri manusia Indonesia, menurut Mochtar Lubis, adalah tidak hemat, bo-ros, serta senang berpakaian bagus dan berpesta.

Mereka lebih suka tidak bekerja keras, kecuali terpaksa. Ingin menjadi miliuner seketika, bila perlu dengan memalsukan atau membeli gelar sarjana supaya dapat pangkat. Manusia Indonesia cenderung kurang sabar, tukang mengge-rutu, dan cepat dengki. Gampang senang dan bangga pada hal-hal yang hampa.

Budaya menerabas dan mencari jalan pintas telah mendarah daging dalam kehidupan kita. Manusia Indonesia sudah terlena oleh kemewahan dunia, sehingga melupakan warisan nenek moyangnya.

Padahal budaya ini merupakan cikal bakal kehancuran bangsa. Bangsa Indonesia akan terpuruk karena seluruh kehidupan dihiasi dengan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana memutus mata rantai perjokian sebagai bagian dari budaya menerabas yang tidak patut dilakukan bangsa Indonesia?
Matinya Nalar Kritis Perjokian yang dilakukan mahasiswa pada dasarnya berkaitan erat dengan karakter dan mentalitas. Karakter dan mentalitas ini tidak dapat dipisahkan dari sistem pendidikan di Nusantara.

Sebagaimana diketahui, pendidikan di Indonesia masih berorientasi materi. Lihatlah iklan besar-besaran mengenai sekolah menengah kejuruan (SMK) yang justru dipelopori pemerintah.

Lebih dari itu, perguruan tinggi sekarang lebih mendorong mahasiswa untuk segera selesai dan dapat mencari kerja sesuai dengan bidang yang digelutinya. Kurikulum perguruan tinggi didesain sedemikian rupa agar terintegrasi dengan dunia kerja. Fakultas-fakultas yang berkait erat dengan peluang usaha dibuka, sedangkan fakultas ilmu humaniora ditutup secara halus.

Dalam perkuliahan pun tidak ada ruang bagi mahasiswa, dosen, dan pihak kampus untuk mengembangkan nalar kritisnya. Yang ada dalam bangku kuliah adalah bekal untuk menggapai cita-cita bekerja di kantor berpendingin ruangan (AC), kerja tanpa tekanan dengan gaji jutaan rupiah.

Nalar kritis sebagai pembeda antara kaum berpendidikan (mengenyam bangku sekolah) dan tidak sekolah sudah tidak menjadi andalan. Mereka sepertinya tidak butuh pembeda itu. Mereka hanya butuh hasil pascalulus kuliah mendapat kerja, titik!

Maka, sebenarnya sulit menyalahkan mahasiswa bermental joki. Hal ini karena, pendidikan di Indonesia dikonstruksi sedemikian rupa agar manusianya menjadi joki, buruh intelektual, dan tidak berkemandirian.

Pemerintah sangat bangga jika sarjana Indonesia bekerja, tanpa harus memerhatikan kualitas dan kecakapannya. Sarjana bekerja berarti pendidikan berhasil. Itulah yang ada dalam benak pemerintah.

Selain karakter dan mentalitas, tanpa bermaksud membela apa yang telah dilakukan ke-14 mahasiswa ITB, pendidikan Indonesia terlalu mahal bagi rakyat miskin. Orang miskin dilarang sekolah, sebagaimana teriakan Eko Prasetyo, benar adanya. Orang miskin harus melakukan apa saja agar dapat kuliah.

Kasus perjokian dengan alasan materi sudah saatnya dipikirkan jalan keluarnya. Pendidikan di Indonesia harus terjangkau dan tidak membedakan kaya dan miskin. Mahalnya biaya pendidikan dan kastanisasi mahasiswa hanya makin menyuburkan praktik ilegal, seperti kasus perjokian tersebut.

Selain itu, guna menimbulkan efek jera, pihak kampus harus berani mengambil keputusan pahit. Mengeluarkan mahasiswa atau memberi peringatan merupakan pilihan terbaik dari yang terburuk. Dengan demikian, mahasiswa lain yang berniat menjadi joki akan berfikir seribu kali untuk melakukan praktik memalukan ini.

Yang tak kalah penting adalah mengusut dalang di balik perjokian yang hampir selalu terjadi setiap kali ada seleksi penerimaan mahasiswa baru. Ini menjad kata kunci yang tidak boleh ditinggalkan.

Sulit diterima akal sehat jika aksi nekat mahasiswa tersebut tanpa dibantu oknum perguruan tinggi negeri, baik pegawai, dosen, atau bahkan penyedia soal. Pasalnya, mereka menggunakan teknologi canggih dan cara-cara professional dalam menjalankan aksinya.

Sudah selayaknya oknum-oknum itu mendapat hukuman yang lebih berat daripada mahasiswa yang "sekadar" pelaksana tugas. Tanpa tindakan seperti itu, perjokian akan tetap mengintai setiap tahun. Sebab praktik ilegal ini konon beromzet miliaran rupiah.

Praktik perjokian sudah saatnya dihentikan, karena mencederai iklim intelektual dan nalar kritis kita. Lebih dari itu, terungkapnya praktik perjokian menjadi protret buruk sistem pendidikan khususnya pendidikan tinggi di Indonesia. Wallahu a’lam.
Sumber : SUARA MERDEKA
Baca selengkapnya...

Sabtu, 18 Juli 2009

Banyak Sekolah Hanya Berorientasi Uang

0 komentar

Banyak sekolah mengejar status menjadi sekolah berstatus RSBI (rintisan sekolah bertaraf internasional), namun sejatinya tidak paham apa itu RSBI. Yang ada di pikiran kepala sekolah dan guru, hanya uang.

"Money oriented. Mereka hanya iri dengan sekolah RSBI, karena memperoleh dukungan subsidi dana dari Depdiknas antara Rp 500 juta sampai Rp 1,5 miliar," kata Prof Dr Joko Nurkamto dari Direktorat Pembinaan SMA, Depdiknas, Sabtu.

Pada sosialisasi RSBI di SMA Negeri 1 Karanganyar, dia mengatakan, selain subsidi sekolah yang mengejar RSBI, karena ada ketentuan hanya sekolah berstatus RSBI yang boleh memungut uang kepada siswa. Jadi, lagi-lagi soal uang yang menjadi latar belakang.

Karena kesalahpemahaman itu, saat evaluasi RSBI dilakukan, dari 200 sekolah RSBI yang memperoleh status sejak 2007, hanya 20 % yang memperoleh nilai A. 70 % memperoleh nilai B, dan sisanya C. Yang memperoleh nilai A langsung memperoleh promosi status SBI, yang B diberi pendampingan.

"Nanti 2013, yang masih memperoleh nilai C akan diturunkan lagi menjadi sekolah biasa. Depdiknas akan memilih sekolah lainnya untuk dicoba berstatus RSBI. Diberi waktu lima tahun lagi, dan dievaluasi setiap tahun. Begitu seterusnya."

Saat ini kesannya masih sangat menyedihkan. Sebab citra yang muncul di masyarakat, RSBI menjadi sekolah mahal. Bukan mutu pembelajaran yang dikejar, bukan meningkatnya kualitas anak didik, tetapi sekolah harus wah, ber-AC, pakai laptop, LCD, dan Bahasa Inggris, dan sebagainya. ‘’Kami sudah melakukan sosialisasi sampai ke seluruh Indonesia. Tetapi yang kami tangkap dari sekolah yang mengikuti, ya soal itu. Mungkin ini menjadi PR bagi Depdiknas untuk gencar melakukan sosialisasi, agar pemahaman RSBI menjadi lurus," kata dia.

Soal uang, Direktorat Pembinaan SMA memang tidak mengatur. Namun acuannya sangat jelas, RSBI harus mengadopsi anak-anak miskin namun memiliki intelektualitas tinggi, pandai. Minimal 10 % kursi harus diberikan kepada mereka. Bukan hanya yang bisa membayar tinggi saja.

Selain itu, kata Joko Nurkamto, sekolah harus transparan saat menarik iuran dari siswa. RAB (rencana anggaran belanja) harus dibeberkan seluruhnya. Ada lima sumber dana, APBN (subsidi Depdiknas), APBD Provinsi, APBD Kabupaten/Kota, Komite Sekolah, dan pihak sekolah.

"Nah, semua harus dijelaskan, disinkronkan dengan program sekolah. Dengan begitu, semua mendapatkan gambaran berapa biaya yang harus ditanggung, sehingga orang tua siswa akan tahu, memang seperti itu adanya."

Karena itulah, kata guru besar FKIP UNS itu, sekolah harus membuat program yang jelas, biayanya berapa. Kalau perlu, pada saat membahas RABS itu, sekolah mengundang Bupati, DPRD, Inspektorat, Dinas Dikpora, Komite Sekolah, sehingga semua paham.

Karena itu, tarikan uang harus disesuaikan dengan kemampuan masyarakat. Yang miskin dibebaskan. Sekolah tidak perlu memaksakan perubahan fisik. Yang penting dibenahi kultur pendidikan dulu. Guru tidak telat lagi mengajar, siswa diajak aktif diskusi, perpustakaan dilengkapi, dan lainnya. "Secara bertahap, baru kemudian melangkah melengkapi sarana dan prasarana. Itupun harus sepersetujuan semua pihak, dan transparan."
Sumber : SUARA MERDEKA
Baca selengkapnya...

Minggu, 07 Juni 2009

Mendesak, Penyamaan Penulisan

0 komentar

Perbedaan penulisan dan pelafalan bahasa Indonesia di media massa acap membingungkan masyarakat. Padahal, media massa salah satu rujukan yang dipercaya soal penggunaan bahasa Indonesia.

Karena itu, Forum Bahasa Media Massa (FBMM) menilai penyamaan penulisan dan pelafalan di media massa sebagai kemendesakan. Jika tak segera dilakukan, kebingungan masyarakat tak terjawab dan bisa memperparah kesemrawutan berbahasa.

Hal itu mengemuka pada Konvensi III FBMM di Hotel Le Beringin Salatiga, yang berakhir kemarin. Konvensi yang diikuti utusan 13 FBMM daerah di seluruh Indonesia itu berlangsung sejak Kamis (4/6).

’’Penyamaan penulisan dan pelafalan merupakan tujuan awal pembentukan FBMM tujuh tahun lalu,’’ kata Ketua Umum FBMM Pusat 2007-2009 TD Asmadi.

FBMM dibentuk 31 Oktober 2002 sebagai organisasi pencinta bahasa Indonesia, terutama berkait paut dengan media massa. Pembentukan forum itu merupakan tindak lanjut diskusi rutin kebahasaan sejak 1999, yang diprakarsai para wartawan dan editor bahasa di Jakarta.

Kelompok itu dibentuk sebagai antisipasi banjir istilah asing secara tak teratur, yang membingungkan masyarakat pembaca dan pengguna bahasa. ’’Penyamaan penulisan meliputi alfabet, ejaan, kosakata, dan tata bahasa,’’ kata Asmadi.

Selain penyamaan penulisan dan pelafalan, kata dia, FBMM ingin menggiatkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di media massa. Di lingkup lebih luas, forum itu bertujuan membantu mengembangkan bahasa Indonesia.
Bedah Kamus Mengawali konvensi diadakan seminar "Bedah Kamus Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi IV". Narasumber Meity Taqdir Qodratillah (Pusat Bahasa), Prof Dr Liek Wilardjo (UKSW Salatiga), Prof Dr Mudjahirin Thohir MA (Undip), dan TD Asmadi.

Pada seminar itu terungkap kelemahan KBBI IV, jika dibandingkan dengan edisi-edisi sebelumnya. Beberapa kata yang sebelumnya ada, hilang dari KBBI IV. Dalam KBBI IV juga ditemukan kata-kata atau istilah yang ditulis berbeda dari edisi sebelumnya.

Asmadi mencontohkan, kata "zuhur" dalam KBBI IV dinilai lebih baku ketimbang "lohor". Padahal, dalam KBBI III "zuhur" diberi tanda panah ke lohor, yang berarti lohor lebih baku. Contoh lain, dalam KBBI IV kata bentukan yang dibenarkan adalah memperhatikan, yang diambil dari kata dasar hati kemudian berubah jadi berhati.

Dalam KBBI III bentuk baku adalah memerhatikan yang dibentuk dari kata perhati.
’’Tentu pembaca yang tak paham akan bingung. Konsekuensinya, media yang jadi sasaran kebingungan,’’ katanya.

Meity Taqdir yang menjadi ketua tim penyusunan KBBI mengungkapkan banyak kendala selama proses, antara lain menyangkut teknis penulisan hingga kelelahan anggota tim.

’’Di tengah-tengah proses, entah karena apa, lema yang tersusun rapi kocar-kacir, antara kata dan makna tak nyambung. Ada pula sejumlah lema yang semula masuk, hilang begitu saja tanpa kami ketahui penyebabnya,’’ kata dia
Sumber : SUARA MERDEKA
Baca selengkapnya...

Selasa, 02 Juni 2009

PGRI Minta Peraturan Presiden

0 komentar

• Soal Tunjangan Profesi

Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) meminta pemerintah segera menerbitkan peraturan presiden tentang tunjangan profesi bagi guru.

”Kami, PB PGRI, baru saja bertemu Menteri Pendidikan Nasional untuk menagih agar peraturan presiden tentang tunjangan profesi segera diterbitkan. Sebelumnya, kami juga mendatangi Menteri Sekretaris Negara untuk keperluan yang sama,” kata Ketua Umum PB PGRI Dr H Sulistiyo MPd, kemarin, seusai rapat dengan jajaran PGRI Jawa Tengah.

Organisasi itu, kata dia, terus melakukan upaya tersebut berkait dengan penerbitan surat Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2009 yang menghebohkan. PGRI meminta peraturan presiden segera diterbitkan, sehingga tunjangan profesi tetap dibayarkan. Bahkan bisa jadi makin lancar dan masuk ke dalam struk gaji.

Guru Gelisah
”Selain itu, kami meminta pelaksanaan sertifikasi diperbaiki sehingga lebih tertib, berhasil guna, efektif, dan tepat waktu,” katanya.

Sebab sekarang ini, kata dia, pelaksanaan sertifikasi dan pembayaran tunjangan profesi belum seperti diharapkan. ”Apalagi bagi guru agama NIP 13. Sudah banyak guru gelisah karena tunjangan profesi periode ini belum cair-cair juga,” ujar dia.

Karena itu, PGRI meminta pemerintah segera mencairkan tunjangan tersebut. ”Apalagi dasar hukumnya sudah jelas. Sebab, surat Menteri Keuangan sudah bisa dijadikan dasar pembayaran. Bahkan dalam audiensi dengan PGRI, Presiden memberikan sinyal peraturan presiden itu segera terbit.”

Bagaimana jika sampai akhir Juni peraturan itu belum terbit juga? ”Ah, tak mungkin. Risiko politiknya sangat tinggi. PGRI pun akan melakukan langkah untuk 'memaksa' agar peraturan presiden segera turun,” kata dia.
Sumber : SUARA MERDEKA
Baca selengkapnya...

Selasa, 05 Mei 2009

Bimbingan dan Konseling Islam Pengaruhi Kedisiplinan Siswa

0 komentar

Saat ini banyak orang tua yang tidak memiliki waktu cukup untuk memberikan perhatian dan urusan kerohanian bagi anak-anaknya, karena sibuk dengan urusan pekerjaan.

Selain itu, banyaknya kesempatan untuk berbuat menyimpang dari norma masyarakat, serta tingginya tingkat privasi sehingga menghilangkan kontrol sosial, menjadi gambaran umum dekadensi moral masyarakat sekarang.
"Dekadensi moral yang terjadi salah satunya disebabkan oleh ketidakmampuan orang tua, pendidik, dan masyarakat dalam melakukan antisipasi. Generasi muda kita butuh bimbingan dan konseling Islami, yaitu menciptakan kondisi Islami di sekolah," kata Prof Dr Abdul Choliq Dahlan MAg.

Dia mengungkapkan hal itu dalam pengukuhannya sebagai Guru Besar Fakultas Agama Islam Unissula, Senin (4/5) lalu, di Auditorium Fakultas Kedokteran.

Dosen STAIN Salatiga itu menjelaskan, bimbingan dan konseling Islam yang

diselenggarakan oleh sekolah sangat mempengaruhi pembentukan kedisiplinan siswa.

Konsep serta teori bimbingan dan konseling Islami, lanjut dia, adalah teori yang telah lama dikembangkan oleh para tokoh bimbingan dan konseling konvensional yang disebut conditioning and modelling.

Disiplin Diri

Abdul Choliq menjabarkan, teori itu berangkat dari pemikiran bahwa siswa dengan latar belakang psikologis dan biologis yang belum stabil masih perlu pembiasaan (conditioning) dari institusi pendidikan dengan pemberian teladan (modelling).

"Fungsi utama pelayanan bimbingan dan konseling adalah pembentukan disiplin diri, melalui disiplin belajar dan ketegasan pendidik atau teladan mereka," kata pria kelahiran Kediri, 10 Juni 1948, ini.

Dia mencontohkan sebuah SMK di Kota Semarang yang telah menerapkan bimbingan dan konseling Islami, dengan melibatkan para ulama dan kiai secara struktural.

Dampaknya, siswa selalu mengindahkan tata tertib sekolah, shalat lima waktu, sopan santun terhadap teman, pimpinan, guru, karyawan dan para tamu, selalu mengawali mengucapkan salam, membiasakan diri berdoa menjelang pelajaran, serta lebih bisa mengontrol diri.

"Dampak makin tingginya tingkat disiplin terlihat pada makin rendahnya tingkat membolos, tingginya tingkat pemakaian seragam sekolah secara benar, dan meningkatnya derajat ketepatan waktu hadir di sekolah," ujar lulusan Doktor Ilmu Filsafat Agama, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta itu.
Sumber Suara Merdeka
Baca selengkapnya...

Jumat, 01 Mei 2009

Pendidikan Gratis, Sekolah Limbung

0 komentar

* BOS Dinilai Tidak Mencukupi

Pencanangan pendidikan dratis oleh Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo mulai tahun ini membuat sekolah, khususnya SMP, limbung.

Sekretaris Komisi E DPRD Jawa Tengah, Thontowi Jauhari, menyatakan sekolah limbung karena pemerintah tak memenuhi seluruh kebutuhan yang tercakup dalam biaya operasional satuan pendidikan (BOSP).

”Pemerintah hanya membantu pengelola sekolah melalui bantuan operasional sekolah (BOS), meski tahun 2009 dinaikkan 50%,” katanya, seusai

rapat paripurna DPRD di Gedung Berlian Semarang, kemarin.

BOS tahun ini untuk siswa SMP di kota Rp 575.000/siswa/tahun, sedangkan di kabupaten Rp 570.000. Indeks bagi siswa SD di setiap kabupaten Rp 397.000/siswa/tahun, sedangkan SD di kota Rp 400.000.

Tahun lalu, alokasi BOS jenjang SD Rp 254.000 dan BOS buku Rp 22.000. Adapun untuk SMP Rp 354.000. ”Kenaikan BOS bagi setiap peserta didik ternyata belum menutup seluruh biaya operasional pada satuan pendidikan,” ujar dia.

Tak Membiayai
Apalagi, kata dia, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah belum ikut memikul biaya operasional pada satuan pendidikan. Banyak pemerintah kabupaten/kota pun belum mengangggarkan biaya operasional satuan pendidikan, salah satunya Kudus dan Grobogan.

”Di sebuah SMP di Kudus, kepala sekolah menyampaikan bahwa pendidikan gratis yang dicanangkan pemerintah membuat pengelola sekolah kesulitan mengelola dana untuk proses belajar-mengajar. BOS ternyata tak mencukupi. Sekolah tak boleh memungut SPP, padahal pemerintah tak menanggung kekurangannya.”

Di jenjang SMP, pada tahun ajaran 2007/2008 biaya operasional seorang siswa sebulan Rp 89.000. Dana itu ditutup dari BOS dan SPP. Pada tahun ajaran 2008/2009, pengelola sekolah hanya mengandalkan BOS. setiap siswa memperoleh alokasi Rp 47.000/bulan.

”Idealnya, seluruh pembiayaan pendidikan gratis di pendidikan dasar ditanggung pemerintah. Itu sejalan dengan amanah UUD 1945. Kami minta pemerintah konsisten. Jangan mencanangkan pendidikan gratis, tetapi tak mau membiayai.”
Baca selengkapnya...

Kamis, 16 April 2009

BOS Baru Penuhi 36% Operasional Sekolah

0 komentar

Kontroversi sekolah gratis terus muncul mengingat tidak adanya persamaan persepsi tentang pendanaan pendidikan. Hal itu memicu terjadinya perbedaan interpretasi tentang penidikan gratis. “Sebenarnya tidak ada pendidikan gratis. Yang ada adalah biaya operasional ditanggung oleh pemerintah baik sekolah negeri maupun swasta sebagaimana tertuang dalam PP 38 tahun 2008,’’ kata konsultan Decentralized Basic Education (DBE) USID Provinsi Jateng Drs Nurkolis MM dalam workshop Formulasi Pendidikan Gratis di aula B Dinas Pendidikan Provinsi Jateng, Rabu (15/4).

Nurkolis memaparkan besarnya biaya operasional sekolah. Perkiraan kebutuhan biaya operasional siswa per tahun untuk SD sebesar Rp 1.109.000 dan SMP Rp 1.595.000. Tahun 2009 jumlah BOS pertahun naik 50%. Untuk SD naik menjadi Rp 397.000 di kabupaten dan Rp 400.000. Jenjang SMP dan sederajat menjadi Rp 570 ribu untuk tingkat kabupaten dan Rp 575 ribu untuk kota.

“Meski dinaikkan, BOS hanya mampu memenuhi kebutuhan operasional sekolah sekitar 36%. Hitungan itu mengesampingkan inflasi barang dan jasa,’’ terang dia.
Tidak Komprehensif


Menurut Sekretaris Dewan Pendidikan Provinsi Jawa Tengah Prof Dr Ahmad Rofiq, saat ini ada empat kabupaten/kota di Jawa Tengah mulai mencanangkan sekolah gratis yakni Semarang, Sukoharjo, Rembang dan Tegal. Meski begitu pencanangan program sekolah gratis tersebut tak disertai dengan pemikiran yang komprehensif. “Mereka hanya menekankan bahwa gratis yang dimaksud diwujudkan dengan larangan pihak sekolah untuk menarik pungutan dari masyarakat,’’ kata dia.

Sering tak dipahami oleh para kepala daerah, lanjutnya, bahwa pencanangan sekolah gratis tak sesederhana itu. Banyak hal yang perlu dipikirkan lebih lanjut. Seberapa bisa biaya operasional sekolah ditutup dengan bantuan yang ada.
“Faktanya, banyak sekolah yang kewalahan menutup biaya operasional karena bantuan pemerintah tidak mencukupi. Bahkan untuk menyelenggarakan pelajaran tambahan mereka tak mampu mengingat kesulitan dalam membayar honor tambahan guru,’’ terang dia.

Berbicara tentang pendidikan, kata dia, tak hanya selesai dengan meminimalisasi biaya. Akan tetapi perlu diperhatikan mutu dari pendidikan yang dihasilkan. “Jangan sampai program sekolah gratis hanya sekadar isu politik dengan mempertaruhkan mutu pendidikan itu sendiri,’’ tandasnya.

Sementara itu menurut, Ketua Dewan Pendidikan Jawa Tengah Prof Dr Retmono, tak ada undang-undang ataupun aturan pemerintah yang menyebut sekolah gratis. Yang ada justru disebutkan bahwa pemerintah dan orang tua murid ikut terlibat dalam pembiayaan pendidikan. Untuk itu harus dijelaskan komponen apa saja yang digratiskan.

“Kalau tidak jelas akan menimbulkan salah persepsi dalam masyarakat mengingta untuk menggratiskan seluruh komponen sebenarnya pemerintah belum sanggup,’’ ungkap Retmono.

Retmono juga mengharap pemerintah tidak menutup kemungkinan masyarakat untuk membantu pembiayaan pendidikan. Sejauh masyarakat itu mampu dan bersedia, tidak ada salahnya membantu.
Sumber : Suara Merdeka
Baca selengkapnya...

Jumat, 10 April 2009

Klasifikasi, Jenis dan Macam Data dalam Statistika

0 komentar

A. Jenis Data Menurut Cara Memperolehnya

1. Data Primer
Data primer adalah secara langsung diambil dari objek / obyek penelitian oleh peneliti perorangan maupun organisasi. Contoh : Mewawancarai langsung penonton bioskop 21 untuk meneliti preferensi konsumen bioskop.

2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang didapat tidak secara langsung dari objek penelitian. Peneliti mendapatkan data yang sudah jadi yang dikumpulkan oleh pihak lain dengan berbagai cara atau metode baik secara komersial maupun non komersial. Contohnya adalah pada peneliti yang menggunakan data statistik hasil riset dari surat kabar atau majalah.

B. Macam-Macam Data Berdasarkan Sumber Data


1. Data Internal
Data internal adalah data yang menggambarkan situasi dan kondisi pada suatu organisasi secara internal. Misal : data keuangan, data pegawai, data produksi, dsb.

2. Data Eksternal
Data eksternal adalah data yang menggambarkan situasi serta kondisi yang ada di luar organisasi. Contohnya adalah data jumlah penggunaan suatu produk pada konsumen, tingkat preferensi pelanggan, persebaran penduduk, dan lain sebagainya.

C. Klasifikasi Dara Berdasarkan Jenis Datanya

1. Data Kuantitatif
Data kuantitatif adalah data yang dipaparkan dalam bentuk angka-angka. Misalnya adalah jumlah pembeli saat hari raya idul adha, tinggi badan siswa kelas 3 ips 2, dan lain-lain.

2. Data Kualitatif

Data kualitatif adalah data yang disajikan dalam bentuk kata-kata yang mengandung makna. Contohnya seperti persepsi konsumen terhadap botol air minum dalam kemasan, anggapan para ahli terhadap psikopat dan lain-lain.

D. Pembagian Jenis Data Berdasarkan Sifat Data

1. Data Diskrit
Data diskrit adalah data yang nilainya adalah bilangan asli. Contohnya adalah berat badan ibu-ibu pkk sumber ayu, nilai rupiah dari waktu ke waktu, dan lain-sebagainya.

2. Data Kontinyu
Data kontinyu adalah data yang nilainya ada pada suatu interval tertentu atau berada pada nilai yang satu ke nilai yang lainnya. Contohnya penggunaan kata sekitar, kurang lebih, kira-kira, dan sebagainya. Dinas pertanian daerah mengimpor bahan baku pabrik pupuk kurang lebih 850 ton.

E. Jenis-jenis Data Menurut Waktu Pengumpulannya

1. Data Cross Section
Data cross-section adalah data yang menunjukkan titik waktu tertentu. Contohnya laporan keuangan per 31 desember 2006, data pelanggan PT. angin ribut bulan mei 2004, dan lain sebagainya.

2. Data Time Series / Berkala
Data berkala adalah data yang datanya menggambarkan sesuatu dari waktu ke waktu atau periode secara historis. Contoh data time series adalah data perkembangan nilai tukar dollar amerika terhadap euro eropa dari tahun 2004 sampai 2006, jumlah pengikut jamaah nurdin m. top dan doktor azahari dari bulan ke bulan, dll.
Baca selengkapnya...

Jalinan Teman

Powered By Blogger

Social Bookmarking Submission

DOMAIN GRATIS

 

paksoleh punya blog. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme Modified by Paksoleh | Distributed by Deluxe Templates