Rabu, 08 April 2009

Humor Pemilu

0 komentar

Kampaye Terbuka
"Garsia, calon presidennya sudah datang di kampung kita ... ayo cepat nanti kita tidak kebagian tempat !?" Ajak Mc Grogy sambil menarik tangan tetangganya yang bernama Garsia.
"Sebentar ... aku akan mengenakan gigi palsuku dulu !?" jawab Garsia yang bergegas akan masuk rumahnya.
"Kamu gimana sich, saat kampanye seperti sekarang ini gigimu belum berguna. Justru telingamu yang lebih berguna, karena sangat penting untuk mendengarkan janji-janjinya.

Salah Pencet
Sudah menjadi kebiasaan setiap calon wakil presiden yang cantik ini selalu menghubungi partnernya yang calon presiden menggunakan handphonenya (HP).
Terlebih menjelang masa kampanye yang sudah semakin dekat, intensitas hubungan melalui HP semakin meningkat pula. Sebagaimana hari-hari sebelumnya, kalimat yang muncul selalu diawali dengan kata-kata mesra :


"Hallo ..... calon presidenku, apa kabar pagi ini ..... ?!" suara merdu calon wakil presiden yang cantik itu.
"Maaf Anda siapa ..... ??!!" balas suara berat seorang wanita dengan nada marah.

Peresmian Proyek
Sebagai pejabat presiden yang baru dilantik John Randhy mendapat kehormatan meresmikan sebuah proyek raksasa yang prestitius dan strategis di sebuah daerah.
Sebagaimana sudah menjadi kebiasaan protokoler pemerintahan-pemerintahan terdahulu, sebelum acara inti peresmian, terlebih dahulu diawali dengan pidato-pidato yang cukup menghabiskan waktu dan cukup melelahkan bagi yang mendengarkan.
Dari pidato satu ke pidato yang lainnya sudah terlewati. Mata sang presiden yang juga manusia biasa, datang rasa kantuknya dan tidak bisa diajak kompromi lagi.
Ajudan yang duduknya tidak jauh dari beliau, segera berfikir cepat agar presiden yang terserang rasa kantuk tidak sampai dishoot foto wartawan yang jeli mencari momen yang tepat sebagai bahan berita atau dishoot kamera televisi-live yang sedang ditonton rakyat banyak.
Si ajudan tidak kurang akal, maka didekatinya seorang wanita muda cantik yang duduk tidak jauh darinya, berpakaian rok mini memmakai seragam panitia. Tanpa membuang waktu si ajudan presiden segera membisikkan beberapa kalimat.
Diluar dugaan, si wanita tadi segera merespons dan mengerjakan dengan cepat dan tepat sesuai instruksi si ajudan dan ternyata membuahkan hasil yang memuaskan. Oleh karenanya, usai acara si ajudan mendapat acungan jempol dari sang presiden.
Kawan-kawan si ajudan penasaran dan menanyakan kepadanya : "Apa sih yang kamu bisikkan pada nona cantik tadi ...?"
Si ajudan berkata : "Nona, tolong taruh permen ini di meja depan presiden ... maukah nona membuka dua kancing baju nona yang paling atas ........... dan satu lagi yang tidak kalah pentingnya, rok mini yang nona kenakan masih kepanjangan lho ............... !!??".

Depresi
Orang pertama : "Menjelang acara debat di televisi, Anda sebaiknya jangan terlalu memforsir diri ..... !?"
Orang kedua : "Ya, saya kira sudah sewajarnya ..... karena yang menyangkut saya akan dinilai oleh audiens, baik body language (penampilan), materi yang akan disampaikan, juga jawaban masing-masing kontestan debat calon presiden ".
Orang pertama : "Mungkin Anda mengalami depresi !?"
Orang kedua : "Saya tidak depresi .............. hanya kata-kata istri saya masih mengiang-ngiang di telingaku ?"
Orang pertama : "Apa yang dikatakan istri Anda ............... ?"
"Ingat pap, jangan sampai lupa jawaban yang sudah mami siapkan ......... !!?? Begitulah kata istriku sebelum aku berangkat kemari !?"

bersambung ...
Baca selengkapnya...

Selasa, 07 April 2009

Humor Hari Ini

1 komentar

Alasan Amerika Batalkan Operasi Militer ke Indonesia

Sebuah dokumen berklasifikasi sangat rahasia (TOP SECRET) milik Pentagon bocor ke tangan anggota BIN Indonesia di Washington, Amerika Serikat, baru- baru ini.
Dokumen ini adalah laporan CIA ( Central Intelligence Agency) kepada Pentagon yang sebenarnya akan diteruskan kepada Kepala Staf Gabungan Tentara AS Jenderal Marinir Peter Pace, pada pemerintahan Presiden George W. Bush.
Menurut dokumen rahasia tersebut, setelah Irak, Afghanistan, dan Iran, maka Indonesia akan jadi sasaran operasi militer terbatas Amerika Serikat, dalam upayanya menghancurkan sarang teroris, yang menurut laporan CIA banyak terdapat di Indonesia.
Tapi anggota CIA yang lebih dahulu diterjunkan ke Indonesia sebagai turis, menyimpulkan bahwa jika diteruskan maka operasi militer di Indonesia akan sangat mahal biayanya dan dipastikan militer Amerika Serikat akan menderita banyak kerugian.
Ini isi dokumen yang telah diterjemahkan unofficial ke dalam Bahasa Indonesia :

Kepada Yth.
Kepala Staf Gabungan
Jenderal Marinir Peter Pace
di Pentagon

Rencana operasi militer terbatas ke Indonesia sebaiknya dipertimbangkan lagi, berikut alasan-alasannya:


Begitu memasuki perairan, Armada Ketujuh ( 7th Fleet) akan dihadang pihak Bea Cukai RI, karena membawa masuk senjata api dan peralatan tanpa surat izin dari pemerintah RI. Ini berarti kita harus menyediakan “uang damai”. Menurut perhitungan kami, “uang damai” tersebut akan sangat besar mengingat peralatan tempur yang dibawa sedemikian banyak.
Kemudian bila kita mendirikan Base Camp militer (Millitary Base) , bisa ditebak di sekitar Base Camp pasti akan banyak dikelilingi tukang bakso, tukang es kelapa, lapak VCD bajakan, sampai obral celana dalam loreng.

Kemudian kendaraan tempur serta tank-tank lapis baja yang diparkir dekat Base Camp akan dikenakan retribusi parkir oleh petugas dari dinas perparkiran daerah maupun preman-preman sekitar. Jika dua jam
pertama dikenakan Rp 10.000 (tarif untuk orang tentara asing), berapa yang harus dibayar oleh pemerintah AS jika kendaraan harus parkir selama setahun lebih seperti di Irak sekarang ini.

Di sepanjang jalan menuju lokasi Base Camp kita juga harus menghadapi para “Pak Ogah” yang berlagak mengatur jalan sambil memungut biaya dari kendaraan militer yang memutar. Bisa dibayangkan berapa recehan yang harus disiapkan jika harus melakukan operasi tempur menuju pusat-pusat teroris. Dari Tanjung Priok (pelabuhan tempat Kapal induk merapat dan lokasi pasukan mendarat) ke target operasi saja ada berapa pertigaan, perempatan dan putaran ( U Turn).

Suatu kerepotan besar jika rombongan pasukan harus berkonvoi. Karena konvoi yang berjalan lambat pasti akan dihampiri para pengamen, dan anak-anak jalanan. Ini berarti harus mengeluarkan recehan lagi.

Belum lagi jika di jalan bertemu polisi lalu lintas, sudah pasti kena semprit karena konvoi tanpa izin terlebih dahulu. Bayangkan berapa uang damai yang harus dikeluarkan untuk pengurusan izin melintas tersebut.

DLLAJ juga harus diperhitungkan. Anda harus melihat sendiri bagaimana mereka beraksi. Kendaraan-kendaraan militer dan tank-tank itu kan belum di kir. Itu pertanda buruk. Setiap kali kir, berapa uang yang harus kita keluarkan untuk tank semacam M-1 Abrams.
Di Base Camp, tentara AS sudah pasti tidak bisa tidur nyenyak, karena banyak nyamuk akibat sangat tidak higienisnya lingkungan sekitar. Ini bisa dibasmi dengan penyemprotan (fogging) dari Dinas Kesehatan. Biaya untuk ini juga tidak murah.

Tentara AS juga tidak bisa jauh-jauh dari peralatan perangnya, karena disekitar Base Camp sudah mengintai pedagang besi loakan yang siap mempreteli peralatan perang canggih yang kita bawa. Kurang waspada sedikit saja, tank M-1 Abrams kebanggaan kita bakal siap dijual kiloan.
Belum lagi para pencuri kendaraan bermotor yang sudah siap beraksi dengan kunci T-nya bakal merebut jip-jip perang kita yang kalau dicat ulang bisa dijual ke pasar gelap atau pasar spare part hasil curian ranmor di Cinangka.

Peralatan telekomunikasi kita, yang menjadi alat vital dalam pertempuran, juga harus dijaga ketat, karena kapak merah dan copet sudah mengincar peralatan canggih itu.
Di samping itu juga ada aturan wajib lapor kalau bawa tamu jika lebih dari 1 x 24 jam, dan harus izin RT setempat. Belum RW dan Kelurahan. Berapa banyak meja yang harus dilalui? Mahal, sangat mahal untuk urusan seperti ini.

Membayangkan ini semua, kami mewakili anggota CIA di lapangan sepakat untuk menyarankan agar operasi militer terbatas ke Indonesia dibatalkan saja, karena biaya yang dikeluarkan akan sangat besar.
Kami menyarankan agar operasi militer terbatas ini dipindahkan ke Malaysia saja.

Profesor Ateis vs Mahasiswa Religius

Perdebatan seru terjadi di kelas filsafat,membahas apakah Tuhan itu ada atau tidak.
Profesor mengajak para mahasiswa berpikir dengan logika:
“Adakah di antara kalian yang pernah mendengar Tuhan?”
Tak ada yang menjawab.
“Adakah di antara kalian yang pernah menyentuh Tuhan?”
Lagi-lagi tak ada jawaban
“Atau ada di antara kalian yang pernah melihat Nya?!”
Masih tak ada jawaban
“Kalau begitu Tuhan itu tak ada”
Seorang mahasiswa yang religius mengacungkan tangannya, meminta izin untuk bicara.
“Apakah ada yang pernah mendengar otak profesor?” tanyanya pada seisi kelas.
Suasana hening.
“Apakah ada yang pernah menyentuh otak profesor?”
Suasana tetap hening
“Apakah ada yang pernah melihat otak profesor?”
Karena tak ada yang menjawab maka mahasiswa itu kemudian menyimpulkan,”Kalau begitu, profesor memang tak punya otak!”

Menebak Usia Mumi

Ini cerita Gus Dur beberapa tahun yang lalu, sewaktu jaman orde baru. Cerita tentang sayembara menebak usia mumi di Giza, Mesir. Puluhan negara diundang oleh pemerintah Mesir, untuk mengirimkan tim ahli paleoantropologinya yang terbaik. Tapi, pemerintah Indonesia lain dari yang lain, namanya juga jaman orde baru yang waktu itu masih bergaya represif misal banyaknya penculikan para aktivis. Makanya pemerintah mengirimkan seorang aparat yang komandan intel.

Tim Perancis tampil pertama kali, membawa peralatan mutakhir, ukur sana ukur sini, catat ini dan itu, kemudian menyerah tidak sanggup. Pakar Amerika perlu waktu yang lama, tapi taksirannya keliru. Tim Jerman menyatakan usia mumi itu tiga ribu dua ratus tahun lebih sedikit, juga salah. Tim Jepang juga menyebut di seputar angka tersebut, juga salah.

Giliran peserta dari Indonesia maju, Pak Komandan ini bertanya pada panitia, bolehkah dia memeriksa mumi itu di ruangan tertutup.
“Boleh, silahkan,” Jawab panitia.
Lima belas menit kemudian, dengan tubuh berkeringat pak komandan itu keluar dan mengumumkan temuannya kepada tim juri.
“Usia mumi ini lima ribu seratus dua puluh empat tahun tiga bulan tujuh hari,” Katanya dengan lancar, tanpa keraguan sedikit pun.
Ketua dan seluruh anggota tim juri terbelalak dan saling berpandangan, heran dan kagum. Jawaban itu tepat sekali ! Bagaimana mungkin pakar dari Indonesia ini mampu menebak dengan tepat dalam waktu sesingkat itu? hadiah pun diberikan. Ucapan selamat mengalir dari para peserta, pemerintah Mesir, perwakilan negara-negara asing dan sebagainya dan sebagainya. Pemerintah pun bangga bukan kepalang.

Menjelang kembali ke Indonesia, Pak komandan dikerumuni wartawan dalam dan luar negeri di lobby hotel .
“Anda luar biasa,” kata mereka. “Bagaimana cara anda tahu dengan persis usia mumi itu?”
Pak komandan dengan enteng menjawab, “saya gebuki, ngaku dia.”

Jadi Orang Jangan Pelit-Pelit!

Seorang bapak yang sangat-sangat pelit diajak anak tersayangnya untuk naik heli. Awalnya si bapak tidak setuju karena harus bayar tapi karena sayang dengan anaknya ia-pun setuju. Setelah sampai di tempat heli, si pilot bilang : “Naik bayar U$ 100, kalau anda bicara diatas nanti didenda U$ 500 tapi kalau anda tidak bicara sepatah katapun akan saya kasih U$ 1000.”
Setelah setuju dgn perjanjian tsb, heli diterbangkan oleh pilot dengan cara manuver dan jungkir balik diatas. Setelah sampai mendarat si pilot bilang ke bapak pelit tadi : “Wah anda hebat, tidak bicara sepatah katapun”
Si bapak bilang : “Sebenarnya saya mau bicara tadi, tapi takut didenda.”
“Anda mau bilang apa?” kata si pilot
“Anak saya jatuh.”

Penemuan Teknologi Komunikasi

Mexico :
Arkeolog Mexico melaporkan, bahwa mereka melakukan penggalian diantara reruntuhan peradaban Aztec. Setelah melakukan penggalian sedalam 300m mereka menemukan kotak surat. Maka dapat diambil kesimpulan bahwa 500 tahun yang lalu, suku Aztec sudah mengenal surat menyurat dalam berkomunikasi.

Mesir:
Ahli purbakala Mesir yang telah melakukan penggalian di sebelah patung spinx menemukan kabel telepon pada kedalaman 200m. Maka bangsa Mesir mengklaim mereka sudah mengenal telepon sejak jaman King Tut.

China :
Setelah melakukan penelitian diantara patung Teracota, ditemukan serat kaca. Maka bangsa China mengklaim peradaban mereka lebih maju dari bangsa Mesir, karena sudah mengenal fiber optic sejak dinasti Ming.

Indonesia :
Dinas purbakala Pemda Magelang yang melakukan penggalian disamping candi Borobudur sampai kedalaman 100 meter tidak menemukan apa-apa. Dilanjutkan sampai kedalaman 500 meter lalu 1.000 meter. Mereka tetap tidak menemukan sesuatu selain tanah dan batu. Maka, kemudian mereka mengambil kesimpulan, bahwa bangsa Indonesia ternyata paling maju dari bangsa-bangsa di dunia. Karena sejak jaman dinasti Saylendra bangsa kita sudah menggunakan teknologi wireless. ***

Membayangkan Serdadu Israel

Hampir tak ada negara yang rela ketinggalan mengikuti olimpiade. Acara empat tahunan itu merupakan salah satu cara promosi negara masing-masing. Dan tentu saja, peristiwa ini juga sangat bergengsi karena acara ini diliput oleh media massa semua negara peserta.

Wajarlah kalau setiap negara berusaha mengirimkan atlet terbaiknya, dengan harapan mereka bisa mendapat medali emas. Begitulah sambutan Presiden Gus Dur saat melepas tim Indonesia ke Olimpiade Sydney kala itu.

Gus Dur lalu bercerita tentang peristiwa yang pernah terjadi di Suriah. Pada waktu Olimpiade beberapa tahun lalu, tuturnya, kebertulan pelari asal Suriah memeperoleh medali emas. Sang pelari mampu memecahkan rekor tercepat dari pemenang sebelumnya. Bahkan selisih waktunya pun terpaut jauh.

Maka, ia langsung dikerubuti para wartawan karena punya nilai berita yang sangat tinggi. “Apa sih rahasia kemenangan Anda? tanya wartawan.

“Mudah saja” jawab si pelari Suriah, enteng. “Tiap kali bersiap-siap akan mulai, saya membayangkan ada serdadu Israel di belakang saya yang akan menembak saya.”

Dilarang Saling Melempar

Gus Dur seperti tak pernah kehabisan cerita, khususnya yang bernada sindiran politik. Menurut dia, ada kejadian menarik di masa pemerintahan Orde Baru.

Suatu kali Presiden Soeharto berangkat ke Mekkah untuk berhaji. Karena yang pergi seorang presiden, tentu sejumlah menteri harus turut mendampingi. Termasuk “peminta petunjuk” yang paling rajin, Menteri Penerangan Harmoko.

Setelah melewati beberapa ritual haji, rombongan Soeharto pun melaksanakan jumrah, yakni simbol untuk mengusir setan dengan cara melempar sebuah tiang mirip patung. Di sinilah muncul masalah terutama bagi Harmoko. Beberapa kali batu yang dilemparnya selalu berbalik menghantam jidatnya. Harmoko melempar lagi. Dan batu yang dilemparnya kembali membentur jidatnya. “Wah, kenapa jadi begini, ya?” pikir Harmoko, mulai gemetar karena takut. Ia lalu berpindah posisi.

Hasilnya sama saja: batu yang dilemparnya seperti ada yang melempar balik ke arah dirinya. Setelah tujuh kali lemparan hasilnya masih sama, Harmoko menoleh kiri-kanan, mencari-cari posisi Presiden Soeharto untuk “minta petunjuk”. Ketemu, lalu dengan lega ia tergopoh-gopoh menghampiri Bapak Presiden.

Namun, sebelum sampai di hadapan Bapak Presiden, ia mendengar bisikan. “Hai Harmoko, sesama setan dilarang saling melempar.”

sumber : http://www.gp-ansor.org/humor

3 Orang Tes CPNS

Suatu hari, si A, B dan C datang ke kantor untuk mengikuti tes CPNS. Hari itu materinya wawancara lisan. Satu persatu mereka dipanggil pewawancara.
Si A memasuki ruangan.
Pewawancara : "Berapa 100 ditambah 100?"
A : "250, Pak"
Pewawancara : "Maaf, Anda tidak diterima. Alasannya, Anda bermental korupsi"
Si A keluar ruangan.
Si B memasuki ruangan
Pewawancara : "Berapa 100 ditambah 100?"
B : "150, Pak"
Pewawancara : "Maaf, Anda tidak diterima. Alasannya, Anda merugikan negara."
Si B keluar ruangan.
Si C memasuki ruangan
Pewawancara : "Berapa 100 ditambah 100?"
Si C : "Terserah Bapak. Saya siap melaksanakan"
Pewawancara : OK!
Anda diterima sebagai PNS! Alasannya, Anda penuh pengertian

Kakek yang Menakutkan di Tengah Hutan

Ada Sebuah pesta Bir di dalam hutan dan tiba-tiba hujan deras turun bersama petir. 2 orang Pria muda lari sekitar 10 menit dalam hujan deras, dan akhirnya sampai di mobil mereka. mereka melompat masuk kedalam mobil, menyalakan mobilnya dan menuju jalan, ketawa-ketawa dan tentunya masih minum bir terus-terusan.
Tiba-tiba ada wajah kakek tua yang muncul di luar jendela mobil mereka, dan di mengetuk ringan jendelanya! Pria di dalam mobil berteriak," AAAAAAAA! liat jendela sini!! ada wajah kakek tua disana!"
Kakek tersebut terus mengetuk, jadi pengemudi berkata,"Buka jendelanya sedikit dan nanya apa yang dia mau!" jadi, temannya menurunkan jendelanya sedikit sambil takut setengah mampus bertanya," Apa Mau Lu Kek?"
Kakek tersebut dengan pelan menjawab,"Ada yang punya rokok ga?"
Temannya yang membuka jendela ketakutan sambil melihat pengemudi dan berkata," Dia mau Rokok."
"Ya udah, beri dia Rokok!CEPETAN!!" jawab si pengemudi.
Maka dia meraba-meraba kantong celanannya dan memberikan kakek itu rokok dan berteriak pada pengemudi," INJAK GASNYA!!!" sambil menaikkan kaca mobil dengan ketakutan.
Sekarang kecepatan mereka mencapai 80Km/jam, mereka sudah tenang dan mulai ketawa-ketawa lagi, dan temannya berkata,"Gimana menurutmu kejadian tadi?"
pengemudi menjawab,"Gue juga gak tau, mana mungkin bisa terjadi? gue tadi udah lumayan cepat bawa mobil ni."
Kemudian tiba-tiba lagi ada ketukan, dan si kakek tua muncul lagi.
"AAAAAAAAAAAAA, dia datang lagi!" teriak temannya.
"Ya udah, coba tanya apa yang dia mau sekarang!" teriak pengemudinya.
Dia menurunkan jendelanya sedikit sambil gemetaran berkata,"ada apa?"
"kamu ada korek gak?" tanya si kakek tua dengan pelan.
Pengemudi itu melempar korek api keluar dari jendela kepadanya lalu menaikkan jendela dan berteriak."INJAK GASNYA!!"
Mereka sekarang kira-kira telah mencapai kecepatan 100km/jam dan terus meminum bir, mencoba untuk melupakan apa yang telah mereka liat dan dengar, kemudian tiba-tiba lagi ada ketukan!!!!
"Oh TUHAN!DIA DATANG LAGI!!!"
Temannya menurunkan jendelan dan berteriak dalam ketakutan,"APA SIH YANG LU MAU?"
Kakek tua tersebut menjawab,"kalian perlu bantuan untuk keluar dari lumpur ga?

Sabun Cuci Bisa Mencuci Sendiri

Seorang pembantu baru dari desa tertarik pada iklan sabun deterjen merk Solikin yang bisa mencuci sendiri.
Ketika dia hendak mencuci pakaian majikannya,direndam seluruh pakaian kotor semuanya,diberi olehnya sabun merek tersebut diatas.
Dari pagi sampai siang hari dan dia cuma merendam cucian tersebut,dan majikannya heran lalu bertanya padanya sebagai berikut:
Majikan : "Netty,kamu bagaimana sih...?,Masak cucian cuma kamu diamkan dari pagi sampai siang begini,tidak juga kamu cuci."
Pembantu: "Ah Nyonya seperti tidak tahu saja sih, sabun merek Solikin itu bisa mencuci sendiri iklannya."
Majikan : "Lalu kenapa memang...?"
Pembantu: "Ya saya cuma menunggu sampai dia selesai mencuci."
Majikan : "...???!!!!##"

Tertipu oleh Pembeli Kambing

Sebuah keluarga memiliki tiga ekor kambing. Ketika suami pergi ke sawah datanglah tamu seorang juragan bandot bertemu sang isteri.
Tamu : "Wah bondotnya gemuk-gemuk banget nih bu, aku beli deh semuanya."
Isteri : "Ini bandot kesayangan pak, jadi gak dijual."
Tamu : "Begini bu, 3 ekor saya beli dua juta, plus bonus 1 ekor kambing."
Isteri : "Dua juta ditambah bonus 1 ekor kambing ? Ya, ya, boleh, boleh !"
Tamu : "Sekarang 3 ekor kambing saya bawa, dan ini 1 ekor saya kembalikan sebagai bonusnya."
Isteri : "Ini baru isteri, jual kambing laku dua juta dapat bonus 1 ekor kambing."
Ketika suami datang dari sawah, melihat dikandang tinggal ada 1 ekor bandot, kemudian ia bertanya kepada isterinya.
Suami : "Bu, kemana dua ekor kambing kita ?"
Isteri : "Nih pak isteri yang pintar cari duit."
Suami : "Maksud ibu ?"
Isteri : "Kambing kita dibeli juragan bandot 3 ekor dua juta, ditambah 1 ekor kambing."
Suami : "Jadi kambing kita ibu jual ?"
Isteri : "Ya, wong dua juta plus 1 ekor ya saya kasih. Pintar kan pak ibu ini."
Suami : "Pintar dengkulmu. Terus mana bonus dan uangnya ? Yang di kandung kan kambing kita juga. Uangnya mana ?"
Isteri : "Uangnya nanti mau diantar pak. Bonusnya ya kambing yang dikandang itu."
Suami : "Dasar goblok......... Ibu telah ditipu sama juragan bandot."
Isteri : !@#$^&*?

Penggemar Fanatik Doraemon

Sepasang calon pengantin mau menikah hari ini, mereka berdua penggemar serial kartun Doraemon. Saat mereka ijab kabul si mempelai laki laki,lalu mengucapkan kalimat akad nikah sbb:
Laki laki : "Saya terima nikah-nya Doi binti Mak Erot, dengan mas kawin serial "Doraemon" dari jilid 1 sampai tamat dibayar Tunai.

Baca selengkapnya...

Senin, 06 April 2009

Ayo main tebak-tebakan

1 komentar

daripada mikir yang nggak-nggak, mending baca ini saja dech ... dijamin bikin hilang stress !
baca baik-baik, trus cari jawabannya .. gitu, gampang kan ?

  1. Telor apa yang panjang dan diinjek-injek orang gak pecah ?
  2. Buah apa yang adanya cuma di gunung Merapi saja ?
  3. Belut apa yang berbahaya ?
  4. Ikan apa yang bisa nyanyi ?
  5. Siapa yang paling seneng kalo denger ada orang meninggal ?
  6. Apa bahasa Inggrisnya orang Bali jalan-jalan di Amerika ?
  7. Bisnis apa yang paling digndrungi remaja di dunia ?
  8. Kelapa apa yang harus segera diberantas ?
  9. Hewan apa yang bersaudara ?
  10. Kenapa anak kodok suka loncat-loncat ?
  11. Hewan apa yang paling aneh ?
  12. Apa beda jeruk dengan monyet ?
  13. Kebo apa yang paling dibenci oleh guru ?
  14. Kunci apa yang paling menakutkan ?
  15. Daun apa yang nggak bisa dipegang ?
  16. Kecoa apa yang bisa menyebabkan orang masuk rumah sakit ?
  17. Ikan apa yang nggak bisa berenang ?
  18. Bola apa yang mirip kucing ?
  19. Penyakit apa yang paling terkenal dari Cina ?
  20. Apa apa yang paling besar ?
  21. Sabun apa yang baunya nggak enak ?
  22. Kenapa dinamakan nasi goreng ?
  23. Apa perbedaannya cicak dengan bunga ?
  24. Apa yang tidak bisa dilakukan oleh profesor botak ?
  25. Dewa apa yang selalu kesepian ?
  26. Mengapa dalam setiap kampanye mereka, parpol-parpol banyak yang senang membodohi rakyat ?
  27. Ban apa yang digandrungi wanita ?
  28. Hewan apa yang bikin orang bisa kaya ?
  29. Daun apa yang paling keras ?
  30. Kebo apa yang bisa bikin orang capek ?

itu dulu ya, lain kali ada lagi dech ...
kalo mau tau jawabnya klik aja disini ...

pustaka :
  • Nayyara, Tebak-tebakan Ciamik, 2009
  • Keisya Andra, Teka-teki Humor, 2007
Baca selengkapnya...

Rabu, 01 April 2009

Manipulasi Komunikasi

0 komentar

Oleh : Dra. Hj. Dewi Widowati, M.Si.
(Dosen Stikom WJB Serang)

Kita sering mendengar kata komunikasi, Bahkan, dalam kegiatan klta sehari-hari pun tidak luput dari komunikasi. Kata komunikasi sendiri tidak asing bagi kita. Tapi, apakah sebenarnya komunikasi itu?

Menurut Drs. MQ Palapah & Drs. Atang Syamsudin, komunikasi adalah ilmu tentang pernyataan manusia yang menggunakan lambang-lambangnya yang berarti.
Yang dimaksud lambang-lambang di sini adalah lambang-lambang verbal dan non verbal. Lambang verbal adalah pernyataan berupa lisan maupun tulisan. Sedangkan lambang non verbal adalah dengan isyarat yang mengandung makna tertentu seperti senyuman, lambaian tangan, kerlingan mata, dan kening yang berkerut. Semua itu ungkapan seseorang yang pada dasamya adalah komunikasi.

Kegiatan berkomunikasi, baik dilakukan dua orang yang biasa disebut komunikasi antarpersona maupun komunikasi massa, komunikasi dengan menggunakan media massa (TV, radio, surat kabar, film) bisa saja mendapat gangguan yang dalam istilah komumikasi model Shannon dan Weaver disebut noise, yakni setiap rangsangan tambahan dan tidak dikehendaki yang dapat mengganggu kecermatan pesan yang disampaikan. Ahli-ahli komunikasi kini memperluas konsep pada gangguan ini menjadi gangguan psikologis dan gangguan fisik.

Selain hambatan di atas, ada hambatan komunikasi lainnya yang terjadi karena beberapa faktor antara lain faktor kepentingan yang berbedaan antara orang yang berkomunikasi, faktor motivasl yang kurang kuat, faktor bahasa yang berbeda-beda arti/maknanya bahkan bertolak belakang. Hambatan selanjutnya adalah prasangka (prejudice).

Prasangka adalah salah satu hambatan yang berat terhadap suatu kegiatan komunikasi. Sebab orang yang mempunyai prasangka belum apa-apa sudah bersikap was-was, dan biasanya akan menentang pesan yang diterima. Dalam prasangka, emosi memaksa seseorang untuk menarik kesimpulan atas dasar syak wasangka tanpa menggunakan pikiran yang rasional.

llustrasi di atas adalah komunikasi yang tidak ber]alan sebagaimana diharapkan karena adanya ham¬batan atau gangguan. Tetapi, suatu kegiatan komunikasi juga dapat berjalan efektif seperti yang diharapkan bahkan dapat memberikan efek yang posftif.

Lalu bagaimanakah caranya agar komunikasi dapat berjalan efektif? Suatu komunikasidapat berjalan dengan apabila ada faktor-faktor yang dipenuhi dalam kegiatan komunikasi tersebut. Faktor-faktor tersebut adalah pertama, adanya keterbukaan (openness). Keterbukaan menunjukkan adanya sikap saling terbuka di antara pelaku komunikasi (komunikator dan komunikan) dalam melangsungkan kegiatan komunikasi. Kedua, empati (empathy), yaitu kemampuan seseorang untuk memproyeksikan dirinya dalam peran orang lain, sehingga komunikan dapat memahami apa yang sedang dialami oleh lawan bicaranya. Ketiga, kepositifan (positiveness), yaitu sikap yang positif terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain, baik dalam bersikap maupun cara berpikirnya. Keempat, dukungan (supportiveriess), yaitu sikap pelaku komunikasl yang mendukung terjadinya komunikasi tersebut. Kalau plhak yang diajak berkomunikasi tersebut sudah menolak sejak awal, maka komunikasi yang diharapkan tidak akan terjadi. Kelima, kesamaan (equality), yaitu adanya unsur kesamaan yang dimiliki oleh pihak yang berkomunikasi. Misalnya adanya kesamaan bahasa dan budaya akan memudahkan terjadinya komunikasi yang efektif. Tentunya, setiap orang selalu mengharapkan keberhasilan berkomunikasi dalam setiap kegiatannya, baik di rumah, di kantor ataupun di mana kita beraktivitas.

Manipulasi

Lalu, apa itu korupsi komunikasi dan manipulasi komunikasi? Apabila kita berkomunikasi atau menyampaikan informasi dari seseorang atau lembaga kepada pihak lain, tidak menutup kemungkinan pesan-pesan, komunikasi atau Informasi yang terkirim mengalami pengurangan atau penyimpangan, penambahan makna atau arti dari sebuah pesan yang sebenarnya. Dalam Ilmu komunikasi hat Inl sering disebut korupsi komunikasi dan manipulasi komunikasi.

Biasanya, Korupsi komunikasi maupun manipulasi komunikasi terjadi antara dua pihak yang mempunyai kepentingan tertentu dengan maksud menggagalkan atau menjatuhkan kepentingan pihak lainnya, layaknya propaganda perang yang berusaha menjatuhkan moral/mental musuh.

Kini, untuk mencapai komunikasi yang efektif, memang memerlukan adanya kekuatan. Untuk memiliki faktor-faktor tersebut dt atas dan mampu mengeliminir adanya korupsi komunikasi maupun manipulasi komunikasi yang terjadi di sekitar kegiatan kita.
Semua itu akan dapat terpecahkan bila kita memahami apa dan bagaimana ilmu komunikasi dipelajari dan diaplikasikan dalam berbagai bidang atau dimensi kehidupan sesuai tujuannya.

Baca selengkapnya...

Ilmu Komunikasi Politik

0 komentar

catatan : tulisan ini diambil dari link ini

Definisi Ilmu Komunikasi Politik
Komunikasi politik dapat didefinisikan dengan berbagai cara, dikaitkan dengan banyak hal, dan dilihat dari berbagai macam sudut pandang. Sebagaimana yang diungkapkan Mc Nair (2003) dalam bukunya Introduction to Political Communication, ia menulis bahwa:
Setiap buku tentang komunikasi politik harus dimulai dengan pernyataan bahwa istilah komunikasi politik sulit untuk didefinisikan secara tepat, kelihatannya sederhana karena dua kata dalam frase tersebut terbuka untuk didefinisikan bermacam-macam.
Dalam bukunya tersebut Mc Nair mengutip Denton and Woordward yang memberikan definisi komunikasi politik sebagai berikut:
Diskusi tentang alokasi public resources (revenue), official authority (mereka yang diberikan kekuasaan untuk membuat peraturan, keputusan legislative dan eksekutif), dan official sanction ( penghargaan atau hukuman oleh Negara).
Menurut Mc Nair definisi Denton and Woodward di atas termasuk didalamnya retorika politik verbal dan tulisan, namun tidak termasuk komunikasi simbolik. Sedangkan menurut catatan Mc Nair, Doris Graber berpandangan bahwa komunikasi politik termasuk didalamnya adalah paralinguistik seperti bahasa tubuh dan tindakan politik seperti boikot dan protes. Mc Nair sependapat dengan padangan Graber, bahkan pakaian apa yang digunakan, gaya rambut, tata rias, logo, dan semua elemen komunikasi yang ditujukan untuk membentuk image politik termasuk dalam komunikasi politik.
Dengan bersandar pada definisi dari Denton and Woordward, Mc Nair menekankan komunikasi politik pada adanya intensi/maksud. Kemudian Mc Nair lebih menyederhanakan bahwa komunikasi politik terdiri dari :


1. Semua bentuk komunikasi yang dilakukan oleh politikus dan actor politik yang lain untuk mencapai suatu tujuan yang spesifik
2. Komunikasi yang dialamatkan kepada para actor politik oleh non politikus seperti pemilih dan kolumnis
3. Komunikasi tentang para actor politik dan aktifitas mereka, sebagaimana yang dimuat berita, editorial, dan berbagai bentuk media dan diskusi politik.
Graber sendiri memberikan definisi komunikasi politik mencakup:
Konstruksi pengiriman, penerimaan, dan proses pesan yang memiliki potensi langsung atau tidak langsung dampak politik yang signifikaan
Graber melanjutkan bahwa pengirim dan penerima pesan bisa siapa saja baik dia politisi, jornalis, anggota kelompok kepentingan, pribadi yang tidak terorganisir, dan yang menjadi elemen kunci adalah pada pesan yang memiliki efek politik yang signifikan pada pemikiran,keyakinan, dan perilaku individu, kelompok, lembaga, dan masyarakat yang berada pada lingkungannya. Adanya dampak politik inilah yang mendapat penekanan Graber.

Sejarah Perkembangan Ilmu Komunikasi Politik
Komunikasi politik menjadi sebuah disiplin ilmu sejak dibentuknya divisi komunikasi politik oleh Iternational Communication Association (ICA) dan American Political Science Asssociation (APSA) di awal tahun 70an. Namun demikian karya tentang komunikasi politik itu sendiri sudah ada sejak zaman Aristoteles pada tahun 350 SM.
Studi komunikasi politik sendiri mulai marak sejak Perang Dunia I, Berikut ini perkembangan sejarah komunikasi politik yang diuraikan oleh Lynda Lee Kaid (2004):
· Walter Lippmann (1922) Public Opinion dan Harold Laswell (1927) Propaganda Analysis
Dua tokoh ini hidup pada masa PD I dimana pada masa itu propaganda. Istilah “komunikasi massa” yang secara umum kita kenal, pada massa itu belum dikenal, yang digunakan adalah istilah “public opinion and propaganda”. Lippmann juga menyatakan bahwa peran media massa dalam membentuk opini public. Yang menjadi konsen Lippman adalah kebutuhan akan kebebasan media massa yang secara normative dan public yang terinformasikan.
Sedangkan Laswell adalah spesialis dalam melakukan investigasi propaganda. Disertasinya sendiri tentang analsis isi pesan propaganda oleh Jerman VS Perancis, Inggris, dan USA pada PD I. Analisisnya menggunakan model lima pertanyaan yang sangat terkenal: Who say what to whom via which channels with what effect?
· Paul F. Lazarsfeld (1940) Communication Effect and the Erie County Study
Paul Lazarsfel dikenal dengan focus kajiannya pada efek media massa, dia juga dikenal sebagai ilmuan sosial yang menggunakan metodologi kuatitaif dalam melakukan studi tentang perilaku pemilih yang dikenal dengan Erie County Study dalam pemilihan presiden. Dalam penelitian itu dia melihat bagaimana efek media massa dalam mempengaruhi perilaku pemilih dalam pemilihan presiden, penelitiannya tersebut menemukan bahwa media massa tidak banyak berpengaruh terhadap perilaku pemilih waktu itu, kebanyakan pemilih sudah menentukan pilihan sebelum masa kampanye dimulai.
· (Pasca) Perang Dunai II dan Awal Studi Komunikasi
Wilbur Schram adalah tokoh penting dalam proses menjadikan ilmu komunikasi sebagai satu bidang ilmu dari ilmu sosial. Schram berkontribusi dalam menngembangkan studi komunikasi sehingga studi tentang komunikasi menyebar di berbagai universitas di Amerik, dan memunculkan tokoh-tokoh seperti Paul J. Deutschman, Wayne Danielson,dan Steven H. Chaffe. Pasca PD I ini studi tentang komunikasi tidak hanya meneliti tentang dampak langsung dari media, melainkan juga dampak yang tidak langsung.
Sedangkan menurut Ryfe (2001) teori komunikasi politik pada awalnya dibangun oleh tiga disiplin ilmu, yaitu psikologi sosial, komunikasi massa. Diantara ketiga disiplim ilmu tersebut psikologi yang paling berpengaruh. Penelitian-penelitian awal tentang komunikasi politik dipengaruhi oleh psikologi sosial, Lasswell (1927)dengan studi propaganda politik hingga Handley Cantril & Gordon Allport’s (1935) dengan studi persuasi, Walter Lippman (1922)tentang opini public.
Pada Abad 21 politik mulai dilihat sebagai persaingan untuk memperoleh sumber daya yang terbatas. Bentley (1908/1967) berpandangan bahawa esensi politik adalah tindakan kelompok. Bentley membedakan kelompok berdasarkan kepentingannya, dan melihat bagaimana interkasi antar kelompok-kelompok tersebut. Ini dikenal juga dengan model pluralis. Selain Bentley ada David Truman (1951/1962) dan Robert Dahl (1956). Hal ini terkait dengan studi tentang pemilu dan kampanye.
Setelah itu studi komunikasi politik juga berkembang menjadi kajian tentang efek dan dampak . Disini studi komunikasi politik berfokus pada kajian tentang peran media massa dalam politik seperti agenda setting dan framing.

Pendekatan Multidisplin dalam Komunikasi Politik
Komunikasi politik bukan merupakan bidang ilmu yang berdiri sendiri, Dan Nimmo (1981) menegaskan bahwa “political communication as a field of inquiry is cross disciplinary “. Dari asal katanya sendiri sudah jelas setidaknya komunikasi politik terdiri dari dua bidang ilmu, yaitu ilmu politik dan ilmu komunikasi. Secara lebih luas, komunikasi politik pada dasarnya dilingkupi oleh berbagi disiplin ilmu lain..Komunikasi politik sebagai ilmu tidak memiliki batasan yang kaku dan steril dari berbagai disiplin ilmu lainnya, bahkan dikatakan batasan yang dimilinya sebagai permeable boundaries. Berikut ini diuraikan disiplin ilmu berkontribusi terhadap komunikasi politik :
1. Psikologi sosial
Peran psikologi sosial dalam komunikasi politik misalnya sikap nasionalisme, atau kebanggaan diri terhadap bangsa dan negara dapat menimbulkan motivasi dan membangkitkan emosi ketika ada faktor luar yang dianggap merendahkan/melecehkan. Contohnya adalah kemarahan orang Indonesia kepada Malaysia karena lagu Rasa Sayange diambil untuk promosi wisata Malaysia.
2. Matematika/statistic
Pada pengukuran opini public, digunakan metode penelitian yang menggunakan perhitungan matematis, seperti penentuan jumlah sampel, tingkat kepercayaan, margin of error, dan juga pada penggunaan teori peluang dalam teknik pemilihan sampel jika samopel diambil secara acak/random.
3. Sejarah
Sejarah adalah rekaman/tulisan dari peristiwa yang terjadi di masa yang sudah berlalu, dimana rekaman/tulisan tersebut dibuat oleh orang-orang yang memiliki perspektif tertentu tentang peristiwa itu. Oleh sebab itu selalu kita lihat adanya beberapa versi sejarah tentang satu peristiwa yang sama.
4. Filsafat
Demokrasi, adalah filsafat tentang kedaulatan individu. Pandangan ini mengaggap bahwa inividu memiliki hak untuk bebas berpendapat dan bereskpresi, memiliki hak untuk menentukan kebijakan-kebijakan public dan pengisi jabatan-jabatan kekuasaan. Secara komunikasi politik hal ini sangat jauh berbeda dengan pandangan otoritarianisme dimana kedaulatan individu tidak diakui dan sistem komado yang memaksakan kepatuhan kepada pemegang kekuasaan. Komunikasi politik pada sistem demokrasi adalah komunikasi yang bottom-up, sedangkan otoritarianisme hanya mengenal model komunikasi top-down.
5. Budaya
Manusia memiliki budaya yang beragam, nilai, norma, yang dianut pun berbeda satu sama lain termasuk juga perbedaan makna dari bahasa dan simbol. Keragaman budaya ini seharusnya membuat terjadi proses dialog dari berbagai perspektif budaya yang berbeda, atau bisa dikatakan diskursus public.
6. Ekonomi
Perspektif ekonomi dalam komunikasi politik sangat penting untuk diperhitungkan dimana media massa adalah bisnis dengan modal yang sangat besar, memiliki jaringan bisnis yang luas yang tidak mudah dimasuki oleh pebisnis yang kekurangan modal. Televisi sebagai media yang paling efektif menjangkau masyarakat membutuhkan modal yang besar untuk membangun infrastruktur dan memproduksi/membeli isi acara televisi.
Bisnis media yang ditopang oleh advertising akan menjadi persoalan ketika hal ini tidak bisa berdamai dengan tanggung jawab media dalam menyediakan public spehere. Kepemilikan silang dapat membuat isi media cenderung seragam, karena grup media massa yang memiliki banyak media cukup menduplikasi produk mereka pada semua media yang dimilikinya. Bias rating juga membuat membuat media massa cenderung tidak memilih produk yang laku dijual pada advertising dan selera konsumen, sehingga meninggalkan aspek kualitas dan pendidikan.
7. Seni
Komunikasi politik dapat diproduksi dengan berbagai kemasan, termasuk dalam kemasan seni, apapun jenisnya. Wayang misalnya merupakan satu bentuk kesenian yang dapat menjadi media komunikasi politik, pesan tentang bagaimana terjadi intrik politik dalam cerita perang Barata Yudha misalnya adalah salah satu contoh bagaimana seni wayang juga memiliki konteks komunikasi politik.
8. Bahasa
Bahasa sangat berperan dalam komunikasi politik, dimana konstruksi realitas dibentuk oleh bahasa yang digunakan. Pilihan bahasa yang berbeda dapat menciptakan makna yang berbeda. Hamas di Palestina misalnya, dapat disebut secara netral sebagai “ partai yang memeritah”, sedangkan media Amerika dan Israel menyebutnya kelompok “teroris”, tetapi media pendukungnya menyebutnya “pejuang” atau “mujahidin”.
9. Teknologi
Perubahan teknologi juga turut merubah praktik komunikasi politik, teknologi yang membuat komunikasi politik berkembang dimulai dengan media cetak seperti surat kabar, majalah, dan buku. Kemudian berkembang media radio, televise, dan film, lalu dilanjutkan oleh internet dengan menggunakan computer. Bahakan perkembangan teknologi telepon seluler yang lengkap dengan feature radio, televisi, dan internet sekaligus, saat ini semakin mempermudah setiap orang mendapatkan informasi.

Benchmark Komunikasi Politik
Benchmark dari komunikasi politik adalah well informed citizen. Dalam konsep ini, warga negara sudah berada pada tingkat bahwa mereka memiliki informasi yang lengkap dari berbagai alternative pilihan, sehingga ketika menentukan alternative mana yang akan dipilihan mereka dapat memilih secara rasional. Inilah yang hendak dicapai, komunikasi politik dianggap berhasil jika kondisi ini sudah terwujud. Namun diperlukkan beberapa prakondisi menuju tercapainya well informed citizen ini antara lain adalah:
1. Adanya akomodasi terhadap opini dan public sphere yang cukup luas agar terjadi public discourse
2. Adanya pendidikan politik pada masyarakat dengan menampilkan fakta yang
3. Adanya publisitas tentang peristiwa yang terjadi disekitar masyarakat.
4. Adannya peran media sebagai “watchdog” terhadap kebijakan public, perilaku politisi, baik pemerintah dan politisi partai politik.
5. Adanya peran advokasi media terhadap kepentingan public.
Menjadi persoalan ketika wahana sebagaimana disebutkan di atas tidak tersedia dengan baik. Untuk mewujudkan well-informed citizen tidaklah mudah, ada berbagai tantangan yang dihadapi untuk membuatnya menjadi nyata:
1. Kegagalan pendidikan politik yang menghasilakan apastisme politik, sehingga orang menarik diri untuk terlibat dalam politik sebagaimana yang dikatakan oleh Bobio atau ‘silent passivity’ dalam terminology Jean Boudrillard.
2. Tidak adanya pilihan, persoalan ini muncul karena tidak ada pilihan alternative yang untuk dipilih selain pilihan yang sudah biasa ada.
3. Kapitalisme dan kekuasaan. Jika dibalik prosedur politik yang demokratis ternyata ada kepentingan bisnis maka sulit bagi warga negara untuk mempengaruhi kebijakan publik
4. Manipulasi opini dan menutup-nutupi informasi jika poltisi merasa tidak menguntungkan dan justru membahayakan kepentingan mereka. Misalnya jika aspirasi masyarakat ditutup-tutupi atau masyarakat tidak diberikan kesempatan untuk menyatakan pendapat secacara terbuka di ruang public.
5. Rendahnya objektifitas media dan media partisan yang menyebabkan terjadinya distorsi informasi.
Dalam konteks komunikasi politik di Indonesia, dalam kasus pemilu atau pilkada misalnya, menuju well informed citizen masih mengalami banyak tantangan. Dari satu aspek misalnya, soal ketidaktersediaannya alternative pilihan bagi masyarakat. Pilihan partai politik, presiden, kepala daerah di Indonesia, tidak menawarkan tawaran yang berbeda. Kampanye pada umumnya hanya mengungkapkan janji-janji yang normative, tidak spesifik pada isu dan program tertentu.
Menurut Efendi Gazali (Kompas Cyber Media), idealnya kampanye politik adalah “kampanye platform” sebagaimana diungkapkan Mendosa dan Jamieson (2001), yaitu kampanye yang isinya adalah prospective policy-choice. Prinsipnya adalah keyakinan, kampanye merupakan sebuah kesempatan bagi pemilih untuk mebandingkan dan mempertentangkan posisi-posisi kebijakan yang spesifik dan rinci dari para kandidat, lalu memilih yang terbaik diantara penyajian janji-janji itu.

Baca selengkapnya...

Senin, 30 Maret 2009

Tunjangan Profesi Akan Ditiadakan ?

0 komentar

Ditengah-tengah kegembiraan adanya tunjangan profesi bagi Guru dan Dosen, muncul berita baru bahwa tunjangan profesi tersebut akan ditiadakan, sesuai yang tertuang dalam surat Menteri Keuangan Nomor S-145/MK 05/2009 tentang Pembayaran Tunjangan Profesi Guru dan Dosen PBS/ Non-PNS pada Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama ( Suara Merdeka : 28 Maret 2009 ). Ada yang terkejut, kaget bahkan tidak percaya dengan berita tersebut, namun juga ada yang cuek saja, biasa-biasa saja dan nggak peduli berita tersebut. Beragam tanggapan mulai bermunculan di mass media, apalagi bagi mereka yang sudah menerima tunjangan tersebut, yang harus mengembalikan tunjangan yang sudah mereka terima. Wajar saja jika mereka menanggapinya secara emosional dan protes akan hal itu.

Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) sebagai lembaga yang selama ini menjadi wadah perjuangan bagi para guru sangat menyayangkan jika penghentian tunjangan profesi tersebut benar-benar dilaksanakan, dikuatirkan akan merusak kepercayaan para guru kepada pemerintah. Demikian yang disampaikan oleh Ketua Umum PGRI Dr Sulistiyo, M.Pd yang jug Rektor IKIP PGRI Semarang . “PGRI sangat menyayangkan isi surat itu. Sebab, hal itu akan merusak kepercayaan para guru kepada pemerintah, “ ujar dia. Namun dia mengimbau para guru tetap tenang dan tidak terprovokasi.

Dalam kesempatan lain PGRI Jawa Tengah (Jateng) menolak keluarnya surat Menteri Keuangan tentang penghentian sementara tunjangan profesi guru dan menyebut langkah itu melukai hati guru. ( Antara News : 29 Maret 2009 ).
PGRI menyesalkan keluarnya surat Menteri Keuangan

itu karena bakal membuat cemas para guru, kata Ketua PGRI Jawa Tengah (Jateng), Sudharto di Semarang.
"Bahkan, akan melukai hati para guru, karena tunjangan tersebut semestinya menjadi hak guru," tegasnya

Ia mengatakan, kesejahteraan guru belum tercukupi dengan layak sehingga tunjangan profesi guru bisa meningkatkan kesejahteraan itu sekaligus membantu guru membeli keperluan mengajar dan mengikuti kegiatan yang mendukung keahliannya.


Tidak jauh berbeda tanggapan para guru di beberapa sekolah, baik negeri maupun swasta. Bagi mereka yang sudah menerima tunjangan tersebut, tentu saja sangat keberatan kalau harus mengembalikannnya. Pasalnya, uang tersebut sebagin besar sudah mereka gunakan untuk berbagai keperluan. Akan menjadi beban yang tentu saja sangat berat jika gajinya harus dipotong untuk mengembalikannnya. Jadi untuk menghindari keresahan di kalangan guru dan supaya tetap tercipta suasana yang kondusif apalagi saat menjelang diselenggarakan pesta demokrasi di negara kita ini, langkah yang terbaik bagi pemerintah adalah segera untuk menerbitkan Perpres yang akan menjadi landasan hukum pembayaran tunjangan profesi tersebut. Kita tunggu saja.

Baca selengkapnya...

Selasa, 24 Maret 2009

Sejarah Perkembangan Ilmu Komunikasi

1 komentar

Ilmu komunikasi merupakan ilmu pengetahuan yang tergolong muda. Sekalipun pada sisi yang lain, sejarah perkembangan ilmu komunikasi sudah tua sejak masa Yunani dan baru dirumuskan dalam era modern sebagai ilmu baru sejak dekade PD II.
Dewasa ini penelitian-penelitian komunikasi terus menerus dilakukan. Sejumlah jurnal ilmiah dalam bidang komunikasi terbit. Sejumlah karya ilmiah telah menjadi karya klasik dalam ilmu komunikasi seperti The People Choice, The Passing of Traditional Society, Mass Media and National Development, Personal Influence, Understanding Media, The Process and Effect of Communication, Public Opinion, dan sebagainya.
Demikian pula sejumlah figurnya seperti Paul F. Lazarfeld, Wilbur Schramm, Harold Lasswell, Walter Lippmann, Bernard Berelson, Carl Hovland, Elihu Katz, Daniel Lerner, David K. Berlo, Shannon, McComb, George G. Gebner, dan sebagainya telah dikenal sebagai tokoh-tokoh dalam kajian ilmu komunikasi.
Sedangkan di Indonesia terdapat sejumlah figur penting dalam bidang Ilmu Komunikasi seperti M. Alwi Dahlan, Astrid Susanto Sunario, Andi Muis, Jalaludin Rahmat, Ashadi Siregar, Anwar Arifin, Hafid Changara, Dedy N. Hidayat, Marwah Daud Ibrahim, Onong Efendi Uchayana, dan sebagainya. Karya-karya mereka telah memberi warna bagi eksistensi kajian ilmu komunikasi di Indonesia.
Ilmu Komunikasi merupakan fenomena Amerika, bila kita lihat dari penggunaan sebutan Ilmu Komunikasi. Perhatikanlah, di Indonesia pada awalnya lebih dikenal pendidikan Publisistik. Istilah yang menandakan meneruskan tradisi Jerman. Namun sejak dekade 70-an mulai digunakan istilah Ilmu Komunikasi dimana pendidikan jurnalistik hanyalah salah satu bidang yang terutama masuk dalam kelompok komunikasi massa.
Jejak tradisi Amerika dalam kajian ilmu komunikasi di Indonesia dapat dilihat melalui figur M. Alwi Dahlan yang berkesempatan belajar langsung pada para perintis kajian Ilmu Komunikasi seperti Wilbur Schramm, Elihu Katz, Gregory Bateson, dan sebagainya. M. Alwi Dahlan, doktor komunikasi pertama Indonesia ini, pada tahun 60-an sudah lulus dan berkiprah di Indonesia. Upaya M. Alwi Dahlan mengenalkan Ilmu Komunikasi tampak baik melalui Fisip UI maupun lembaga seperti penerbitan atau riset serta kantor

pemerintahan. Tentu saja juga melalui organisasi seperti ISKI, Perhumas, dan terakhir menjadi Menpen.
Kenyataannya dalam pendidikan tinggi komunikasi di Indonesia, dominasi kiblat tradisi Amerika dari kalangan administratif riset menonjol. Studi Ronny Adhikarya telah menunjukkan hal ini. Kecenderungan ini rupanya tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga umumnya di Asia Tenggara, dan juga di benua lain.
Ilmu Komunikasi berawal dari dekade 40-an ketika Amerika menghadapi propaganda dalam rangka menghadapi peperangan. Beberapa prakondisi ketika itu adalah adanya ancaman Nazi dalam memperluas kekuasaannya, kebutuhan untuk mendapat dukungan rakyat dalam rangka menghadapi perang dunia kedua, dan kebutuhan mempelajari propaganda lawan seperti Jerman. Maka dalam konteks inilah kajian komunikasi dirintis. Kemudian setelah masa perang, tradisi ini kemudian dilanjutkan bagi kepentingan dunia komersial.
Sejumlah ilmuwan yang dikumpulkan pemerintah—dalam hal ini departemen pertahanan—berkumpul dalam rangka kepentingan menghadapi peperangan. Beberapa figur tersebut, yang kemudian dilembagakan Scramm menjadi ilmu komunikasi, seperti Paul F. Lasarfeld, Hovland, Lasswell, Berelson, Shannon, Scramm, dan sebagainya. Setelah PD II, kajian komunikasi yang muncul dalam konteks perhatian yang besar terhadap propaganda dilanjutkan bagi kepentingan dunia industri.
Generasi yang melahirkan Ilmu Komunikasi ini yang kelak dikenal sebagai kelompok administrative riset cenderung mengembangkan komunikasi sebagai fenomena transmisi, yakni pengiriman informasi. Tidak heran pula, kajian komunikasi dominan sebagai kajian komunikasi massa. Dalam konteks inilah kita mengenal sejumlah model komunikasi seperti Shannon, Lasswell, Scramm, SMCR dan sebagainya.
Demikian pula penelitian komunikasi identik dengan kajian tentang media. Seperti Content Analysis, Uses & Gratification, Agenda Setting, Cultivation Analysis, survey dampak media, dan sebagainya. Model penelitian ini sudah familiar dalam kajian komunikasi. Namun sekali lagi menunjukkan dominannya kajian komunikasi massa.
Dewasa ini kita memerlukan untuk memahami tentang pentingnya memperhatikan kajian komunikasi yang lebih komprehensif. Bahwa komunikasi massa hanyalah salah satu bidang kajian dalam Ilmu Komunikasi. Padahal disebutkan bahwa awal abad 20 kajian lebih banyak tentang fenomena retorika. Sementara tahun 70-an mulai muncul kajian tentang komunikasi antar personal. Bidang-bidang seperti ini kelihatan belum begitu berkembang di Indonesia.
Satu hal penting pula yang perlu dipaparkan bahwa terjadi pergeseran penting dalam pandangan mengenai komunikasi di Amerika. Yakni pada awalnya, pemahaman tentang komunikasi berangkat dari pandangan yang humanistik sebagaimana dikembangkan kelompok Chicago. Tapi dengan munculnya kelompok administrative riset di masa propaganda tahun 40-an, terjadi perubahan cara pandang terhadap makna komunikasi. Dalam konteks ini dapat dimengerti kemudian pandangan filosofis tentang komunikasi mengalami pergeseran. Walaupun kemudian, menurut Everret M. Rogers, dewasa ini model komunikasi sebagai pemaknaan (meaning) juga mulai mendapat tempat kembali. Pendekatan yang lebih interpretatif yang kembali merujuk pada Max Weber, dan semacamnya.
Untuk itu perlu pula untuk memperhatikan tentang pandangan dalam memahami makna komunikasi. James W. Carey menyebut komunikasi bisa dilihat dalam dua cara pandang. Pertama model transmisi dan kedua model meaning atau ritual. Model kedua belum banyak diungkap. Hal ini dapat dimengerti karena terjadi fenomena di mana sejak kehadiran model komunikasi model Shannon yang linier telah menjadi mainstream dalam memahami makna komunikasi. Padahal sebelumnya, akar kajian komunikasi di Amerika sangat humanistik atau dalam hal ini berada dalam model meaning. Hal inilah yang terjadi.
Satu hal yang menarik bahwa dua model komunikasi diatas tidak lepas dari perkembangan peradaban Barat. Misalkan model transmisi dapat ditarik pada perkembangan peradaban di Barat ketika muncul modernisasi. Ketika terjadi aufklarung, rasionalitas manusia berkembang. Dalam masa ini ditandai arti penting transportasi seperti penjelajahan samudera atau dalam konteks Amerika dibangunnya jalan raya atau rel kereta api yang mampu menghubungkan daerah-daerah baru. Maka dalam konteks ini terjadi pemindahan barang dan orang serta tentunya ide-ide. Sehingga pendatang, yang kemudian mendatangi daerah-daerah baru, kemudian terjadi eksplorasi dan seterusnya. Dalam konteks semacam ini model transmisi dalam komunikasi berkaitan dengan pemindahan informasi di mana kontrol komunikator menjadi penting. Dengan pandangan kritis, dapat kita katakan model transmisi telah ditandai dengan eksploitasi, penguasaan, dan semacamnya.
Berbeda dengan model meaning, yang mencoba untuk melihat komunikasi berkaitan dengan upaya untuk membangun komunitas (maintain community). Sebuah kolektifitas yang akur, hangat, dan semacamnya. Kehidupan kelompok yang hangat dan akrab. Model ini dikembangkan dalam generasi Chicago, sebuah masyarakat perkotaan yang di awal abad 20, di mana dalam keanekaragaman hendak mencoba untuk membangun dan memelihara komunitas. Maka komunikasi dikaitkan dengan upaya untuk memelihara nilai-nilai ini. Maka dalam cara pandang ini berkaitan dengan upaya untuk memelihara yang telah ada. Komunikasi berkaitan dengan upaya untuk membangun integrasi.
Menjadi penting untuk disadari bahwa dewasa ini kembali perhatian muncul terhadap pendekatan budaya (cultural studies) ini. Dengan demikian, fenomena cultural studies dalam kontek tradisi pragmatis Amerika dapat dipahami dalam konteks ini. Seorang tokohnya, James W. Carey, dalam tulisan-tulisannya mencoba membahas cultural studies dalam kaitannya dengan tradisi pragmatis dari Chicago ini.
Upaya untuk menoleh kembali pada cara pandang mengenai komunikasi sebagai fenomena pemaknaan (meaning) tampaknya ketika terjadi kejenuhan terhadap dominasi dari tradisi kajian komunikasi dari generasi administratif riset yang telah mendominasi selama beberapa dekade.

Perkembangan Kajian Komunikasi
Julia Wood mengamati perkembangan kajian komunikasi dalam perkembangan trend berikut ini. Bahwa terdapat relasi antara perkembangan dalam kehidupan sosial dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Pada dekade 40-an, perhatian ilmuwan banyak mengenai upaya memahami obedience, conformity, dan prejudice. Tema-tema ini yang berkembang setelah PD II. Pada masa itu belum ada masalah seperti HIV sebagaimana sekarang. Demikian pula, pada decade 90-an terdapat perhatian terhadap soal komunikasi berkaitan dengan soal seksualitas (Bowen & Michal Johnson, 1995, 1996).
Dulu perhatian juga lebih banyak mengenai hubungan antar pribadi seputar hubungan romantis dikalangan remaja sekolah, kalangan menengah Eropa Amerika, able bodied heterosexuals bagi yang tinggal berdekatan. Belakangan ini berkembang kesadaran mengenai pluralisme budaya yang memotivasi ilmuwan meneliti dan mengembangkan teori mengenai kalangan gay dan lesbian ((Huston &Schwartz, 1996), relasi antar individu dikalangan orang dewasa (Dickson, 1995), relasi dikalangan anggota budaya minoritas(Gaines, 1995), pernikahan permanen diantara individu dewasa, relasionsip dilakukan melewati sistim komunikasi elektronik (Lea & Spears, 1995), dan relasionsip jarak jauh (Rohlfing, 1995)
Contoh lain mengenai pengaruh budaya pada pengembangan ilmu pengetahuan adalah penekanan pada individu pada sebagian besar teori komunikasi Barat (Western). Pada masyarakat lain seperti Asia, nilai-nilai kolektif atau komunal lebih dihargai. Jadi teori-teori dari Timur (Oriental) melihat bagian terkecil pada kolektifitas. Dan tidak pada individu. (Wenzhong & Grove, 1991). Perhatian mengenai hubungan yang saling bergantung (interdependent) lebih penting daripada independent (Chang & Holt, 1991). Selanjutnya, ideologi dominan dalam budaya kolektif menekankan harmoni, konformity pada kelompok, kerendahhatian (humility), dan perbedaan yang kontras pada budaya individualis yang menekankan pada pernyataan (assertion), kepercayaan diri, otonomi, dan konflik (Berg&Jaya, 1993; Klopf, 1991).
Bertentangan dengan teori-teori komunikasi Barat yang menekankan pada perhatian utama pada pemunculan diri (self disclosure), ahli teori Timur telah menunjukkan sedikit minat pada penunjukkan (revelations) pribadi dan menunjukkan emosi, yang menunjukkan kemarahan (frowned upon) pada banyak masyarakat Timur (Ishii&Bruneau, 1991; Johnson & Nakanishi, 1993; Ting—Toomey, 1991). Hal ini menunjukkan dimana perhatian dan ideologi budaya membentuk sifat teori pada momen yang telah ada dalam kehidupan suatu masyarakat. (Wood, 359-360).
Bagaimana dengan perkembangan kajian komunikasi di Indonesia ? Mengamati beberapa penelitian penting : Rusdi Muhtar tentang dampak menonton televisi di Sulawesi Selatan, Wilbur Schramm, Gon Cu, Alfian tentang dampak satelit palapa di Indonesia, Marwah Daud Ibrahim tentang satelit palapa, Harsono Suwardi tentang peran suratkabar dalam komunikasi politik, Ibnu Hamad tentang wacana politik, Ishadi tentang televisi, Prof achmad tentang pers Indonesia, Bahtiar Aly tentang pers Indonesia, M. Alwi Dahlan tentang komunikasi politik, Efendi Ghazali meneliti tentang komunikasi politik di Indonesia periode pasca orde baru dan sebagainya. Disini juga menjadi penting untuk diperhatikan, bagaimana akar tradisi Eropa sudah lama di Indonesia dalam kaitannya dengan kajian komunikasi.
Selain itu terdapat pula sejumlah kajian yang tidak dihasilkan ahli komunikasi, tapi sangat penting bagi kajian komunikasi. Smith tentang sejarah pembreidelan pers di Indonesia, Ahmad Adam dari Malaysia tentang pers pergerakan di Indonesia, Tickell tentang pers di Indonesia, David T. Hill tentang Mohtar Lubis dan Pers Indonesia. Philip Kitley tentang fenomena dunia televisi swasta yang muncul di Indonesia diakhir 1990-an. Krisna Sen tentang film Indonesia.
Bila diawal, kajian komunikasi di Indonesia ditandai tentang kajian jurnalistik. Kini dalam perkembangan, bidang komunikasi meluas. Jurnalistik hanyalah salah satu bidang kajian. Terdapat bidang humas, periklanan, kajian tentang televisi, radio, kehadiran media-media baru seperti internet, dan sebagainya. Pada sisi lain tampak misalkan belum ada penelitian humas yang sampai menjadi pembicaraan di Indonesia. Juga kita kekurangn ahli kajian periklanan, radio, dan sebagainya. Inilah lahan yang perlu untuk dipertimbangkan para sarjana komunikasi.
Mengamati kecenderungan, kajian lulusan komunikasi umumnya dominant dalam bidang komunikasi massa. Demikian pula pakar komunikasi dapat dilihat umumnya sebagai pakar komunikasi massa. Masih sedikit yang muncul atau mendalami bidang lain seperti komunikasi organisasi, kajian public relations, komunikasi antar budaya, dan sebagainya. Maka hal inilah yang penting menjadi agenda pengelola pendidikan tinggi komunikasi agar juga mengembangkan aspek kajian diluar komunikasi massa (media studies). Sedikit pakar seperti Dedy Mulyana yang mendalami kajian komunikasi antar budaya tersebut atau Budyatna yang mendalami komunikasi antar pribadi.

Kajian Komunikasi di Indonesia
Kajian komunikasi sebagai sebuah kajian teoritis terus menerus dikembangkan. Para ahli terus menerus melakukan penelitian menguji teori hasil penelitian dalam bentuk-bentuk seminar-seminar. Di negara-negara maju tampak melalui sejumlah forum dan jurnal-jurnal yang diterbitkan. (lihat little john pada bab penutup).
Fenomena kajian komunikasi di Indonesia menunjukkan beberapa fenomena berikut.
Di Indonesia, aktivitas ilmiah dalam kajian komunikasi dapat dilihat melalui kegiatan yang diadakan oleh kampus dan ISKI atau Perhumas. Bahkan tampak pula kemunculan lembaga baru humas yaitu Public Relation Society of Indonesia yang diketuai August Parengkuan dan sekjennya adalah Magdalena Wenas, seorang praktisi PR senior Indonesia. Tampaknya institusi semacam ini yang terlihat melakukan. Demikian pula tampak melalui lembaga LSM seperti Media Watch seperti ISAI, LSPP, LKM, dan sebagainya.
Disatu sisi terdapat booming peminat kajian komunikasi berkat perkembangn media industri. Terlebih dengan hadirnya televise swasta. Namun disisi lain, kajian komunikasi belum begitu menunjukkan kecepatan yang memadai. Yang cukup menggembirakan adalah munculnya literatur komunikasi yang ditulis oleh tokoh-tokoh muda seperti Deddy Mulyana, Eriyanto, Nurudin, Wirjanto, Alex Sobur, dan sebagainya. Dulu, untuk beberapa lama, yang tampil adalah tokoh sepeti Onong U. Effendi, Jalaludin Rahmat. Figur lain yang tampil aktif dalam menulis adalah Ashadi Siregar, Novel Ali, A Muis, Ana Nadya Abrar, Sinansari Ecip, Ade Armando, Effendi Ghazali, dan sebagainya. Mereka tampil dalam tulisan artikel di media massa.
ISKI telah menerbitkan jurnal ISKI. Dibanding pada edisi awal kondisi belakangan semakin baik, yang diterbitkan oleh Rosda Karya. Namun belakangan frekuensi terbitnya semakin tidak teratur. Sebelumnya telah pula ada Jurnal Audientia yang diterbitkan di Bandung oleh figure seperti Dedy Djamaludin Malik. Namun dewasa ini tidak lagi terbit.
Sementara aktivitas besar dalam kegiatan ilmiah belum kelihatan. Dulu, Wilbur Schramm pernah melakukan penelitian di Indonesia tentang Palapa. Selebihnya, kajian yang serius barangkali tampak melalui hasil disertasi seperti yang sudah diterbitkan adalah Harsono Suwardi tentang komunikasi politik. Penelitian lain yang sering dirujuk adalah karya Rusdi Muhtar tentang pengaruh televisi dikalangan masyarakat di Sulawesi Selatan. Yang agak baru adalah penelitian Efendi Gazali tentang komunikasi politik di Indonesia. Betapa miskinnya keberadaan bacaan komunikasi di Indonesia.
Terakhir yang tampak : tentang pers Indonesia masa kolonial oleh sejarawan Malaysia Ahmad Adam, karya Philip Kitley tentang televisi di Indonesia, Paul Tickell tentang pers Indonesia, . Dulu pernah ada penelitian tentang pembreidelan pers di Indonesia oleh Smith. Sementara Daniel Dhakidae dengan pendekatan ekonomi politik meneliti pers industri masa orde baru. Demikian pula David T. Hill tentang Mochtar Lubis dan pers orde baru. Demikian pula terdapat Ronny Adhikarya yang meneliti tentang pendidikan komunikasi di Asia, salah satunya di Indonesia. Juga Akhmad Adam tentang pers masa colonial.
Beberapa disertasi seperti Marwah Daud Ibrahim tentang satelit palapa, Bahktiar Aly tentang pers Indonesia, dan sebagainya. Ibnu Hammad tentang analisis wacana pers Indonesia. Ishadi SK tentang fenomena televise di Indonesia. M. Alwi Dahlan menulis disertasi tentang komunikasi politik.
Sejumlah PT tampak menonjol seperti Departemen Komunikasi UI, Unpad, UGM, Unhas. Sedangkan beberapa yang lain seperti Undip, Unair, UNS. Sedangkan swasta tampak seperti IISIP, dan sebagainya. Tentu saja fenomena lain seperti sejumlah PTN dan PTS yang membuka jurusan Ilmu Komunikasi.
Maka bagaimana prospek dan arah kajian komunikasi di Indonesia kedepan ? Rasa-rasanya wacana kajian komunikasi di Indonesia belum begitu hangat memperbincangkan hal ini. Tampaknya dibutuhkan peran aktiv lembaga kajian komunikasi. Dalam hal ini terutama kalangan kampus melalui pusat studi komunikasi. Diskusi-diskusi tentang buku-buku penting dalam bidang komunikasi, hasil-hasil penelitian komunikasi di Indonesia, sosialisasi hasil-hasil pemikiran, dan sebagainya.
Merindukan kajian komunikasi yang dinamis tampaknya masih jauh. Padahal persoalan ditengah-tengah masyarakat kita tidak sedikit. Peran ilmu komunikasi tentunya sangat diharapkan. Seperti kecemasan terhadap dampak televise, vcd, dan sebagainya. Masih jelas dalam ingatan, ketika temu mahasiswa komunikasi se Indonesia di Undip Semarang (1994) muncul wacana tentang sebaiknya ISKI dibubarkan karena tidak memiliki kontribusi bagi persoalan komunikasi di Indonesia. Terlebih ketika itu, sedang terjadi Pers Breidel terhadap Tempo Editor Detik dimana suara ISKI tidak terdengar.
Namun demikian hingga dewasa ini, ISKI masih satu-satunya yang dapat rutin melakukan kegiatan. Seperti tampak melalui simposium kurikulum yang reguler diadakan. Tentu saja wacana yang berkembang disini menjadi penting untuk diperhatikan dan menjadi rujukan bagi berbagai kalangan. Terutama lembaga pendidikan tinggi komunikasi yang semakin banyak jumlahnya.
Tampaknya agenda ke depan perlu untuk semakin menjadikan ilmu komunikasi dapat berfungsi dalam kehidupan bermasyarakat. Melalu penerbitan jurnal, diskusi, buku, penelitian, dan sebagainya. Partisipasi dari berbagai kalangan sangat diperlukan.
Ada hal yang menarik dari figure pakar komunikasi M. Alwi Dahlan. Yakni ketika beliau dalam perjalanan karir panjangnya sebagai pakar komunikasi dimana upaya untuk menunjukkan kontribusi keberadaan ilmu komunikasi di Indonesia ketika beliau diangkat menjadi menteri penerangan RI terakhir masa Soeharto. Setelah sebelumnya lama menjadi staf ahli di kementerian lingkungan hidup. Melalui jabatan sebagai menteri sebagai keberhasilan dalam mengenalkan kajian komunikasi di Indonesia.
Maka kini dengan tingginya minat masyarakat memasuki bidang ilmu komunikasi menjadi penting untuk dijelaskan. Kalangan yang bergerak dalam penyelenggaraan bidang pendidikan komunikasi perlu untuk mengangkat wacana tentang hal ini. Semakin sering memperbincangkan sehingga didapat pemikiran yang semakin matang. Yang pada akhirnya dapat memperkuat keberadaan ilmu komunikasi di Indonesia.
Rasanya menjadi sesuatu yang janggal ketika masyarakat semakin berminat memasuki bidang ilmu komunikasi, namun perbincangan dikalangan komunitas pengkaji ilmu komunikasi tidak intens. Rasa-rasanya terdapat persoalan besar dan mendasar dalam hal ini. Betapa lemahnya tradisi keilmuan kita. Dan rasa-rasanya ini tidak pernah tuntas dan habis-habisnya.

Mengajar Ilmu Komunikasi dan Cultural Studies
Belajar Ilmu Komunikasi dewasa ini kita berada dalam suatu pola baru. Artinya, ternyata tidak hanya belajar apa yang disebut sebagai ilmu komunikasi tapi sekaligus juga cultural studies. Dasarnya adalah apa yang berkembang dewasa ini dalam pendidikan tinggi komunikasi yang mulai mengangkat tema-tema kajian yang popular dari tradisi cultural studies.
Untuk menjelaskan mengenai keterkaitan antara Ilmu Komunikasi dengan Cultural Studies ini mengacu pada perdebatan yang pernah terjadi pada decade 60-an dengan tokoh utamanya Raymond William. Tokoh dari Inggeris ini memandang bahwa kajian ilmu komunikasi versi Amerika yang pada awalnya khusus mengkaji komunikasi massa atau media studies. Tentunya yang dimaksud berada dalam konteks kemunculan kajian ilmu komunikasi produk generasi 40-an yang terlibat dengan proyek Amerika untuk menghadapi PD II. Model kajian komunikasi dari generasi ini merupakan kajian komunikasi model transmisi ketika model Shannon Weaver telah menggeser kecenderungan kajian komunikasi menjadi semacam ini dan seketika model kajian komunikasi ala Chicago semakin memudar. Sebagaimana kita ketahui, model Chicago menarik dimana kajian komunikasi lebih humanistik. Kajian komunikasi dilakukan dalam rangka untuk membangun komunitas.
Menurut William, media massa hanyalah salah satu komponen dari kebudayaan (cultural studies). Maka mestinya kajian komunikasi itu lebih tepat sebagai Cultural Studies. William dalam konteks Eropa, Kelompok yang muncul sejak dekade 60-an ini, mencoba melihat komunikasi sebagai bagaian dari kajian budaya. Terutama lagi perhatian terhadap kesenjangan, konflik, kelompok minoritas, dan semacamnya. Cultural studies memberi perhatian terhadap kelompok minoritas dan memandang realitas terdiri atas banyak konflik yang masing-masing mewakili identitasnya. Dan konflik yang dimaksud adalah konflik ideologi. Tokoh terakhir terpenting dari aliran ini adalah Stuart Hall.
Sesungguhnya, tradisi Chicago—yang merupakan salah satu tradisi kajian awal komunikasi di Amerika–dikenal memiliki kedekatan dengan tradisi ilmu sosial Eropa yang berada dalam paradigma interpretatif. Sekalipun kemudian agaknya dapat disebutkan pula, kajian budaya tradisi Chicago di Amerika dapat disebutkan bahwa mereka tidak berkecenderungan pada Marxisme sebagaimana kecenderungan cultural studies di Eropa, terutama dari Birmingham sejak dekade 60-an berangkat dari neo Marxisme.
Sementara kita ketahui bahwa tradisi Amerika yang muncul dari generasi tahun 40-an telah menjadi mainstream termasuk di Indonesia. Maka dalam pendidikan tinggi komunikasi literatur pun merujuk pada tradisi ini, sebagaimana dapat dilihat populernya figur-figur seperti Scramm, Hovland, Lazarfeld, Berlo, Shannon Weaver, Berelson, Merton, dan sebagainya. Jadi faktor ini pula dapat dimengerti ketika terjadi perubahan nama dari Jurusan Publisistik yang menunjukkan pengaruh tradisi Jerman menjadi Jurusan Ilmu Komunikasi. Indonesia yang sedang membangun dengan proyek modernisasi di bawah Orde Baru banyak berkiblat ke Amerika. Dalam konteks ini pula kelahiran Ilmu Komunikasi Amerika sejalan dengan proyek modernisasi Amerika setelah keluar sebagai pemenang dalam PD II.
Tidak bias dipungkiri bahwa model transmisi telah berjaya pada masa Orde Baru. Masa pembangunan dan industri berkembang. Sementara kajian cultural studies terdengar dari sudut kepentingan yang lebih reformis untuk mengadakan pembaharuan dan kritik terhadap mainstream. Dalam konteks Indonesia, pendekatan semacam ini telah menjadi pilihan kalangan intelektual kritis dan penggiat masyarakat. Maka sejak dekade awal 90-an perhatian terhadap cultural studies mulai terdengar, termasuk dalam konteks kajian komunikasi.
Tidak dapat dipungkiri bahwa dominannya tradisi Amerika dalam pengajaran komunikasi kita. Idealnya memang keseluruhan perspektif dikenalkan sehingga kemudian mahasiswa sendiri yang menentukan pilihan. Beberapa teman mengalami hal semacam ini. Ada keterlambatan menyadari adanya perspektif lain dalam kajian ilmu komunikasi.
Bila Ilmu Komunikasi (Massa) banyak memberi perhatian kepada kajian media (media studies), maka cultural studies memperhatikan banyak hal. Cultural studies mencoba menjelaskan tentang fenomena masyarakat kontemporer, dalam pengertian masyarakat informasi atau masyarakat kapitalisme lanjut. Misalkan beberapa tema yang dikaji adalah tentang lifestyle, fashion, sub culture, atau kelompok-kelompok minoritas. Asumsi yang digunakan dalam hal ini adalah adanya konflik ideologi atau identitas di masyarakat.
Maka kini ketika mengajarkan Pengantar Ilmu Komunikasi atau Teori Komunikasi—bahkan Filsafat dan Etika Komunikasi, kedua-keduanya harus diajarkan. Apa yang ditampilkan LittleJohn dalam bukunya menunjukkan kecenderungan semacam ini pula. Artinya, keseluruhan paradigma telah diakomodir. Tidak lagi dalam konteks kajian komunikasi massa terutama generasi Lazarfeld, Schramm, Lasswell, dan semacamnya. Demikian pula buku Rogers, A History of Communication Study ; A Biographycal Approach menunjukkan adanya fenomena cultural studies yang perlu pula ditelaah kalangan pengkaji ilmu komunikasi. Demikian pula John Fiske juga menunjukkan keberadaan dua paradigma besar yakni Empirisme School dan non empiris (semiotic, postrukturalist, etc).
Hal lain yang perlu juga untuk dikemukakan adalah pendekatan berdasarkan nilai-nilai ‘Timur”. Dalam konteks ini pandangan dari Timur seperti Asia atau Middle East yang berangkat dari Tradisi Agama Islam atau kepercayaan seperti Hindu, Budha, Tao, dan sebagainya. Sehingga kita bias lebih utuh untuk melihat kajian ilmu komunikasi. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa kajian komunikasi (Ilmu Sosial pada umumnya, pen) dalam tradisi Barat (Amerika dan Eropa) tidak dapat dilepaskan dari pandangan Judeo Cristian yang berakar dari tradisi Yunani dan Romawi.
Salah satu hal penting dari tradisi Timur adalah cara berfikir yang holistik, tidak menekankan pada individu tapi kolektivitas, serta pentingnya emosi dan spiritualisme. Tentu saja kecenderungan semacam ini akan mempengaruhi proses keilmuan. Sementara Barat sangat rasional empiris, individu sebagai pusat, pentingnya kompetisi, dan sebagainya. Dari sini kita dapat melihat bagaimana keterkaitan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat tersebut.
Hal ini dapat dirujuk pada buku seperti The Asian Perspective of Communication Theories. Misalkan beberapa pemikiran dari tradisi Islam dapat dilihat dalam tulisan-tulisan Hamid Mowlana, Mohammad Ayis.
Umumnya yang dikembangkan selama ini, kajian ilmu komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi massa dalam konteks Amerika. Maka figur yang dikenal adalah Lasswell, Schramm, Lazarfeld, Berelson, Shannon, Katz, dan sebagainya. Ketika hal ini ditanyakan kepada Prof M. Alwi Dahlan, menurutnya hal ini berkaitan dengan orientasi pendidikan untuk memenuhi kebutuhan dunia kerja. Tampaknya hal ini dapat dimengerti, karena model transmisi yang sering disebut sebagai kajian administratif memang diperlukan bagi dunia industri atau Negara dalam hal ini tentang komunikasi pembangunan dalam konteks modernisasi. Mungkin ini yang disebut sebagai rasionalitas instrumental.
Belum terdengar figur dari Eropa misalkan seperti Raymond William, Stuart Hall, Boudrilard, dan sebagainya. Atau kalaupun dari Amerika belum terdengar figur Douglas Kellner, James W. Carey, dan sebagainya.
Namun pada dekade 90-an muncul wacana postmodernisme yang diantaranya telah mengenalkan kajian tentang wacana, semiotik, hermeneutik, dan sebagainya. Sebuah kajian yang berjalan beriringan dengan gerakan prodemokrasi di Indonesia. Suasana ketika kritik terhadap proyek modernisme telah berlangsung. Sementara kajian cultural studies yang berwatak reformis mendapat tempat karena memperhatikan kalangan yang tertindas, lemah, dan semacamnya.
Maka kini dalam era transisi menuju demokrasi dan reformasi, keberadaan kajian ini masih berlangsung. Dapat dijumpai dalam kajian tentang multikulturalisme. Termasuk juga alat analisis untuk melihat sejumlah gejala kontemporer seperti gaya hidup, budaya kapitalisme lanjut, kelompok-kelompok komunitas (subculture) dan sebagainya.
Dalam konteks semacam ini kajian komunikasi dewasa ini diajarkan. Walaupun di sisi lain juga terdapat kondisi. Agar terdapat keutuhan dalam memahami pengertian komunikasi.
Maka dapat dilihat betapa dalam tradisi keilmuan kita jumpai perdebatan paradigmatik. Senantiasa terjadi dialog antar paradigma. Hal ini tentu saja berkaitan dengan keberadaan ilmu tersebut yang berkaitan dengan kondisi masyarakat ketika itu. Misalnya, Chicago School berkaitan dengan kondisi masyarakat urban yang heterogen dimana ada kebutuhan untuk membangun kebersamaan. Maka kajian ilmu sosial lebih humanistik. Sementara model transmisi yang muncul dalam konteks ketika ada kepentingan untuk mengembangkan propaganda baik dalam konteks politik maupun industri. Maka kajian ilmu sosial pun dalam kepentingan melakukan propaganda. Demikian pula model cultural studies di Eropa yang disuarakan oleh mereka yang peduli terhadap kalangan minoritas seperti perhatian Raymond William terhadap kalangan pekerja di Inggris yang diteruskan pula oleh Stuart Hall. Atau dalam konteks Amerika, kajian cultural studies berkaitan dengan kritik terhadap industri atau modernisasi.
Demikian pula seperti Komunikasi Antar Budaya yang dikembangkan Amerika ketika memiliki kebutuhan untuk memahami bangsa lain. Amerika setelah PD II keluar sebagai pemenang dan memimpin proyek modernisasi. Disatu sisi terdapat iklim dimana para politisi mereka kurang memahami bangsa lain yang sering menjadi kesulitan dalam melakukan hubungan. Maka dengan melibatkan para ahli antropologi seperti Edward Hall, maka peletakan dasar kajian Komunikasi Antar Budaya dilakukan.
Demikian pula untuk Komunikasi Internasional yang juga tidak terlepas dari kebutuhan Amerika dalam menghadapi interaksi yang semakin intens dengan bangsa lain. Maka kajian tentang Komunikasi Internasional menjadi sesuatu yang penting dilakukan. Salah satu yang mempelopori adalah Wilbur Schramm, yang pernah meneliti ketika Perang Korea. Kaitannya dengan komunisme.Tokoh lain dalam komunikasi internasional adalah Hamid Mowlana, Majid Tehranian, dan sebagainya.
Bahwa tema lain yang penting pula adalah dari pada ilmuwan yang memperhatikan kepentingan negara-negara dunia ketiga. Bahwa tema-tema yang berbeda dengan kecenderungan yang dikembangkan dalam pemikiran Barat. Misalkan dapat disimak dari tulisan Majid Tehranian tentang komunitarian, yang memberi arti penting pemimpin komunitas. Demikian pula isu Tata Informasi Dunia Baru. Juga soal komunikasi pembangunan untuk kepentingan proyek modernisasi. Tentu saja dalam konteks komunikasi ini juga dipakai.Kritik terhadap teori modernisasi juga muncul dengan hadirnya teori dependesia.
Maka menarik untuk mencermati bahwa kondisi yang dihadapi masyarakat Indonesia dewasa ini menjadi penting untuk dipertimbangkan untuk konteks kajian ilmu komunikasi. Sejumlah persoalan misalkan transisi menuju demokrasi, konflik politik, pemikiran keagamaan, dan sebagainya. Demikian pula konsumerisme.
Misalkan menjadi penting untuk mengembangkan kajian komunikasi antar personal, terutama untuk kepentingan masalah komunikasi keluarga, resolusi konflik, komunikasi organisasi, dan sebagainya. Demikian juga komunikasi dalam dunia pendidikan, yang sangat kental dengan pendekatan komunikasi antar personal.
Untuk mendekatkan kajian komunikasi untuk kasus-kasus Indonesia menjadi penting untuk memberi apresiasi terhadap karya-karya ilmu sosial yang sudah ada seperti Sartono Kartodirjo, Kuntowijoyo, Kuncaraningrat, dan sebagainya. Upaya untuk mencari landasan untuk konsep komunikasi Indonesia. Juga tradisi kajian tentang Indonesia yang dikerjakan dalam tradisi kolonial baik oleh pejabat kolonial maupun orientalis. Hal ini sebagai pertimbangan mengenai tradisi kajian komunikasi khas Indonesia.
Sebuah contoh fenomena komunikasi di Indonesia adalah soal logika terbalik. Cukup familiar di kalangan pers Indonesia—terutama pada masa orba—bila ada sebuah berita yang isinya bantahan itu faktanya sebaliknya. Ini menarik untuk mengungkapkan tentang budaya komunikasi Indonesia.
Artikel ini bersumber dari link ini
Baca selengkapnya...

Pemasaran dan Komunikasi Politik

0 komentar

KOMUNIKASI Politik (political communication) adalah komunikasi yang melibatkan pesan-pesan politik dan aktor-aktor politik, atau berkaitan dengan kekuasaan, pemerintahan, dan kebijakan pemerintah. Dengan pengertian ini, sebagai sebuah ilmu terapan, komunikasi politik bukanlah hal yang baru. Komunikasi politik juga bisa dipahami sebagai komunikasi antara “yang memerintah” dan “yang diperintah”. Mengkomunikasikan politik tanpa aksi politik yang kongkret sebenarnya telah dilakukan oleh siapa saja: mahasiswa, dosen, tukang ojek, penjaga warung, dan seterusnya. Tak heran jika ada yang menjuluki Komunikasi Politik sebagai neologisme, yakni ilmu yang sebenarnya tak lebih dari istilah belaka. Dalam praktiknya, komuniaksi politik sangat kental dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, dalam aktivitas sehari-hari, tidak satu pun manusia tidak berkomunikasi, dan kadang-kadang sudah terjebak dalam analisis dan kajian komunikasi politik. Berbagai penilaian dan analisis orang awam berkomentar sosal kenaikan BBM, ini merupakan contoh kekentalan komunikasi politik. Sebab, sikap pemerintah untuk menaikkan BBM sudah melalui proses komunikasi politik dengan mendapat persetujuan DPR Konsep, strategi, dan teknik kampanye, propaganda, dan opini publik termasuk dalam kajian bidang ilmu komunikasi politik. Aktor: Komunikator Politik Komunikator Politik pada dasarnya adalah semua orang yang berkomunikasi tentang politik, mulai dari obrolan warung kopi hingga sidang parlemen untuk membahas konstitusi negara. Namun, yang menjadi komunikator utama adalah para pemimpin politik atau pejabat pemerintah karena merekalah yang aktif menciptakan pesan politik untuk kepentingan politis mereka. Mereka adalah pols, yakni politisi yang hidupnya dari manipulasi komunikasi, dan vols, yakni warganegara yang aktif dalam politik secara part timer ataupun sukarela. Komunikator politik utama memainkan peran sosial yang utama, teristimewa dalam proses opini publik. Karl Popper mengemukakan “teori pelopor mengenai opini publik”, yakni opini publik seluruhnya dibangun di sekitar komunikator politik. Komunikator Politik terdiri dari tiga kategori :

Politisi, Profesional, dan Aktivis. Politisi adalah orang yang bercita-cita untuk dan atau memegang jabatan pemerintah, seperti aktivis parpol, anggota parlemen, menteri, dsb.; Profesional adalah orang yang menjadikan komunikasi sebagai nafkah pencahariannya, baik di dalam maupun di luar politik, yang uncul akibat revolusi komunikasi: munculnya media massa lintas batas dan perkembangan sporadis media khusus (majalah internal, radio siaran, dsb.) yang menciptakan publik baru untuk menjadi konsumen informasi dan hiburan. Terdiri dari jurnalis (wartawan, penulis) dan promotor (humas, jurubicara, jurukampanye, dsb.). Aktivis – (a) Jurubicara (spokesman) bagi kepentingan terorganisasi, tidak memegang atau mencita-citakan jabatan pemerintahan, juga bukan profesional dalam komunikasi. Perannya mirip jurnalis. (b) Pemuka pendapat (opinion leader) –orang yang sering dimintai petunjuk dan informasi oleh masyarakat; meneruskan informasi politik dari media massa kepada masyarakat. Misalnya tokoh informal masyarakat kharismatis, atau siapa pun yang dipercaya publik. Proses Komunikasi Politik Proses komunikasi politik sama dengan proses komunikasi pada umumnya (komunikasi tatap muka dan komunikasi bermedia) dengan alur dan komponen :
1. Komunikator/Sender – Pengirim pesan
2. Encoding - Proses penyusunan ide menjadi simbol/pesan
3. Message - Pesan
4. Media – Saluran
5. Decoding - Proses pemecahan/ penerjemahan simbol-simbol
6. Komunikan/Receiver – Penerima pesan
7. Feed Back - Umpan balik, respon.

Saluran Komunikasi Politik :
1. Komunikasi Massa – komunikasi ‘satu-kepada-banyak’, komunikasi melalui media massa.
2. Komunikasi Tatap Muka –dalam rapat umum, konferensi pers, etc.— dan Komunikasi Berperantara –ada perantara antara komunikator dan khalayak seperti TV.
3. Komunikasi Interpersonal – komunikasi ‘satu-kepada-satu’ –e.g. door to door visit, temui publik, etc. atau Komunikasi Berperantara –e.g. pasang sambungan langsung ’hotline’ buat publik.
4. Komunikasi Organisasi – gabungan komunikasi ‘satu-kepada-satu’ dan ‘satu-kepada-banyak’: Komunikasi Tatap Muka e.g. diskusi tatap muka dengan bawahan/staf, etc. dan Komunikasi Berperantara e.g. pengedaran memorandum, sidang, konvensi, buletin, newsletter, lokakarya, etc.

catatan : artikel ini dikutip dari situs ini
Baca selengkapnya...

Senin, 02 Maret 2009

14 Kesalahan Fatal Bisnis Internet

0 komentar

Saya yakin sebagian besar dari anda sudah membaca Very Important Report berjudul “14 Kesalahan Fatal Bisnis Internet“. (Jika belum, silakan download dari pop up yang muncul di homepage FormulaBisnis.com). Sebuah report menarik yang segera menyadarkan kita akan kesalahan-kesalahan fatal yang sering kali dilakukan saat menjalankan bisnis di internet.

Apa saja 14 kesalahan fatal itu?
1. Terlalu banyak belajar.
2. Ketagihan menjajal berbagai ide.
3. Tidak menganggapnya sebagai sebuah bisnis.
4. Menunggu sampai tahu segalanya.
5. Tidak cukup percaya diri.
6. Tidak serius menjalaninya.
7. Mendalami tanpa berbuat apapun.
8. Tanpa tujuan, tanpa rencana.
9. Takut BERTANYA, tersesat selamanya.
10. Melakukan sendiri – TIDAK mencari mentor.
11. Fokus setengah-setengah.
12. Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau.
13. Suka berkhayal dan menunda-nunda.
14. Terlalu mudah menyerah.

Bagaimana komentar anda? Ada pengalaman menarik berkaitan dengan topik di atas? Mari kita diskusikan dan gali lebih dalam di sini. Berikan pengalaman dan masukan anda agar bermanfaat buat kita semua. Baca selengkapnya...

Minggu, 01 Maret 2009

0 komentar

Silakan ambil GRATIS !!!, semoga bermanfaat ..

  • Silabus dan RPP SMP :
  1. TIK : silabus-tik-kelas-vii, silabus-tik-kelas-viii
  2. IPS : silabus-ips-vii


Baca selengkapnya...

Jalinan Teman

Powered By Blogger

Social Bookmarking Submission

DOMAIN GRATIS

 

paksoleh punya blog. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme Modified by Paksoleh | Distributed by Deluxe Templates